Sembilan desa di Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, mengalami listrik padam selama empat hari terakhir. Akibatnya, sendi ekonomi warga lumpuh. Bahan pangan khususnya daging membusuk. Anak-anak sekolah juga kesulitan belajar usai libur Lebaran.
Warga menyebut pemadaman berkepanjangan ini terjadi akibat kerusakan mesin pembangkit. Minimnya alat kerja dan sulitnya ketersediaan suku cadang (sparepart) di wilayah pelosok itu menghambat perbaikan.
"Sudah tiga malam ini mati lampu. Bukan teknisi PLN tidak berusaha, tapi mereka terbatas alat. Dampaknya, pelaku ekonomi lumpuh. Selama ini kami sudah beralih dan sangat bergantung pada PLN. Warga kini takut menyalakan genset sendiri karena khawatir bertabrakan arus dengan instalasi PLN," ujar warga bernama Ajang Nyisep kepada detikKalimantan, Selasa (31/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stok daging yang disiapkan warga terancam busuk karena lemari pendingin tidak berfungsi. Selain ekonomi, sektor pendidikan turut menjadi korban. Anak-anak yang baru saja kembali masuk sekolah setelah libur puasa terpaksa harus belajar dalam kondisi gelap.
"Anak-anak mau belajar malam susah. Jalanan pun gelap gulita, aktivitas malam hari terhenti. Kami memohon PLN segera mencari alternatif untuk mengirim teknisi dari luar. Ada banyak opsi penerbangan yang bisa digunakan, baik dari Samarinda, Tarakan, maupun Malinau," tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Camat Kayan Hulu Setim Ala membenarkan terjadinya krisis listrik yang melumpuhkan sembilan desa gabungan di Kayan Hulu dan Kayan Selatan ini.
"Pihak PLN Balikpapan sebenarnya sudah memerintahkan teknisi, dan sepanjang hari kemarin sudah diperbaiki, namun belum juga bisa menyala. Artinya sudah empat hari ini kecamatan kami lumpuh. Masyarakat yang punya usaha penampungan daging, sayur, hingga mebel berhadapan dengan masalah besar karena barang membusuk," jelas Setim Ala melalui Panggilan telepon.
Setim menyoroti mesin yang sudah tua dan tidak adanya suku cadang. Kebutuhan mesin baru semakin mendesak lantaran beban jaringan akan semakin berat. Setim menyebutkan bahwa satu desa di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Long Nawang juga akan segera terkoneksi dengan jaringan PLN tahun ini.
"Harapan kami kepada Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM dan PLN, agar segera menyiapkan mesin yang baru. Mesin yang ada sekarang sering rusak, entah karena sudah terlalu tua atau faktor lain. Semakin banyak beban, risiko kerusakan mesin lama tentu akan semakin tinggi," ujarnya.
Karena itu, Setim menyambut baik informasi dari PLN Pusat terkait rencana survei pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kecamatan Kayan Hulu. Menurutnya, ini adalah solusi paling rasional untuk wilayah perbatasan.
"Jika PLTS ini terbangun, dampaknya akan sangat luar biasa. Listrik bisa beroperasi 24 jam dan kita bisa menghindari ketergantungan pada BBM. Mobilisasi BBM ke perbatasan itu sangat sulit dan mahal. Namun, kami tetap berharap mesin diesel yang ada tetap disiagakan sebagai alternatif (standby) saat musim hujan tiba," pungkasnya.
