Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terasa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kualitas udara yang sebelumnya berada dalam kategori baik kini turun menjadi kategori sedang akibat paparan asap dari sejumlah titik kebakaran yang masih terjadi.
Meski kondisi tersebut masih tergolong aman bagi sebagian besar masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mengingatkan bahwa kelompok rentan mulai berisiko mengalami gangguan kesehatan jika terpapar asap dalam waktu yang lama.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan terbaru, Air Quality Index (AQI) di wilayah Kotim berada pada kisaran 51 hingga 100 atau masuk kategori sedang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada kondisi ini udara masih dapat diterima oleh masyarakat secara umum. Namun, ada potensi risiko bagi kelompok sensitif apabila terpapar selama 24 jam," ujarnya, Senin (27/7/2026).
"Kelompok yang dimaksud meliputi balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, hingga penderita penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru kronis. Mereka diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap mulai pekat serta menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar rumah," imbuhnya.
BPBD juga terus melakukan pemantauan kualitas udara seiring meningkatnya kejadian karhutla di Kotim. Data hingga 26 Juli 2026 mencatat terdapat 559 titik panas (hotspot), 93 kejadian kebakaran, dengan total luas lahan terbakar mencapai 192 hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Melihat tren peningkatan tersebut, BPBD kini tengah mengkaji kemungkinan menaikkan status penanganan karhutla dari siaga darurat menjadi tanggap darurat agar penanganan dapat dilakukan lebih maksimal," kata dia.
Selain itu, masyarakat kembali diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas bisa bergerak cepat sebelum api meluas.
"Peran masyarakat sangat penting. Semakin cepat titik api dilaporkan, semakin besar peluang kebakaran bisa dikendalikan," tegas Multazam.
Sementara itu, kekhawatiran mulai dirasakan warga. Mina seorang ibu rumah tangga di Sampit, mengaku aroma asap kini sudah mulai tercium meski kualitas udara masih berada pada level sedang. Kondisi itu membuatnya cemas karena memiliki seorang bayi yang dinilai sangat rentan terhadap paparan asap.
"Sekarang saja bau asapnya sudah mulai menyengat. Saya khawatir kalau kualitas udara semakin memburuk karena di rumah ada bayi kecil. Kami takut kesehatannya terganggu kalau kabut asap makin pekat," tuturnya.
Multazam berharap pemerintah bersama seluruh pihak terkait dapat bergerak cepat memadamkan titik-titik api agar kabut asap tidak semakin meluas dan peristiwa kabut asap parah seperti tahun-tahun sebelumnya tidak kembali terulang.
"Semoga kebakarannya segera bisa diatasi. Jangan sampai kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya terjadi lagi, karena anak-anak dan bayi yang paling rentan terdampak," harapnya.
