Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat memastikan hingga saat ini belum terjadi lonjakan kasus penyakit yang berkaitan langsung dengan paparan asap karhutla. Hasil pemantauan menunjukkan kondisi kesehatan masyarakat masih relatif terkendali.
Meski begitu, kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat Kabupaten Kotawaringin Barat mulai dikepung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Hardino mengatakan berdasarkan data surveilans kesehatan, tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Influenza Like Illness (ILI) justru mengalami penurunan pada Minggu ke-26 Tahun 2026 dibandingkan Minggu ke-25.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, jumlah kasus ISPA turun dari 364 kasus menjadi 277 kasus atau berkurang sebanyak 87 kasus. Sementara itu, kasus ILI juga turun dari 10 kasus menjadi 7 kasus atau menurun sekitar 30 persen.
"Dari data yang kami miliki sampai saat ini, belum terdapat peningkatan kasus gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla. Namun kami tetap meningkatkan kewaspadaan karena apabila kebakaran terus terjadi dan kualitas udara memburuk, risiko peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan tetap ada. Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan dan segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami gejala," ujar Hardino, Selasa (14/7/2026).
Menurut Hardino, kelompok yang paling berisiko terdampak asap karhutla adalah balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma maupun gangguan paru-paru. Mereka diminta lebih membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara mulai menurun.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan terus memperkuat sistem surveilans penyakit di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Pemantauan kualitas udara juga dilakukan bersama instansi terkait agar dampak kesehatan dapat diantisipasi sejak dini.
"Masyarakat diimbau menggunakan masker saat terjadi kabut asap, mengurangi aktivitas di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan pernapasan lainnya," ujarnya.
Sementara itu, Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Adnan Santana, mengatakan aktivitas karhutla di Kotawaringin Barat sepanjang Januari hingga Juli 2026 masih cukup tinggi sehingga seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan.
"Hingga pertengahan Juli 2026 tercatat 67 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.135,01 hektare. Selain itu, terdeteksi 86 hotspot di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat," kata dia.
Ia mengungkapkan, kejadian karhutla terbanyak berada di Kecamatan Arut Selatan. Sementara luas lahan terbakar terbesar berada di Kecamatan Kumai yang mencapai 62,65 hektare dengan 25 titik kejadian, sehingga menjadi salah satu wilayah yang menjadi fokus penanganan.
"BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, relawan, perusahaan, dan masyarakat terus melakukan patroli terpadu, pemadaman, serta upaya pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas selama musim kemarau," ujarnya.
Pemerintah berharap masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Kolaborasi semua pihak dinilai menjadi kunci menekan karhutla sekaligus mencegah kabut asap yang dapat mengancam kesehatan warga Kotawaringin Barat.
