Walimatussafar Haji: Hukum, Niat yang Benar, dan Tipsnya

Walimatussafar Haji: Hukum, Niat yang Benar, dan Tipsnya

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Rabu, 13 Mei 2026 09:01 WIB
Umat Islam melakukan tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Kamis (23/4/2026). Dalam musim Haji 2026, Indonesia mendapatkan kuota sebanyak 221.000 orang yang terbagi atas 203.320 calon haji reguler (92 persen) dan 17.680 calon haji khusus (8 persen). ANTARA FOTO/Citro Atmoko/sgd/YU
Ilustrasi haji. Foto: ANTARA FOTO/Citro Atmoko
Balikpapan -

Keberangkatan menuju Tanah Suci merupakan perjalanan sakral bagi setiap Muslim yang berkesempatan melaksanakan ibadah haji. Sebelum keberangkatan, ada tradisi yang banyak dilaksanakan calon haji, yakni Walimatussafar.

Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud syukur, silaturahmi, sekaligus momen berpamitan bagi calon jamaah sebelum menempuh perjalanan ibadah yang panjang. Biasanya, keluarga dan tetangga berkumpul untuk mendoakan keselamatan calon haji.

Melalui pembacaan doa dan jamuan makan, Walimatussafar diharapkan dapat memperkuat batin sebelum berangkat. Bagaimana pandangan Islam mengenai Walimatussafar? Simak apa hukum, bagaimana niat yang benar, hingga tipsnya berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukum Walimatussafar dalam Pandangan Islam

Secara historis, tradisi mengantar dan mendoakan orang yang akan bepergian jauh, terutama untuk ibadah, telah memiliki akar dalam sejarah Islam. Dikutip dari NU Jatim, Imam Nawawi menjelaskan fenomena ini melalui keberadaan sebuah tempat di dekat Madinah.

Dalam Syarah An-Nawawi 'alal Muslim, juz 13 halaman 14 dijelaskan: "Adapun Tsaniyyatul Wada', maka ia berada di dekat Madinah. Dinamai demikian karena orang yang keluar dari Madinah diiringi oleh para pengantar sampai ke sana."

Mengenai praktik jamuan makan yang sering kita jumpai di tanah air, Syekh Abdullah Al-Faqih dalam Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah No. 47017 memberikan pandangan yang positif:

"Mengadakan jamuan oleh seorang yang hendak berhaji bagi keluarganya dan orang-orang tercinta sebelum keberangkatannya haji dan setelah kepulangannya adalah sesuatu yang baik dan merupakan kebiasaan yang terpuji. Karena di dalamnya terdapat kegiatan memberi makan, yang dianjurkan dalam Islam, serta menjadi ajakan kepada rasa keakraban dan kasih sayang."

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Majmu': "Disunnahkan mengadakan 'naqi'ah', yaitu makanan yang disiapkan untuk menyambut kedatangan seorang musafir. Istilah ini mencakup makanan yang disediakan oleh musafir yang baru datang maupun yang disiapkan oleh orang lain untuknya."

Walimatussafar dapat dikategorikan sebagai naqi'ah yang hukumnya sunnah, asalkan pelaksanaannya tidak memberatkan jamaah secara finansial maupun fisik.

Dalam madzhab Syafi'i, istilah walimah bersifat luas dan mencakup segala bentuk syukuran atas nikmat Allah. Al-Jaziri dalam Al-Fiqhu 'ala Madzahibil Arba'ah mengutip:

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوا: يُسَنُّ صُنْعُ الطَّعَامِ وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ عِندَ كُلِّ حَادِثِ سُرُورٍ، سَوَاءٌ كَانَ لِلْعُرْسِ أَوْ لِلْخِتَانِ أَوْ لِلْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا ذُكِرَ.

Artinya: "Ulama madzhab Syafi'i berkata, "Disunnahkan membuat makanan dan mengundang orang untuk memakannya pada setiap peristiwa yang membahagiakan, baik itu karena pernikahan, khitan, pulang dari safar, atau selain itu dari hal-hal yang telah disebutkan"."

Meluruskan Niat Walimatussafar

Tanpa niat yang tulus, ibadah seberat apapun bisa kehilangan maknanya. Bagi jamaah haji, menjaga niat dari kontaminasi sifat pamer (riya) atau tujuan duniawi sangatlah krusial.

Dilansir dari NU Online, Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan keras mengenai fenomena pergeseran niat haji di masa depan:

يَأْتِي على النَّاسِ زَمَانٌ يحجُّ أغنياؤهُم للنّزْهَةِ وَأَوْسَاطُهُمْ للتّجَارَةِ وَأَغْلَبُهُمْ للرِّيَاءِ والسُّمْعَةِ وفُقَرَاؤُهُمْ للمَسْأَلَةِ

Artinya, "Akan datang pada manusia suatu masa, di mana orang-orang kaya menunaikan ibadah haji untuk berwisata, orang-orang menengah untuk berdagang, orang-orang pandai untuk mendapatkan pujian dan pamer, dan orang-orang fakir untuk meminta-minta." (HR Anas bin Malik).

Maka niat yang benar adalah memurnikan tujuan hanya untuk menggapai ridha Allah SWT, sebagaimana perintah-Nya:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya, "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (QS Al-Baqarah: 196).

Para ulama seperti Syekh Nawawi Banten dan Syekh Sulaiman al-Bujairami menjelaskan bahwa kata "lillah" (karena Allah) dalam ayat tersebut merupakan isyarat tegas agar jamaah menjauhi keinginan dipuji atau ingin dipanggil dengan gelar sosial tertentu. Membenarkan niat adalah modal pertama dan utama untuk meraih predikat haji yang mabrur.

Tips Melaksanakan Walimatussafar

Terkadang, justru karena menggelar Walimatussafar maupun banyak menerima tamu, calon haji menjadi kelelahan ketika waktunya berangkat ke Tanah Suci. Hal ini yang kerap menjadi masalah, karena perjalanan yang ditempuh sangat panjang, mulai ke embarkasi, penerbangan, hingga perjalanan setelah tiba di bandara Arab Saudi.

Untuk itu, agar Walimatussafar tetap membawa berkah tanpa mengganggu kesiapan fisik, berikut adalah beberapa tips praktis yang dirangkum dari situs Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH):

1. Atur Waktu dengan Bijak

Sebaiknya acara dilaksanakan paling lambat satu minggu sebelum jadwal keberangkatan. Hal ini penting agar jamaah memiliki waktu jeda untuk beristirahat dan tidak mengalami kelelahan ekstrem saat harus berangkat.

2. Edukasi Tamu dan Keluarga

Berikan pengertian kepada kerabat yang berkunjung bahwa jamaah membutuhkan istirahat yang cukup agar dapat melaksanakan rukun haji dengan maksimal di Tanah Suci.

3. Hindari Sikap Berlebihan

Mengingat Walimatussafar bukan merupakan kewajiban ibadah inti, buatlah acara yang sederhana namun khidmat. Hindari rangkaian acara yang berlangsung berhari-hari yang dapat menguras stamina.

4. Jaga Kesehatan Fisik

Di tengah kesibukan, tetaplah rutin melakukan olahraga ringan, menjaga pola makan (kurangi garam, lemak, dan gula), serta memastikan waktu tidur yang cukup.

5. Siapkan Perlindungan Diri

Mengingat cuaca di Tanah Suci yang ekstrem, manfaatkan waktu sebelum berangkat untuk menyiapkan alat pelindung seperti masker dan semprotan air untuk menjaga kelembapan kulit dan pernapasan.

Dengan niat yang lurus dan persiapan yang matang, semoga Walimatussafar menjadi awal yang baik menuju perjalanan ibadah yang mabrur. Wallahu a'lam.




(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads