Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan sikap tegas terhadap polemik antara Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Arang Limbung 5 di Kubu Raya dan seorang akuntan difabel yang diduga menjadi korban diskriminasi. Kepala SPPG berinisial BWF itu akan dicopot.
Penegasan ini disampaikan Kepala Program MBG Regional Kalbar Agus Kurniawi. Ia memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Ia menyebut persoalan tersebut sudah ditangani secara internal sebelum akhirnya diarahkan ke proses hukum.
"Masalah ini sebelumnya sudah dimediasi. Kami juga sudah melaporkannya ke Dirtauwas. Untuk proses hukum kami serahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian, tergantung dari korban," ujar Agus kepada detikKalimantan, Jumat (17/4/2026).
Agus mengungkapkan upaya mediasi sebenarnya telah dilakukan melalui koordinasi internal. Namun, konflik yang terus berlanjut membuat BGN mengambil langkah lebih tegas dengan mengusulkan pergantian pimpinan di SPPG tersebut.
"Saat ini kami juga sudah ajukan pergantian Kepala SPPG," tegasnya.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa BGN tidak mentoleransi dugaan pelanggaran, terlebih yang menyangkut perlakuan terhadap penyandang disabilitas.
Informasi yang dihimpun di lapangan, korban bernama Nafila Rusliana (23). Ia mengaku masih mengalami trauma berat akibat perlakuan yang diduga dilakukan oleh oknum Kepala SPPG berinisial BWF.
Selama bekerja sekitar enam bulan sebagai akuntan, Nafila mengaku kerap mendapat tekanan, caci maki, hingga penghinaan fisik. Bahkan, ia menyebut sempat diancam akan dibunuh. Nafila juga mengaku mengalami tindakan intimidatif, termasuk perampasan ponsel dan penghapusan bukti percakapan oleh terduga pelaku.
Akibat kejadian itu, Nafila harus menjalani perawatan medis di rumah sakit serta terapi psikologis. Ia bahkan mengonsumsi obat penenang dalam dosis tinggi selama beberapa hari karena kondisi mentalnya terguncang.
Kasus ini kini memasuki babak baru. Nafila bersama tim pendamping dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU), dan sejumlah pihak lainnya telah melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.
Simak Video "Video: Nakes Hina Pasien BPJS yang Curhat Nunggu 8 Jam, Alarm Apa?"
(des/des)