Kusta masih menjadi salah satu penyakit kulit yang ditemui di negara tropis dan berkembang. Banyak orang yang salah paham tentang penyakit ini. Ada yang menganggap sebagai kutukan, penyakit keturunan, dan kepercayaan yang beredar bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan.
Anggapan yang beredar tentu tidak benar. Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang bisa disembuhkan sepenuhnya bila terdeteksi sejak dini dan penderitanya menjalani pengobatan hingga tuntas.
Kusta nyatanya masih menjadi tantangan di Indonesia. Global Leprosy Update 2023 yang diterbitkan World Health Organization (WHO) mencatat terdapat 182.815 kasus baru kusta di dunia pada tahun 2023. Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan 14.376 kasus baru, setelah India (107.851 kasus) dan Brasil (22.773 kasus). Sementara data dari Kementerian Kesehatan RI melaporkan prevalensi kusta nasional mencapai 0,63 kasus per 10.000 penduduk pada 2023.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa sebenarnya penyakit kusta? Bagaimana penularannya, apa saja gejalanya, dan benarkah penyakit ini bisa disembuhkan?
Mengenal Penyakit Kusta
Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Dyahlokita Swastyastu, M.Med.Sc., Sp.D.V.E seperti dikutip situs resminya, kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.
Bakteri ini terutama menyerang kulit dan saraf tepi, tetapi pada beberapa kasus juga dapat mengenai organ lain seperti mata, mukosa saluran pernapasan bagian atas, dan jaringan tubuh lainnya. Berbeda dengan penyakit infeksi akut, kusta berkembang sangat lambat. Masa inkubasinya bahkan dapat berlangsung selama beberapa tahun sehingga gejalanya sering kali baru muncul ketika kerusakan saraf sudah terjadi.
Karena menyerang saraf, kusta bukan hanya merupakan penyakit kulit. Justru kerusakan saraf inilah yang menjadi penyebab utama munculnya mati rasa, kelemahan otot, hingga kecacatan apabila penderita terlambat mendapatkan pengobatan.
Cara Penularan Kusta
Ada kepercayaan yang berkembang di masyarakat, katanya kusta bisa menular dengan sangat mudah dan cepat. Faktanya, terdapat kondisi khusus bagi kusta agar bisa menular, tidak serta-merta menular langsung.
Menurut dr. Dyahlokita Swastyastu, penularan umumnya terjadi melalui kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita yang belum menjalani pengobatan. Bakteri menyebar melalui percikan cairan dari hidung atau mulut saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Sebaliknya, aktivitas sehari-hari seperti berjabat tangan, duduk bersebelahan, berbagi makanan, menggunakan peralatan makan yang sama, atau berpelukan tidak menyebabkan penularan. Hal inilah yang perlu dipahami masyarakat supaya tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada penderita kusta.
Ciri-ciri dan Gejala Penyakit Kusta
Gejala kusta berkembang secara perlahan sehingga sering kali tidak disadari pada tahap awal. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- Muncul bercak putih, kemerahan, atau kecokelatan pada kulit
- Bercak terasa mati rasa atau mengalami penurunan sensasi saat disentuh
- Timbul benjolan, penebalan, atau bagian kulit yang menonjol
- Penebalan saraf tepi yang dapat diketahui melalui pemeriksaan dokter
- Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki
- Kelemahan otot akibat gangguan fungsi saraf
- Luka pada telapak tangan atau kaki yang sulit sembuh karena penderita tidak merasakan nyeri
Mati rasa ini adalah salah satu ciri khas yang dirasakan penderita kusta. Akibat tidak merasakan sakit, mereka sering mengalami luka berulang tanpa disadari sehingga lama-kelamaan bisa menimbulkan infeksi, kerusakan jaringan, bahkan kecacatan permanen.
Apakah Kusta Bisa Disembuhkan?
Kabar baiknya, kusta bisa disembuhkan. Saat ini pemerintah diketahui menyediakan pengobatan Multidrug Therapy (MDT) secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan. Terapi MDT merupakan kombinasi beberapa jenis antibiotik yang bertujuan membunuh bakteri penyebab kusta sekaligus mencegah terjadinya resistensi obat.
Lama pengobatan bergantung pada jenis kusta yang dialami pasien, yakni sekitar 6 hingga 12 bulan. Selama menjalani terapi, pasien harus meminum obat secara teratur hingga dinyatakan selesai.
Semakin cepat pengobatan dimulai, semakin besar peluang mencegah kerusakan saraf, kelumpuhan, maupun kecacatan yang bersifat permanen. Setelah menjalani terapi MDT sesuai anjuran, penderita tidak lagi menularkan penyakit ini kepada orang lain.
Cara Mencegah Penyakit Kusta
Walaupun sudah ada obatnya, sampai saat ini belum tersedia vaksin khusus untuk mencegah kusta. Maka dari itu, detikers perlu berhati-hati terhadap risiko penularan kusta. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkitnya penyakit ini:
- Mengenali gejala kusta sedini mungkin
- Segera memeriksakan diri apabila muncul bercak kulit yang mati rasa
- Menjalani pengobatan hingga tuntas apabila terdiagnosis kusta
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
- Mendukung anggota keluarga atau kerabat di sekitar yang menjalani pengobatan agar tidak putus terapi
- Menghindari stigma dan diskriminasi terhadap penderita
Itulah dia informasi mengenai kusta, mulai dari penyebab, gejala, cara penularan, hingga cara mencegah penularannya. Semoga bermanfaat!
