Kalimantan tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan keindahan budayanya, tetapi juga karena melahirkan sosok-sosok perempuan tangguh yang berperan penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
Masing-masing memiliki cerita yang berbeda, bagaimana cara mereka keberanian, keteguhan, serta semangat juang. Namun dari kisahnya, ada amanat dan warisan berharga yang telah mereka perjuangkan.
Legenda Pahlawan Perempuan dari Tanah Kalimantan
Rimbunnya hutan tropis di Kalimantan menyimpan kisah tentang perjuangan para perempuan yang luar biasa. Berikut kisahnya, dirangkum oleh detikKalimantan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Nyai Balau
Nyai Balau berasal dari Tewah, sebuah wilayah di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah yang dikelilingi sungai dan rimba hijau. Namanya dikenal hingga kini bukan hanya karena legenda kesaktiannya, tetapi juga kisah keberanian dan kebijaksanaannya dalam memperjuangkan keadilan.
Kata balau dalam bahasa Dayak berarti rambut panjang. Nama itu disematkan karena Nyai Balau memiliki rambut hitam legam yang terurai indah hingga ke pinggangnya.
Disadur dari buku Nyai Balau: Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah (2016) karya Tjak Basori, kehidupan damai Nyai Balau berubah menjadi duka ketika satu-satunya anak laki-lakinya tewas secara tragis. Anak yang ia sayangi ditemukan sudah tidak bernyawa, kepalanya dipenggal oleh Antang, seorang pria sombong dan kejam dari wilayah Juking Sopang.
Kematian itu mengguncang Nyai Balau. Ia berduka, tetapi tidak tenggelam dalam kesedihan. Nyai Balau pun bertekad untuk menuntut keadilan bagi anaknya.
Nyai Balau memimpin suaminya dan para prajurit menuju Juking Sopang. Nyai Balau ingin memberi kesempatan kepada Antang untuk meminta maaf dan menegakkan perdamaian secara adat.
Tapi kesombongan Antang membuatnya kembali menyerang. Dalam pertempuran yang sengit, Nyai Balau akhirnya mengerahkan seluruh kesaktiannya. Dengan ayunan terakhir selendang sakti, Antang tewas di tangannya.
Sejak saat itu, Nyai Balau dikenal sebagai wanita sakti nan bijaksana. Ia disegani masyarakat, bukan hanya karena kekuatannya, tetapi juga karena keteguhannya menegakkan nilai-nilai adat dan kemanusiaan. Dalam beberapa versi cerita, Nyai Balau bahkan diangkat menjadi pangkalima, pemimpin perempuan yang dihormati di Tewah.
Kisah Nyai Balau mengandung pesan tentang keteguhan hati seorang ibu, keberanian perempuan, dan kearifan lokal masyarakat Dayak. Nyai Balau menunjukkan bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin, penegak keadilan, dan pembawa kedamaian. Kisah Nyai Balau terus diajarkan dari generasi ke generasi, bahkan diangkat dalam berbagai pagelaran seni dan budaya di Kalimantan Tengah.
2. Ratu Zaleha
Ratu Zaleha adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Selatan yang dikenal karena keberaniannya melawan penjajah Belanda pada masa Perang Banjar. Sebagai seorang wanita, ia telah menunjukkan perjuangan untuk kemerdekaan tidak hanya menjadi tugas kaum pria, tetapi juga melibatkan peran besar dari kaum perempuan.
Ratu Zaleha lahir pada tahun 1880 di Muara Lawung, Kalimantan Selatan. Ia adalah putri Sultan Muhammad Seman, sosok pemimpin yang juga dikenal sebagai pejuang gigih melawan penjajah, serta cucu dari Pangeran Antasari, salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Latar belakang keluarganya yang penuh semangat perjuangan memengaruhi Ratu Zaleha dalam mengambil peran besar di masa perang. Sejak kecil, Ratu Zaleha telah menunjukkan keberanian dan kecerdasan di atas rata-rata.
Ketika Perang Banjar pecah pada pertengahan abad ke-19 yang melibatkan masyarakat Banjar dan suku Dayak melawan Belanda, Ratu Zaleha turut terlibat dalam perjuangan. Perannya sebagai wanita muda di tengah peperangan menjadikannya sebagai sebuah simbol kekuatan.
Salah satu ciri khas perjuangannya adalah kemampuannya menggerakkan perempuan Dayak, seperti Bulan Jihad dan Illen Masidah, untuk ikut serta dalam perlawanan.
Pada tahun 1905, benteng utama para pejuang Banjar di Manawing jatuh ke tangan Belanda. Kondisi semakin sulit setelah Sultan Muhammad Seman gugur dalam pertempuran.
Meski kehilangan pemimpin utamanya, Ratu Zaleha tetap melanjutkan perjuangan, Ia menunjukkan keberanian luar biasa meski situasinya semakin terdesak.
Setelah jatuhnya benteng Manawing dan situasi perang semakin tidak menguntungkan, Ratu Zaleha menghadapi tekanan yang luar biasa dari Belanda. Suaminya, Gusti Muhammad Arsyad, yang juga menjadi salah satu tokoh dalam perang tersebut, menyerah kepada Belanda.
Namun, Ratu Zaleha tetap bertahan dalam perjuangannya meski kesehatannya mulai menurun akibat kondisi perang yang berat. Pada tahun 1906, menyadari kondisi fisiknya yang memburuk dan kesulitan yang dihadapi pasukannya, Ratu Zaleha memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Belanda. Ia kemudian diasingkan ke Bogor, Jawa Barat, bersama keluarganya.
Selama masa pengasingan, Ratu Zaleha tetap dikenang sebagai simbol keberanian dan kegigihan rakyat Banjar dalam melawan penjajah. Setelah beberapa dekade atau pada tahun 1937, Ratu Zaleha kembali ke kampung halamannya di Kalimantan Selatan.
Ia hidup tenang hingga akhir hayatnya pada 24 September 1953. Jenazahnya dimakamkan di kompleks makam raja-raja Banjar di Banjarmasin, sebuah penghormatan atas peran besarnya dalam sejarah perjuangan bangsa.
3. Aminah Syukur
Dari tanah Borneo, ada salah satu tokoh penting pejuang kemerdekaan perempuan di Kalimantan Timur, ialah Aminah Syukur. Perempuan bernama asli Atje Voorstad yang berdarah Indo-Belanda ini, punya perjalanan hidupnya yang jauh dari tanah kelahirannya, Palembang.
Takdir membawanya ke Samarinda. Di kota tepian Mahakam itu, ia menemukan panggilan hidupnya. Setelah memeluk Islam dan menikah dengan pemuka lokal, ia mengganti namanya menjadi Aminah Syukur.
Tahun 1928 menjadi titik penting. Bersama suami keduanya, Mohammad Jacob, Aminah mendirikan Meisje School, sebuah sekolah khusus perempuan di Yacob Steg yang kini dikenal sebagai Jalan Mutiara.
Pada masa kolonial, kesempatan belajar bagi perempuan pribumi hampir tak ada. Aminah menentang batasan itu. Ia percaya bahwa perempuan berhak mendapatkan ilmu setara dengan laki-laki.
Di masa ketika perempuan hanya diharapkan mengurus rumah tangga, Aminah datang dengan pandangan yang berbeda. Ia menggerakkan perubahan melalui ruang kelas. Ia berjalan kaki, mendatangi rumah muridnya, mengajar dengan penuh kesabaran, dan memegang teguh keyakinan bahwa ilmu adalah kunci pembebasan.
Walau fokusnya pada murid perempuan, sekolah ini juga membuka pintu untuk beberapa murid laki-laki. Salah satunya adalah Abdoel Moeis Hassan, keponakan Aminah, yang kelak menjadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan di Kaltim.
Keputusan ini menunjukkan bahwa bagi Aminah, pendidikan adalah hak semua anak, tanpa membedakan gender. Aminah tak hanya mendirikan sekolah, ia kemudian mengajar di berbagai sekolah formal seperti SD Negeri Sungai Pinang, SD Permandian, dan Sekolah Kepandaian Puteri.
Bahkan setelah jam sekolah selesai, ia masih menyempatkan diri mendatangi rumah-rumah muridnya untuk memberi pelajaran tambahan. Rumahnya di Wilhelmina Straat (sekarang Jalan Diponegoro) pun kerap berubah menjadi ruang kelas dadakan.
Di usia yang telah melewati 60 tahun, Aminah tetap aktif mengajar tanpa pernah mengharap imbalan. Baginya, kepuasan datang dari melihat muridnya bisa membaca, menulis, dan menggapai masa depan.
Perjalanan mengajar Aminah dari satu sekolah ke sekolah yang lain dengan jarak yang cukup jauh patut diapresiasi. Ia kemudian akrab disapa anak-anak sebagai 'Nenek Belanda' karena perawakannya yang memang keturunan Belanda.
Kegigihannya membuat Aminah menjadi salah satu tokoh pendidikan paling berpengaruh di Kalimantan Timur. Ia memajukan peradaban perempuan di Kaltim, yang jejaknya masih berbekas di Samarinda.
Nah, itulah tadi kisah-kisah para pahlawan perempuan dari tanah Kalimantan. Saatnya kita melanjutkan jiwa juang dan berani dari para pahlawan.
