Dinkes Nunukan Buka Suara Soal Dokter Puskesmas di Krayan Sering Telat

Dinkes Nunukan Buka Suara Soal Dokter Puskesmas di Krayan Sering Telat

Oktavian Balang - detikKalimantan
Minggu, 25 Jan 2026 21:02 WIB
UPTD Puskesmas Long Layu. (dok Istimewa)
Foto: UPTD Puskesmas Long Layu. (dok Istimewa)
Nunukan -

Pelayanan kesehatan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Long Layu, Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi sorotan masyarakat. Warga mengeluhkan kinerja tenaga medis, khususnya dokter umum yang dinilai sering datang terlambat dan jarang berada di tempat saat jam pelayanan.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Nunukan, Miskia, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pihaknya menanggapi serius setiap aduan publik demi menjaga mutu pelayanan kesehatan.

"Terkait keluhan yang disampaikan oleh masyarakat Krayan mengenai dugaan tidak disiplinnya dokter di Puskesmas, kami tanggapi serius. Ketersediaan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi warga adalah prioritas utama kami," ujar Miskia kepada detikKalimantan, dikutip Minggu (25/1/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Miskia menjelaskan kondisi geografis Puskesmas Long Layu yang berada di daerah terpencil akses yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri. Hal ini berdampak pada minimnya Sumber Daya Manusia (SDM), terutama tenaga dokter yang berminat mengabdi di sana.

"Puskesmas Long Layu ini merupakan salah satu yang kurang diminati oleh tenaga kesehatan. Ini dibuktikan hampir tiap tahun dibuka formasi dokter, namun tidak ada yang mendaftar," ungkapnya.

Miskia menambahkan, dokter yang kerap dikeluhkan tersebut merupakan dokter kontrak yang sudah bekerja sejak tahun lalu. Dokter tersebut sudah mengajukan pengunduran diri, tetapi belum diloloskan oleh pihak Dinkes karena belum ada dokter pengganti.

"Sebenarnya beliau sudah mau resign, namun kami minta agar beliau tetap bekerja sampai kami mendapatkan dokter pengganti di Puskesmas Long Layu ini," jelas Miskia.

Meski memaklumi kondisi sulitnya mencari tenaga medis, Dinkes Nunukan memastikan aturan tetap ditegakkan. Miskia mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas setempat.

"Kami telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas terkait, yang mengonfirmasi bahwa tindakan teguran telah diberikan kepada dokter yang bersangkutan," tegasnya.

Miskia mengakui minimnya infrastruktur di wilayah perbatasan dapat mempengaruhi kinerja tenaga medis. Keterbatasan internet, listrik, dan alat medis bisa menghambat diagnosis dan komunikasi, serta menurunkan motivasi.

"Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun fasilitas terbatas, banyak dokter memiliki panggilan jiwa yang kuat untuk melayani masyarakat. Semangat mereka tetap tinggi, sehingga ada saja dokter yang mau mengabdikan diri di daerah terpencil," tuturnya.

Ke depan, Dinkes Nunukan berkomitmen untuk mendorong pemerintah agar lebih fokus pada pemerataan pembangunan infrastruktur kesehatan di pelosok.

"Dengan menyediakan akses internet yang stabil, pasokan listrik yang cukup, dan alat medis modern, semangat kerja para dokter dapat meningkat dan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Nunukan semakin merata dan terjamin," pungkas Miskia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Bermunculan Kasus Kematian Dokter di Program Magang Pemerintah"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads