Pengemis Bawa Anak di Tarakan Diduga Eksploitasi Anak Berkedok Adopsi

Pengemis Bawa Anak di Tarakan Diduga Eksploitasi Anak Berkedok Adopsi

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 13 Mar 2026 11:01 WIB
Pengemis di Tarakan bawa anak diduga terlibat adopsi ilegal.
Pengemis di Tarakan bawa anak diduga terlibat adopsi ilegal. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Tarakan -

Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Sosial (Dinsos) dan aparat kelurahan setempat tengah menyoroti kasus seorang ibu berinisial R yang kerap mengemis sambil membawa anak di jalanan. Belakangan, muncul dugaan bahwa R terlibat dalam praktik adopsi ilegal hingga indikasi perdagangan anak (trafficking).

Pekerja Sosial (Peksos) Ahli Pertama Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan, Alghi Fari Smith, mengungkapkan bahwa R merupakan klien lama yang kasusnya terus berulang. Berdasarkan rekam jejak yang dikantongi Dinsos, R diketahui kerap menawarkan bayinya kepada orang lain saat dalam kondisi hamil.

"Beliau sempat cerita juga, kalau dalam posisi hamil itu, dia bilang akan kasih bayinya ini ke orang yang mau. Kalau dia tidak melengkapi dokumen untuk proses adopsi, ya ilegal lah itu," tegas Alghi kepada detikKalimantan, Jumat (13/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alghi menambahkan, hingga saat ini Dinsos belum menerima permohonan pendampingan pengangkatan anak secara resmi dari pihak yang menerima bayi R. Hal ini memperkuat dugaan bahwa praktik penyerahan bayi tersebut murni berjalan di luar prosedur hukum.

"Untuk pembuktian apakah ini masuk ranah trafficking atau penjualan anak, tentu harus melalui proses hukum biar nanti aparat penegak hukum yang menilai," imbuh Alghi.

Selain isu adopsi ilegal, Dinsos juga menyoroti kebiasaan R yang kerap terpantau beraktivitas di zona yang dulunya merupakan kawasan rawan narkoba.

"Soal itu, nanti koordinasi sama BNNK ya," bebernya.

Lurah Selumit Pantai, Andi Arfah, mengatakan R telah berpisah dari suaminya dan diperkirakan memiliki 4 hingga 5 orang anak. Dalam melancarkan aksinya, R sengaja membawa anaknya berkeliling di tengah panas terik untuk memancing belas kasihan warga.

"Memang strateginya dia membawa anak tersebut saat mengemis. Tujuannya agar orang peduli kepada dia dan mendapat sumbangan," ujar Andi.

Pihak kelurahan dan RT setempat mengaku kesulitan menyalurkan bantuan sosial resmi karena R selalu hidup nomaden. Ia kerap berpindah-pindah alamat, mulai dari RT 3, RT 12, RT 18, RT 24, hingga RT 28. Gaya hidup berpindah-pindah ini diduga kuat menjadi cara R untuk menyembunyikan aktivitasnya.

"Ketika dia berpindah-pindah, pasti ada sesuatu yang mempengaruhinya. Apakah sekadar malas bekerja dan terbiasa meminta-minta, atau ada kegiatan gelap lain termasuk dugaan penyalahgunaan narkoba. Ini yang masih kita pastikan," jelas Andi.

Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, Andi mendesak agar instansi terkait segera mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan anak-anak R dari jalanan.

"Pemerintah tidak tinggal diam. Harus ada upaya penyelamatan terhadap anak-anaknya ke tempat yang layak. Untuk ibunya, mungkin perlu segera dilaksanakan tes psikologi maupun tes urine untuk memastikan kondisinya," pungkasnya.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads