Bocah Alami Usus Buntu Hingga Bernanah, Diduga Puskesmas Salah Diagnosis

Kalimantan Timur

Bocah Alami Usus Buntu Hingga Bernanah, Diduga Puskesmas Salah Diagnosis

Muhammad Budi Kurniawan - detikKalimantan
Senin, 27 Jul 2026 17:01 WIB
Ayah korban, Sulung Nugroho saat menunjukkan bukti rekaman video saat di Puskesmas Lempake. (Muhammad Budi Kurniawan/detikKalimantan)
Foto: Ayah korban, Sulung Nugroho saat menunjukkan bukti rekaman video saat di Puskesmas Lempake. (Muhammad Budi Kurniawan/detikKalimantan)
Samarinda -

Seorang bocah berusia 6 tahun di Samarinda harus menjalani operasi usus buntu usai sempat diduga mendapat diagnosis yang keliru dari puskesmas. Orang tua anak tersebut menilai keterlambatan penanganan membuat kondisi anaknya semakin parah hingga usus buntunya pecah.

Ayah korban, Sulung Nugroho, mengatakan mulanya sang anak pertama kali mengeluhkan sakit perut pada Rabu (8/7/2026). Karena keluhan muncul pada malam hari, keluarganya memutuskan membawa anaknya ke Puskesmas Lempake, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar di BPJS.

"Anak saya dibawa ke Puskesmas Lempake. Awalnya diberikan obat. Saya pikir tidak masalah karena mungkin masih pemeriksaan pertama," cerita Sulung kepada awak media, Senin (27/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, beberapa hari kemudian kondisi anaknya tak kunjung membaik. Saat kembali diperiksa, dokter disebut mendiagnosis anaknya mengalami diare dan gangguan lambung. Keluarga diminta kembali apabila kondisi belum membaik.

Karena sakit terus berlanjut, keluarga akhirnya membawa bocah tersebut ke UGD Puskesmas untuk meminta surat rujukan. Setelah surat rujukan dapat digunakan, korban dibawa ke Rumah Sakit Dirgahayu pada Senin (13/7).

"Kenapa tanggal 13 kami ke Rumah Sakit, itu karena tanggal 12 hari libur, jadi setelah dari puskesmas tanggal 11, kami baru dapat surat rujukan di tanggal 13," tambahnya.

Di rumah sakit, dokter menyatakan anak tersebut menderita usus buntu dan kondisinya sudah cukup parah hingga bernanah. Sehari kemudian, bocah itu langsung menjalani operasi.

"Dokternya bilang, 'Kenapa bawanya baru sekarang? Ini sudah mau pecah.' Padahal kami merasa tidak terlambat, karena sejak awal sakit langsung kami periksakan," kata Sulung.

Usai operasi, anak Sulung harus menjalani perawatan intensif di ICU selama hampir sepekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Sulung menduga keterlambatan diagnosis terjadi karena saat pemeriksaan kedua tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium meski kondisi anaknya sudah memburuk.

Menurutnya, sejumlah tenaga medis yang merawat anaknya di rumah sakit menyampaikan kondisi tersebut seharusnya sudah dapat diketahui apabila dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ketika keluhan tidak kunjung membaik.

"Kalau tanggal 11 itu menurut saya harusnya sudah ada pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui sebenarnya sakit apa," ujarnya.

Selain itu, Sulung mengaku baru mengetahui dokter yang menangani anaknya merupakan dokter internship. Ia juga mengaku kecewa karena belum dapat bertemu langsung dengan dokter yang memeriksa anaknya meski telah meminta penjelasan kepada pihak puskesmas.

"Kekecewaan saya kenapa anak saya yang sudah datang dua kali tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar sakit lambung atau justru usus buntu," katanya.

Menurut Sulung, saat pemeriksaan kedua kondisi anaknya sudah sangat lemas, sulit berdiri, tetapi tetap diberikan diagnosis dan obat yang sama tanpa pemeriksaan laboratorium. Ia juga menyebut keluarga yang akhirnya meminta agar anaknya dirujuk ke rumah sakit.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala Puskesmas Lempake Komang Ayu Indah Ardhani memberikan tanggapan singkat terkait persoalan tersebut. Ia menyatakan pelayanan terhadap pasien telah dilakukan sesuai prosedur.

"Saya hanya bisa menyampaikan bahwa kami puskesmas sudah melayani sesuai prosedur," jawabnya singkat.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads