Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi tantangan besar. Bukan hanya luasnya area yang terbakar, tetapi juga karena sungai, parit, dan sumber air di sekitar lokasi kebakaran mulai mengering akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat petugas gabungan harus memutar otak agar api tidak terus meluas. Di sejumlah lokasi, strategi yang dilakukan bukan lagi mengandalkan penyemprotan air, melainkan membuat sekat bakar untuk menghambat pergerakan api.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan minimnya ketersediaan air menjadi kendala utama dalam operasi pemadaman, terutama saat dilakukan pada malam hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi malam pemadaman kami upayakan dengan pembuatan sekat batas agar kebakaran tidak meluas. Kendala pemadaman adalah tidak tersedia air dan tidak cukup penerangan," ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, titik-titik karhutla saat ini banyak ditemukan di Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Sebagian besar lokasi berada jauh dari sumber air, sehingga menyulitkan petugas untuk melakukan penyemprotan secara maksimal.
"Kesulitan semakin bertambah karena sebagian lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke dalam tanah sehingga membutuhkan penyiraman berulang agar benar-benar padam," katanya.
Pada Rabu (22/7) malam sekitar pukul 21.09 WIB, kebakaran melanda lahan sekitar satu hektare di Jalan Tidar Raya 3 Gang Langsat 4, Perumahan CMDP, Kelurahan Baamang Tengah. Vegetasi semak belukar, pakis, dan galam yang tumbuh di atas lahan gambut membuat proses pemadaman berlangsung cukup lama.
"Sementara pada Kamis (23/7), BPBD kembali mencatat empat titik kebakaran baru, yakni di Jalan Karya Bersama, Kelurahan Baamang Hulu; Jalan Jenderal Sudirman Km 4,5 seberang Perum Pandawa, Kelurahan Pasir Putih; Jalan Bumi Raya II atau Jalan Walter Hugo dekat permukiman warga; serta Lingkar Selatan Jalan Darul Hijrah, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang," ujarnya.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kotim bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta relawan terus berjibaku mengendalikan kobaran api di seluruh lokasi. Perkembangan penanganan juga telah dilaporkan ke posko tingkat provinsi. Melihat kondisi di lapangan yang semakin berat akibat mengeringnya sumber-sumber air, BPBD berharap dukungan pemadaman melalui udara dapat segera dilakukan kembali.
"Harapannya, pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat bisa dibantu dengan water bombing menggunakan helikopter," kata Multazam.
BPBD juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Di tengah kemarau yang menyebabkan sungai dan parit mengering, potensi kebakaran semakin tinggi dan akan jauh lebih sulit dikendalikan apabila api terlanjur membesar.
