Berawal dari laporan warga soal oknum dokter di Puskesmas Long Layu yang sering telat dan absen, Dinas Kesehatan Nunukan membeberkan tantangan yang dihadapi dokter-dokter di pelosok Kalimantan Utara (Kaltara).
Diakui bahwa keterbatasan di daerah terpencil membuat dokter kurang termotivasi menjalankan tugas. Meski demikian, pihak Dinkes berupaya tak kasih kendor untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat, bahkan yang ada di daerah terpencil sekalipun.
Warga Mengeluh, Ada yang Telat Ditangani
erwakilan warga Long Layu, Satria Barth, menyoroti jam kedatangan dokter yang sering kali baru tiba pukul 10.00 Wita. Padahal antrean pasien dengan kondisi darurat seperti muntah berulang, sakit perut, hingga demam tinggi sudah ada sejak pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mewakili masyarakat meminta pelayanan kesehatan, khusus dokter, ada di tempat. Pasien nungguin dokter yang turun jam 10 pagi," ujar Satria kepada detikKalimantan, Sabtu (24/1/2025).
Satria mengklaim keterlambatan penanganan medis ini berdampak fatal. Ia menyebut ada kasus pasien meninggal dunia saat dirujuk ke RSUD Malinau atau Tarakan karena ketiadaan dokter saat penanganan awal di Puskesmas.
"Ada beberapa pasien yang kirim ke Rumah Sakit Umum Tarakan dan RSUD Malinau meninggal, karena dokter tidak ada di tempat. Masyarakat Krayan butuh dokter yang ramah dan tidak sering telat turun ke Puskesmas," bebernya.
Warga lainnya, Cyntya Barnabas, mengaku pernah berobat karena pusing dan muntah-muntah tetapi tidak mendapatkan pelayanan maksimal. Ia menilai akses dokter seharusnya tak jadi soal, karena rumah dinas dokter berada tepat di belakang Puskesmas.
"Rumah dokter itu kan di belakang Puskesmas, jadi masalah transportasi tidak mungkin. Kemungkinan telat karena cuaca dingin jadi lama bangunnya," ujar Cyntya.
Puskesmas Janji Evaluasi
Kepala UPTD Puskesmas Long Layu, Nervan, membenarkan memang ada masalah kedisiplinan terkait jam kedatangan dokter. Namun, ia membantah isu bahwa dokter sering absen karena ke luar kota.
"Jam pelayanan memang jam 8 sampai jam 4 sore. Cuma kendalanya, dokter memang agak lambat turun. Kenyataannya paling jam 9 atau setengah 9 baru datang. Sudah sempat beberapa kali kami tegur supaya lebih cepat," ungkap Nervan saat dihubungi detikKalimantan, Sabtu (24/1/2026).
Nervan juga membenarkan adanya pasien yang meninggal dunia, tetapi itu terjadi setelah pasien dirujuk dan ditangani di rumah sakit, bukan semata-mata karena ketiadaan dokter di Puskesmas. Nervan menekankan bahwa penanganan pasien dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) meskipun Puskesman mengalami keterbatasan alat.
"Terkait pasien meninggal kita tidak bisa menyalahkan ketidakhadiran dokter. Karena perawat jaga juga selalu koordinasi dengan dokter terkait keadaan pasien. Dokter memutuskan untuk merujuk pasien karena penyakitnya memang tidak bisa ditangani di Puskesmas dengan alat yang terbatas," ungkapnya.
Pihaknya berjanji akan mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan dan memperbaiki pelayanan di rumah sakit.
"Ke depannya kami berjanji Kami berjanji akan melakukan evaluasi kinerja tahunan untuk memperbaiki pelayanan, khususnya dalam mitigasi keterlambatan penanganan pasien gawat darurat ke depannya," tegas Nervan.
Dokter yang Bersangkutan Mau Resign
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Nunukan, Miskia, turut angkat bicara. Ia menegaskan pihaknya menanggapi serius setiap aduan publik demi menjaga mutu pelayanan kesehatan.
"Terkait keluhan yang disampaikan oleh masyarakat Krayan mengenai dugaan tidak disiplinnya dokter di Puskesmas, kami tanggapi serius. Ketersediaan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi warga adalah prioritas utama kami," ujar Miskia kepada detikKalimantan, dikutip Minggu (25/1/2025).
Menurut Miskia, dokter yang kerap dikeluhkan itu merupakan dokter kontrak yang sudah bekerja sejak 2025 lalu. Dokter tersebut sudah mengajukan pengunduran diri, tetapi belum disetujui oleh Dinkes karena belum ada dokter pengganti.
"Sebenarnya beliau sudah mau resign, namun kami minta agar beliau tetap bekerja sampai kami mendapatkan dokter pengganti di Puskesmas Long Layu ini," ujarnya.
Keterbatasan Hambat Diagnosis dan Picu Demotivasi
Miskia mengatakan minimnya infrastruktur di wilayah perbatasan memengaruhi kinerja tenaga medis. Keterbatasan internet, listrik, dan alat medis bisa menghambat diagnosis dan komunikasi, serta menurunkan motivasi.
"Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun fasilitas terbatas, banyak dokter memiliki panggilan jiwa yang kuat untuk melayani masyarakat. Semangat mereka tetap tinggi, sehingga ada saja dokter yang mau mengabdikan diri di daerah terpencil," tuturnya.
Kondisi geografis Puskesmas Long Layu yang berada di daerah terpencil juga menjadi tantangan tersendiri. Hal ini berdampak pada minimnya Sumber Daya Manusia (SDM), terutama tenaga dokter yang berminat mengabdi di sana.
"Puskesmas Long Layu ini merupakan salah satu yang kurang diminati oleh tenaga kesehatan. Ini dibuktikan hampir tiap tahun dibuka formasi dokter, namun tidak ada yang mendaftar," ungkapnya.
Dokter Bersangkutan Tetap Akan Ditegur
Meski memaklumi kondisi sulitnya mencari tenaga medis untuk bertugas di Long Layu maupun wilayah terpencil lainnya, Dinkes Nunukan memastikan aturan tetap ditegakkan. Miskia mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas Long Layu.
"Kami telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas terkait, yang mengonfirmasi bahwa tindakan teguran telah diberikan kepada dokter yang bersangkutan," ujar Miskia.
Dinkes Nunukan berkomitmen untuk mendorong pemerintah agar ke depannya lebih fokus pada pemerataan pembangunan infrastruktur kesehatan di daerah pelosok.
"Dengan menyediakan akses internet yang stabil, pasokan listrik yang cukup, dan alat medis modern, semangat kerja para dokter dapat meningkat dan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Nunukan semakin merata dan terjamin," pungkasnya.
Simak Video "Video: Bermunculan Kasus Kematian Dokter di Program Magang Pemerintah"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
