Sederet Pengalaman Warga Tarakan Dibuat Jengkel Pengemis

Sederet Pengalaman Warga Tarakan Dibuat Jengkel Pengemis

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 23 Jan 2026 18:33 WIB
Pengemis di Tarakan
Pengemis di Tarakan/Foto: Istimewa
Tarakan -

Aksi pengemis di Kota Tarakan, Kalimantan Barat (Kalbar) tak jarang membuat jengkel warga. Berikut sederet pengalaman warga Tarakan saat menghadapi pengemis.

Tak sekadar berharap belas kasihan, terkadang ada seorang ibu yang kerap membawa anak saat mengemis, dinilai sampai mengganggu ketertiban umum. Pelaku usaha di Tarakan, Martina Liu, mengaku kerap mengambil sikap tegas dengan mengusir pengemis, terutama saat kedainya ramai pelanggan.

"Saya langsung usir, apalagi kalau pelanggan lagi rame. Bukan karena saya tega, tapi ini sekaligus edukasi. Kalau kita terus memberi, dia makin malas dan balik lagi ke tempat usaha," ujar Martina kepada detikKalimantan, Kamis (22/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Martina, sikap tegas itu justru mendapat dukungan dari para pelanggannya. Ia menyebut langkah tersebut sejalan dengan imbauan Wali Kota Tarakan yang meminta warga tidak memberikan uang kepada pengemis.

Keresahan juga dirasakan warga perumahan yang mengaku kerap didatangi pengemis dengan modus berpura-pura mencari alamat. Seorang warga menuturkan, pengemis itu memulai aksinya dengan menanyakan sebuah acara fiktif.

"Dia tanya, 'Ini rumah si A kah yang buat acara kemarin?'. Saya bilang tidak kenal, tapi dia tetap ngotot. Banyak omong sampai saya bingung," ujar warga tersebut.

Percakapan panjang itu ternyata berujung permintaan uang. "Tiba-tiba dia bilang, 'ada uangmu kah?'. Peminta-minta tapi dramanya panjang sekali," keluhnya.

Pengalaman lebih mengejutkan dialami warga lainnya, Yuanita. Ia mengaku sudah lama memantau pergerakan seorang ibu pengemis. Dari masih sendiri, hamil, hingga kini membawa dua anak.

"Pernah waktu kami yasinan, dia tiba-tiba datang sama anaknya, langsung duduk dan makan di acara tanpa izin. Kami semua bingung," ungkapnya.

Sementara itu, warga lainnya, Tantri Silabus, mengaku sempat memberi bantuan berupa mi instan dan uang. Ia merasa iba kepada pengemis yang tengah hamil.

"Dia juga minta baju bekas untuk anaknya karena seusia dengan anak saya. Berarti sudah lama minta-minta," katanya.

Aksi pengemis tak hanya terjadi di permukiman, tetapi juga di pusat keramaian. Seorang warga, Yoga Bastian mengaku pernah bertemu pengemis di playground kedai makanan cepat saji. Menurut Yoga, pengemis itu dengan santai meminta-minta kepada pengunjung yang sedang mengantre makanan.

"Begitu tidak ada yang ngasih, kami semua dimakinya," kata Yoga.

Ia juga menyoroti kondisi anak-anak yang dibawa seorang ibu pengemis. "Anaknya pup, mukanya acak-acakan. Tapi ibunya santai saja makan di lantai bawah sambil gendong bayi dengan kondisi yang sama," tuturnya.

Keresahan juga dirasakan Stelea, yang mengaku pernah dimintai uang Rp 15 ribu pada pukul 02.00 waktu setempat. "Dia maksa minta uang buat beli gula. Saya marah, dia malah marah balik. Untung saya sama teman laki-laki," ujarnya kesal.

Selain pengemis, warga juga menyoroti maraknya anak pedagang asongan yang beroperasi hingga larut malam. Dani Atlas menduga anak-anak tersebut dieksploitasi oleh orang tuanya.

"Saya sering lihat orang tuanya antar anak itu ke tempat sepi, sudah jam 10 malam. Itu artinya diizinkan. Biasanya yang kasih uang tamu luar kota, orang Tarakan sekarang sudah mulai teredukasi," katanya.

Hal serupa diungkapkan Benazzir Latu, yang kerap menemui orang tua membawa buku bertuliskan huruf Arab untuk meminta sumbangan. "Saya nasrani, dan kaget ditawari buku Arab. Ibu itu ada di mana-mana, bahkan sering saya temui di Tanjung Selor," ujarnya.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads