Manfaat Memaafkan Menurut Sains, Tradisi Saat Lebaran

Manfaat Memaafkan Menurut Sains, Tradisi Saat Lebaran

Cicin Yulianti - detikKalimantan
Minggu, 22 Mar 2026 21:40 WIB
Foto udara warga berjabat tangan usai melaksanakan Shalat Idul Fitri di Desa Darmaraja, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). Tradisi bersalaman massal Lebaran antardusun tersebut dilaksanakan pada perayaan Idul Fitri 1444 H dengan tujuan untuk saling memaafkan dan menjaga tali silahturahim serta memperkokoh kerukunan antarumat beragama. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.
Salaman, tradisi saling memaafkan saat Lebaran/Foto: ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI
Balikpapan -

Lebaran biasanya diisi dengan momentum saling memaafkan satu sama lain. Dalam momen tersebut, muslim dianjurkan ikhlas melepas sakit hati atau dendam akibat kesalahan orang lain.

Meski berat untuk melakukannya, memaafkan ternyata punya manfaat yang besar. Manfaat memaafkan juga telah divalidasi lewat berbagai penelitian sains.

Dalam sebuah makalah di Journal of Experimental Psychology: General oleh Gabriele Fernandez-Miranda, Matthew Stanley, Samuel Murray, Leonard Faul, dan Felipe De Brigard (2025), peneliti-peneliti itu mengungkap manfaat besar dari memaafkan atau pengampunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip detikEdu dari Psychology Today, Stanley dan tim melihat pengaruh pengampunan terhadap ingatan korban atau pelaku kesalahan. Mereka ingin tahu apakah mengampuni akan kembali mengingatkan emosi lama atau membangkitkan kembali luka tersebut?

Peneliti melibatkan peserta yang pernah menjadi korban kesalahan orang lain pada masa lalu. Mereka diminta mengingat peristiwa dari 10 tahun sebelumnya saat mereka menjadi korban.

Sekelompok lain diminta untuk mengingat peristiwa saat mereka menjadi pelaku kesalahan. Kemudian, setengah dari kelompok korban diminta mengingat peristiwa saat mereka memaafkan pelaku.

Lalu setengah lainnya (pelaku kesalahan) juga diminta mengingat masa saat mereka tidak dimaafkan. Setelah itu, mereka menuliskan kalimat tentang ingatan tersebut.

Para peneliti juga meminta peserta menjawab kuesioner yang sudah disiapkan. Kuesioner itu berisi pertanyaan tentang seberapa jelas ingatan mereka soal kejadian dan bagaimana emosi mereka saat mengingatnya lagi.

Hasilnya menunjukkan baik korban maupun pelaku punya ingatan yang cukup baik tentang peristiwa. Korban disebut memiliki ingatan yang lebih jelas daripada pelaku. Korban juga mengingat apa yang mereka rasakan saat dijahati. Namun, mereka merasa tidak terlalu buruk mengingatkan jika ada pengampunan.

Intensitas Emosi Memudar

Para peneliti juga mengungkapkan dampak dari memaafkan. Kaitannya erat dengan intensitas emosi. Pengampunan membuat intensitas emosi akibat luka masa lalu memudar. Selain itu, pengampunan juga menurunkan kecenderungan korban untuk membalas dendam.

Emosi negatif akibat dijahati orang lain, jika dibiarkan, dapat mempersulit seseorang untuk melupakan sesuatu yang buruk. Peneliti yakin pengampunan dapat menjadi langkah untuk membuat kehidupan korban terus berlanjut.

Membuahkan Hal Positif

Kemudian ada penelitian lain soal pengampunan oleh Bob Enright, PhD, seorang psikolog di Universitas Wisconsin, Madison. Selama tiga dekade, ia meneliti soal pengampunan.

Bob menyimpulkan pengampunan adalah langkah lebih jauh dan menawarkan sesuatu yang positif. Seperti bertambahnya empati, kasih sayang, dan pengertian.

Bob menyebut pengampunan adalah suatu kebajikan dan konstruksi yang ampuh dalam psikologi positif. Meski demikian, ia tak menyuruh korban untuk meloloskan pelaku begitu saja.

Pengampunan tak bisa disandingkan dengan hukum dan keadilan. Misalnya, mantan korban pelecehan tidak boleh berdamai dengan pelaku pelecehan yang masih berpotensi berbahaya.

Baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Drone Israel Tembak Warga Sipil Gaza, 10 Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads