Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional 2024 menunjukkan sekitar tiga dari empat orang dewasa di Malaysia rutin mengonsumsi makanan tinggi garam. Para ahli menilai mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang rentan.
Sebab, pola makan di lingkungan universitas identik dengan makanan cepat saji yang murah dan praktis. Rata-rata warga Malaysia mengonsumsi sekitar 7,3 gram garam per hari, jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni kurang dari 5 gram atau sekitar satu sendok teh per hari.
Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Para ahli kesehatan mengingatkan garam menjadi salah satu masalah pola makan yang kerap luput diperhatikan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, banyak orang lebih fokus pada konsumsi gula. Padahal, asupan garam berlebih juga menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
Kesadaran masyarakat terkait kandungan natrium juga masih rendah. Banyak orang tidak menyadari makanan seperti gorengan, mi instan, daging olahan, dan makanan siap saji mengandung garam tinggi.
"Tidak seperti gula, yang seringkali terlihat atau mudah dikaitkan dengan rasa manis, garam cenderung menyatu secara diam-diam ke dalam kebiasaan makan sehari-hari," tulis laporan tersebut, dikutip detikHealth dari Free Malaysia Today.
Natrium sering tersembunyi dalam makanan sehari-hari yang tidak selalu terasa asin. Sumber utamanya berasal dari saus, kuah, sup, mi, makanan olahan, hingga makanan yang dibeli di luar rumah.
Maka dari itu, sejumlah institusi pendidikan mulai mencoba menghadirkan pilihan makanan rendah garam lewat kerja sama dengan vendor makanan, kampanye nutrisi, hingga reformulasi resep.
Tujuannya bukan mengubah budaya makan secara total, melainkan mendorong pilihan yang lebih sehat tanpa mengorbankan rasa dan harga.
Peneliti global kini juga mulai mengembangkan alternatif berupa garam rendah natrium yang sebagian kandungannya diganti kalium, tetapi tetap mempertahankan rasa serupa.
Sejumlah bukti awal menunjukkan pengganti garam tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, bila dikombinasikan dengan strategi pengurangan garam lainnya.
Para ahli menegaskan mengurangi garam tidak harus dilakukan secara ekstrem. Langkah sederhana seperti mengurangi bumbu, memilih makanan rendah natrium, atau mengurangi garam saat memasak dinilai sudah bisa membantu tubuh beradaptasi secara bertahap.
