Gurih Lezat Lemang Bakar, Kuliner Ramadan Khas Pontianak

Gurih Lezat Lemang Bakar, Kuliner Ramadan Khas Pontianak

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Rabu, 11 Mar 2026 20:30 WIB
Lemang yang dijual Iwan di Pasar Juadah Masjid Mujahidin.
Lemang yang dijual Iwan di Pasar Juadah Masjid Mujahidin. Foto: (Istimewa)
Pontianak -

Aroma harum lemang bakar kerap menggoda warga yang melintas di sejumlah sudut Kota Pontianak, terutama saat Ramadan. Kuliner tradisional berbahan dasar beras ketan ini menjadi salah satu makanan khas yang selalu dicari warga Pontianak, baik untuk berbuka puasa maupun disajikan saat Hari Raya Idul Fitri.

Lemang adalah salah satu penganan yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam ruas bambu. Lemang memiliki cita rasa gurih dan tekstur yang lembut pulen.

Lemang dibuat dari beras ketan yang dicampur santan serta bumbu-bumbu. Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang muda sebelum dibakar di atas bara api selama beberapa jam hingga matang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses memasak dengan cara dibakar inilah yang membuat lemang memiliki aroma khas sekaligus rasa yang lebih gurih. Rasanya sangat lezat jika dimakan sewaktu hangat.

Salah satu pembuat lemang di Pontianak Barat, Iwan, telah menekuni usaha tersebut selama lebih dari 40 tahun. Dalam sehari selama Ramadan, ia bisa memproduksi hingga 150 sampai 200 batang lemang.

"Kalau bulan puasa sekitar 150 sampai 200 batang per hari," kata Iwan, belum lama ini.

Mengintip pembuatan lemang di rumah produksi milik Iwan.Mengintip pembuatan lemang di rumah produksi milik Iwan. Foto: (Ocsya Ade CP)

Ia menjelaskan bahan utama pembuatan lemang terdiri dari beras ketan, santan, daun pisang muda, serta bambu khusus yang memiliki ruas panjang dan dinding tipis.

"Bahannya dari bambu, beras ketan, daun pisang muda, santan dan bumbu-bumbu," ujarnya.

Iwan menjelaskan, proses pembuatan lemang dimulai sejak pagi hari. Beras ketan yang sudah dibersihkan kemudian direndam selama 1-2 jam. Bersihkan bagian dalam bambu. Lapisi bagian dalam bambu dengan gulungan daun pisang muda.

Lemang bakar.Lemang bakar. Foto: Diskominfo Kalbar

Kemudian masukkan beras ketan ke dalam bambu hingga 3/4 bagian. Lalu tuangkan santan yang sebelumnya dimasak dengan daun pandan dan tambahan garam ke dalam bambu hingga hampir penuh (melebihi batas ketan).

Bakar lemang di atas bara api dengan posisi bambu miring. Putar bambu secara berkala agar tidak gosong sebelah dan matang merata, biasanya memakan waktu 4-5 jam.

Setelah matang dengan mengeluarkan aromanya harum dan tekstur padat, segera angkat dan dinginkan. Belah bambu, keluarkan lemang, dan potong-potong.

"Proses dimulai sejak jam 6 pagi sampai selesai. Sore (sebelumnya) biasanya kami bersihkan bambu dan isi dengan daun pisang," jelasnya.

Bagi masyarakat Pontianak, kata Iwan, lemang biasanya disajikan dalam berbagai momen kebersamaan. Selain menjadi menu favorit saat berbuka puasa, lemang juga kerap disuguhkan saat Idul Fitri, acara keluarga, hingga pernikahan dan kegiatan adat.

Menurut Iwan, lemang sebenarnya merupakan makanan yang dikenal di berbagai daerah dan suku di Indonesia, meski memiliki perbedaan bumbu dan rempah.

"Di banyak daerah ada, seperti masyarakat Dayak, Bugis, Padang, bahkan Manado. Cuma rempah dan bumbunya saja yang beda-beda," ujarnya.

Lemang bakar.Lemang bakar. Foto: Kemenag Sumbar

Sementara lemang yang ia buat menggunakan bumbu yang cenderung netral agar bisa dinikmati berbagai kalangan. Lemang yang dijual Iwan memiliki beberapa ukuran dengan harga mulai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per batang.

Salah seorang warga Pontianak, Rudi (35), mengaku sering membeli lemang untuk berbuka puasa bersama keluarga. Menurutnya, rasa lemang yang gurih sangat cocok disantap dengan berbagai lauk.

"Rasanya gurih dan pulen. Biasanya kami makan dengan rendang atau lauk lain saat buka puasa," kata Rudi.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya, Siti (42). Ia mengatakan lemang hampir selalu ada di rumahnya saat Lebaran.

"Kalau Lebaran biasanya kami beli lemang. Dimakan dengan opor atau rendang, rasanya memang khas dan jadi tradisi," ujarnya.

Meski harga bahan baku seperti ketan dan santan terus mengalami kenaikan, para pembuat lemang di Pontianak tetap bertahan memproduksi makanan tradisional ini.

Bagi mereka, lemang bukan hanya sekadar kuliner, tetapi juga bagian dari tradisi yang selalu hadir dalam momen kebersamaan masyarakat.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads