El Nino diperkirakan akan kembali melanda wilayah Indonesia. Meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik memengaruhi pola cuaca termasuk Indonesia.
Dalam beberapa waktu terakhir, istilah El Nino Godzilla semakin marak diperbincangkan. Berbeda dengan El Nino biasa, El Nino Godzilla berintensitas lebih besar dan kuat. Fenomena ini tentu akan berdampak signifikan bagi negara-negara tropis yang sangat bergantung pada kestabilan musim.
Walaupun berada di tengah ancaman El Nino Godzilla, hujan tetap turun di sejumlah wilayah Indonesia. Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, kondisi ini wajar terjadi karena Indonesia masih berada dalam masa pancaroba atau peralihan musim. Selain itu, awal musim kemarau di setiap daerah tidak berlangsung bersamaan sehingga masih ada wilayah yang kerap diguyur hujan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun hujan masih turun, sinyal kemunculan El Nino tetap terlihat. Salah satunya berasal dari peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Kenaikan suhu laut ini dapat mengurangi pembentukan awan di wilayah Indonesia sehingga musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari biasanya, jelas Sonni.
Di sisi lain, BMKG mencatat bahwa hingga akhir Maret 2026 sekitar 7 persen Zona Musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Sebagian besar wilayah lain diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Apa Itu Godzilla El Nino?
Godzilla El Nino sebenarnya bukan istilah umum yang digunakan BMKG. Sebutan ini diperkenalkan oleh ahli klimatologi NASA bernama Bill Patzert untuk menggambarkan peristiwa El Nino 2015-2016 yang sangat kuat.
Julukan "Godzilla" diberikan karena intensitasnya jauh lebih besar dibanding El Nino biasa. Jika El Nino normal ditandai anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah sekitar 0,5 hingga 1,5 derajat Celsius, maka Godzilla El Nino bisa mencapai lebih dari 2,3 derajat Celsius bahkan hingga 3 derajat Celsius.
Menurut Sonni Setiawan, Godzilla El Nino mengacu pada kategori super El Nino, yaitu ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat sekitar 2,5 derajat Celsius atau lebih di atas kondisi El Nino biasa. Fenomena seperti ini umumnya dapat berlangsung hingga satu tahun. Ia juga menjelaskan bahwa kekuatan El Nino saat ini masih berada pada kategori lemah hingga sedang, sehingga belum bisa disebut sebagai Godzilla El Nino.
Proses Terjadinya El Nino
El Nino dan juga La Nina merupakan bagian dari interaksi laut dan atmosfer yang memengaruhi sirkulasi udara tropis. Salah satu mekanisme utamanya adalah perubahan pada Walker Circulation, yaitu sirkulasi udara dari barat ke timur di wilayah tropis.
Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat dan mendorong air hangat ke wilayah Indonesia dan Australia. Namun ketika El Nino terjadi, angin ini melemah atau bahkan berbalik arah. Akibatnya, massa air hangat bergerak ke arah Amerika Selatan dan pusat pembentukan awan hujan bergeser ke tengah Samudra Pasifik.
Kondisi ini berdampak pada wilayah Indonesia yang kehilangan banyak potensi hujan karena pembentukan awan berkurang. Sonni Setiawan juga menjelaskan bahwa El Nino dan La Nina umumnya terjadi setiap 4 hingga 5 tahun sekali sebagai bagian dari siklus alami iklim bumi.
Catatan El Nino di Indonesia
Fenomena super El Nino pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015. Ketiga peristiwa ini dikenal sebagai salah satu El Nino terkuat dalam sejarah.
Pada 1997 dan 2015, Indonesia dilanda kekeringan panjang, kebakaran hutan hebat, dan kabut asap lintas negara. Lahan gambut di Kalimantan dan Sumatra menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga sampai ke Singapura dan Malaysia.
El Nino 2015-2016 juga menyebabkan pemutihan terumbu karang massal di berbagai wilayah dunia karena suhu laut yang terlalu panas. Amerika Selatan dan sebagian wilayah Amerika Serikat juga mengalami banjir bandang dan longsor besar akibat pergeseran pola hujan sebagai dampak dari El Nino.
Sejumlah peneliti mulai mewaspadai kemungkinan munculnya El Nino yang lebih kuat pada 2026. Salah satu alasannya karena suhu permukaan laut di Samudra Pasifik terus meningkat. Selain itu, Sonni Setiawan juga mengaitkan potensi super El Nino dengan aktivitas bintik matahari atau sunspot.
Anomali Suhu Muka Laut April 2026 rilis BMKG yang menunjukkan adanya potensi El Nino. (Dok. BMKG) |
Berdasarkan data sunspot dan curah hujan dari 72 stasiun di Pulau Jawa selama 35 tahun, Sonni menemukan bahwa intensitas El Nino dapat diperkuat oleh aktivitas matahari. Ia menjelaskan bahwa peristiwa Godzilla El Nino cenderung muncul setelah puncak aktivitas sunspot. Karena puncak sunspot diperkirakan terjadi pada 2025, maka ada potensi El Nino yang lebih kuat dapat muncul pada 2026.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa penelitian ini masih membutuhkan data jangka panjang dan cakupan yang lebih luas untuk memastikan hubungan tersebut secara ilmiah. Bahkan beberapa model iklim internasional masih memperkirakan kondisi normal lebih mungkin terjadi dibanding El Nino kuat pada 2026.
Dampak Godzilla El Nino bagi Indonesia
Godzilla El Nino dapat memicu musim kemarau yang lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering. Wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan biasanya berada di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta beberapa wilayah di Kalimantan.
Musdalifah dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) menjelaskan bahwa kekeringan ekstrem akibat El Nino dapat memicu krisis air bersih, gagal panen, dan krisis pangan. Situasi ini semakin rumit karena sistem pangan Indonesia masih sangat bergantung pada impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor sekitar 13.629 ton komoditas pangan pada periode Januari-Maret 2025. Jika produksi pangan dalam negeri turun akibat kekeringan, ketergantungan pada impor dapat semakin meningkat.
Jika melihat tahun 1997-1998, El Nino menyebabkan produksi padi turun sekitar 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara El Nino pada 2024 menyebabkan produksi beras turun hingga 2,28 juta ton pada periode Januari-April, atau sekitar 17,52 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Guru Besar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, tanaman pangan seperti padi dan jagung menjadi komoditas yang paling rentan ketika El Nino terjadi.
Padi dan jagung membutuhkan pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan. Ketika curah hujan menurun dan pasokan air berkurang, pertumbuhan tanaman terganggu dan risiko gagal panen meningkat. Jika kekeringan terjadi setelah proses tanam, biaya produksi yang sudah dikeluarkan petani juga berpotensi tidak kembali.
Karena itu, Bayu menilai komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian menjadi sangat penting. Dengan informasi cuaca yang jelas, petani dapat menentukan waktu tanam, memilih varietas tahan kekeringan, hingga memanfaatkan teknologi seperti pompanisasi dan irigasi tetes.
Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman menghadapi El Nino, termasuk melalui pengembangan varietas tahan kekeringan dan penguatan infrastruktur irigasi. Namun keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada kesiapan petani di lapangan dan dukungan pemerintah hingga tingkat desa.
Makaenghadapi potensi musim kemarau panjang, masyarakat Indonesia sebaiknya mulai menghemat air, menjaga cadangan pangan, dan mengikuti perkembangan terkini BMKG untuk informasi yang lebih update.
Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menambah pemahaman terkait El Nino Godzilla yang diperkirakan akan melanda wilayah Indonesia.
(aau/aau)

