Kalbar-Kalsel Waspada Karhutla Mulai Bulan Juli 2026

Kalbar-Kalsel Waspada Karhutla Mulai Bulan Juli 2026

Kanya Anindita Mutiarasari - detikKalimantan
Kamis, 09 Apr 2026 06:00 WIB
Petugas berupaya memadamkan karhutla di Ogan Ilir
Ilustrasi karhutla. Foto: Dok. BPBD Sumsel
Balikpapan -

Indonesia bakal dilanda musim kemarau lebih panjang di tahun 2026. Potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diprediksi mulai meningkat pada Juli-Agustus di sebagian wilayah Kalimantan.

Dikutip detikNews dari situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga awal April 2026 jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia tercatat mencapai 1.601 titik. Ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Adapun potensi karhutla diprediksi mulai meningkat di wilayah Riau pada bulan Juni, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyebut kondisi iklim pada 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal. Ia menyebutkan adanya indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Ia menyampaikan saat ini kondisi ENSO masih berada pada fase netral. Namun, pada semester kedua 2026, diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50-80 persen.

"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis. Namun, jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," jelasnya.

BMKG menekankan pentingnya mitigasi bencana karhutla dengan persiapan sebagai berikut:

1. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting)

Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.

Saat ini, operasi modifikasi cuaca tengah berlangsung di sejumlah wilayah prioritas dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Di Riau, operasi yang dimulai sejak 28 Maret 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 11 April 2026 telah menunjukkan hasil signifikan.

Sementara itu, operasi di Natuna yang berlangsung pada 1-5 April 2026 juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan curah hujan.

2. Pemantauan dan prediksi iklim secara berkala

3. Pemanfaatan sistem Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, pemantauan hotspot dan sebaran asap, serta prediksi potensi pertumbuhan awan hujan sebagai dasar intervensi di lapangan.

4. Memperkuat diseminasi informasi peringatan dini serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas operasi yang telah dilaksanakan.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads