Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara) Ingkong Ala melakukan kunjungan ke Rumah Sakit (RS) Pratama Long Ampung, Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau. Ia menyayangkan kondisi fasilitas kesehatan yang berada tepat di wilayah perbatasan Apau Kayan ini.
Dalam kunjungannya pada Selasa (24/3/2026), Ingkong menemukan plafon di area ruang rawat inap sudah rusak parah. Ingkong pun menyoroti tajam kualitas konstruksi bangunan RS tipe D yang rawan ambruk dan mengancam keselamatan pasien ini.
"Ini sangat memprihatinkan. Rumah sakit di wilayah perbatasan seharusnya menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan, tetapi kondisinya belum layak. Terkait plafon yang sudah rusak, ini persoalan teknis konstruksi. Seharusnya tidak terjadi kalau dikerjakan dengan baik sejak awal," tegas Ingkong Ala, Kamis (26/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Plh Kepala Tata Usaha RS Pratama Long Ampung, dr Hendra, turut buka suara soal tantangan yang harus dihadapi para tenaga kesehatan (nakes) di perbatasan negara dengan kondisi geografis yang ekstrem. Ujung tombak layanan hanya ditopang oleh dua dokter tersebut, dibantu 13 perawat dan 5 bidan.
"Bayangkan saja, rumah sakit ini harus melayani pasien 24 jam nonstop dengan hanya mengandalkan dua orang dokter umum. Tidak ada satupun dokter spesialis di sana," jelasnya.
Meski sudah menyandang nama 'Rumah Sakit' sejak 2017, Hendra mengatakan status faskes ini di BPJS Kesehatan masih sebagai FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) atau setara puskesmas. Imbasnya, beban kerja menggunung sementara apresiasi dirasa kurang.
"RS beroperasi 24 jam, sementara jumlah dokter terbatas. Tunjangan masih disamakan dengan puskesmas," ungkapnya.
Hendra juga mengungkap kendala dari segi listrik. Karena jaringan listrik belum masuk, rumah sakit ini hidup murni dari genset dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Hal itu membuat pasokan listrik rumah sakit tidak stabil, padahal ada banyak alat yang membutuhkan daya listrik besar.
"Akibat listrik yang tak stabil, alat-alat kesehatan berharga mahal kerap menjadi korban dan berujung rusak," lanjutnya.
(des/des)
