Idul Fitri atau Lebaran sangat identik dengan momentum untuk saling memaafkan kesalahan satu sama lain. Dalam momen ini, Muslim dianjurkan untuk ikhlas melepas sakit hati atau dendam akibat kesalahan orang lain.
Walaupun berat untuk melakukannya, memaafkan ternyata punya sederet manfaat besar bagi diri. Manfaat memaafkan juga telah divalidasi lewat berbagai penelitian sains.
Seperti dalam sebuah makalah di Journal of Experimental Psychology: General oleh Gabriele Fernandez-Miranda, Matthew Stanley, Samuel Murray, Leonard Faul, dan Felipe De Brigard (2025), peneliti-peneliti ini mengungkap manfaat besar dari memaafkan atau pengampunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah Memaafkan Menghidupkan Luka Lama?
Mengutip Psychology Today, Stanley dan tim melihat pengaruh pengampunan terhadap ingatan korban atau pelaku kesalahan. Mereka ingin tahu apakah mengampuni akan kembali mengingatkan emosi lama atau membangkitkan kembali luka tersebut?
Peneliti melibatkan peserta yang pernah menjadi korban kesalahan orang lain pada masa lalu. Mereka diminta mengingat peristiwa dari 10 tahun sebelumnya saat mereka menjadi korban.
Sekelompok lain diminta untuk mengingat peristiwa saat mereka menjadi pelaku kesalahan. Kemudian, setengah dari kelompok korban diminta mengingat peristiwa saat mereka memaafkan pelaku.
Setengah lainnya (pelaku kesalahan) juga diminta mengingat masa saat mereka tidak dimaafkan. Setelah itu, mereka menuliskan kalimat tentang ingatan tersebut.
Peneliti juga meminta peserta menjawab kuesioner yang sudah disiapkan. Kuesioner berisi pertanyaan tentang seberapa jelas ingatan mereka soal kejadian dan bagaimana emosi mereka saat mengingatnya lagi.
Hasilnya menunjukkan bahwa baik korban maupun pelaku punya ingatan yang cukup baik tentang peristiwa. Korban disebut memiliki ingatan yang lebih jelas daripada pelaku.
Korban juga mengingat apa yang mereka rasakan saat dijahati. Namun, mereka merasa tidak terlalu buruk mengingatkan jika ada pengampunan.
Dampak Memaafkan: Intensitas Emosi Memudar
Peneliti juga mengungkapkan dampak dari memaafkan. Kaitannya erat dengan intensitas emosi.
Pengampunan membuat intensitas emosi akibat luka masa lalu memudar. Selain itu, pengampunan juga menurunkan kecenderungan korban untuk membalas dendam.
Emosi negatif akibat dijahati orang lain, jika dibiarkan, dapat mempersulit seseorang untuk melupakan sesuatu yang buruk. Peneliti yakin pengampunan dapat menjadi langkah untuk membuat kehidupan korban terus berlanjut.
Memaafkan Membuahkan Hal Positif
Dalam penelitian lain soal pengampunan oleh Bob Enright, PhD, seorang psikolog di Universitas Wisconsin, Madison. Selama tiga dekade, ia meneliti soal pengampunan.
Ia menyimpulkan bahwa pengampunan adalah langkah lebih jauh dan menawarkan sesuatu yang positif. Seperti bertambahnya empati, kasih sayang, dan pengertian.
Menurutnya, pengampunan adalah suatu kebajikan dan konstruksi yang ampuh dalam psikologi positif. Meski demikian, ia tak menyuruh korban untuk meloloskan pelaku begitu saja.
Pengampunan tak bisa disandingkan dengan hukum dan keadilan. Misalnya, mantan korban pelecehan tidak boleh berdamai dengan pelaku pelecehan yang masih berpotensi berbahaya.
(cyu/faz)











































