Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa. Di 10 hari terakhir ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah karena terdapat malam yang sangat mulia, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Untuk meraih keutamaan tersebut, Rasulullah SAW mencontohkan sejumlah amalan yang dapat dilakukan. Dua di antaranya yang sangat dianjurkan adalah i'tikaf di masjid dan menghidupkan malam dengan berbagai ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir.
I'tikaf menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak doa, serta memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
Bagaimana cara i'tikaf di masjid? Apa niatnya? Dan apakah boleh perempuan beri'tikaf di masjid? Berikut ulasan lengkapnya yang dirangkum dari berbagai sumber.
Pengertian I'tikaf dan Waktu Pelaksanaannya
Secara bahasa, i'tikaf berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Sementara dalam Islam, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.
Selama menjalankan i'tikaf, seorang muslim dianjurkan untuk mengisi waktunya dengan berbagai amalan ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, serta melakukan amal saleh lainnya.
Ibadah i'tikaf sendiri disebutkan dalam Al-Qur'an, salah satunya dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah ayat 125 yang berbunyi:
َإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ
Artinya:
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: 'Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku' dan yang sujud'."
Kasubid Pembelajaran AIK & Kajian Keilmuan Islam Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan Dr. Mujazin, S.Pd., M.A. dalam laman resmi Muhammaidyah menjelaskan bahwa i'tikaf sebenarnya tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadan.
Namun, pelaksanaannya pada bulan Ramadan memiliki keutamaan tersendiri karena pahala ibadah di bulan suci tersebut dilipatgandakan.
Menurutnya, banyak umat Islam mengikuti sunnah Nabi dengan melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan untuk mencari keutamaan malam Lailatul Qadar.
I'tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan
Anjuran untuk melaksanakan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan juga disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Aisyah ra.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya:
"Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa beri'tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri'tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun 'alaih." (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).
Masih menurut Mujazin, i'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk memperoleh pahala yang sangat besar apabila bertepatan dengan malam Lailatul Qadar.
Ia menjelaskan bahwa apabila seseorang melakukan ibadah seperti membaca Al-Qur'an atau salat malam pada malam tersebut, maka pahala yang didapatkan bisa setara dengan ibadah selama lebih dari 80 tahun.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya beribadah pada malam-malam ganjil saja, tetapi juga memaksimalkan ibadah di seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan.
Niat I'tikaf
Dalam pelaksanaan i'tikaf, niat menjadi hal yang sangat penting. Adapun niat i'tikaf cukup dilakukan di dalam hati, tetapi juga boleh diucapkan lewat lisan.
Dikutip dari NU Online, terdapat beberapa lafaz niat i'tikaf yang dijelaskan dalam berbagai kitab fikih. Salah satunya merujuk pada keterangan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj dan Nihayatul Muhtaj. Dalam dua kitab tersebut disebutkan lafaz niat i'tikaf sebagai berikut:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ
Nawaitu an a'takifa fī hādzal masjidi mā dumtu fīh.
Artinya:
"Saya berniat itikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya."
Selain lafaz tersebut, terdapat pula niat i'tikaf lain yang dapat digunakan. Lafaz ini dijelaskan dalam Kitab Al-Majmu'karya Imam An-Nawawi. Berikut bacaan niatnya:
نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى
Nawaitul i'tikāfa fī hādzal masjidi lillāhi ta'ālā.
Artinya:
"Saya berniat i'tikaf di masjid ini karena Allah SWT."
Di samping dua lafaz niat di atas, terdapat pula niat i'tikaf yang dikhususkan bagi seseorang yang melaksanakan i'tikaf karena nazar. Niat ini berbeda dengan niat sebelumnya karena hukumnya tidak lagi sunnah, melainkan menjadi wajib bagi orang yang telah bernazar.
Berikut lafaz niat i'tikaf karena nazar sebagaimana dijelaskan dalam NU Online:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى
Nawaitu an a'takifa fī hādzal masjidi fardhan lillāhi ta'ālā.
Artinya:
"Aku berniat i'tikaf di masjid ini fardhu karena Allah."
Seseorang yang datang ke masjid dengan tujuan beribadah dan berdiam diri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT juga sudah dianggap berniat i'tikaf. Meskipun begitu, apabila niat tersebut diucapkan secara lisan maka tetap sah dan diperbolehkan.
Tata Cara Melaksanakan I'tikaf
I'tikaf dapat dilakukan dengan beberapa langkah sederhana berikut.
1. Berniat i'tikaf di dalam hati
Seseorang yang hendak melaksanakan i'tikaf memulai dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT di masjid.
2. Masuk ke masjid
Setelah berniat, umat Islam masuk ke masjid sebagai tempat untuk melaksanakan i'tikaf.
3. Mengisi waktu dengan ibadah
Selama berada di masjid, waktu dianjurkan diisi dengan berbagai amalan seperti membaca Al-Qur'an, sholat sunnah, berzikir, berdoa, serta kegiatan ibadah lainnya.
4. Menjauhi hal yang tidak bermanfaat
Orang yang sedang i'tikaf sebaiknya menghindari aktivitas yang sia-sia seperti bermain handphone secara berlebihan, banyak mengobrol tanpa tujuan, atau terlalu banyak tidur.
Yang paling utama memang melakukan i'tikaf selama sepuluh hari penuh di masjid. Namun apabila seseorang hanya mampu melakukannya dalam waktu singkat, bahkan hanya beberapa menit, tetap termasuk i'tikaf selama niatnya benar dan diisi dengan ibadah.
Syarat Orang yang Melaksanakan I'tikaf
Syarat i'tikaf sebenarnya cukup sederhana. Seseorang dapat melaksanakan i'tikaf apabila memenuhi beberapa kriteria berikut:
- Beragama Islam
- Sudah baligh
- Berakal sehat
Dengan kata lain, i'tikaf tidak harus dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi. Setiap Muslim dapat melakukannya selama memenuhi syarat di atas.
Hal yang Membatalkan I'tikaf
Terdapat beberapa hal penting yang dapat menyebabkan i'tikaf seseorang menjadi batal. Setidaknya ada lima hal yang membatalkan i'tikaf, yaitu:
- Keluar dari masjid tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat
- Melakukan hubungan suami istri
- Mengalami haid atau nifas
- Kehilangan akal atau tidak sadar
- Murtad dari agama Islam
Karenanya, orang yang sedang melaksanakan i'tikaf dianjurkan untuk menjaga diri dari hal-hal tersebut agar ibadahnya tetap sah.
Ketentuan I'tikaf bagi Perempuan
Karena dilakukan di masjid, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan jika seorang perempuan ingin beri'tikaf.
Apabila di rumah tersedia ruangan khusus yang digunakan untuk salat, maka tempat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berdiam diri dan beribadah sebagaimana i'tikaf.
Sementara itu, perempuan yang ingin i'tikaf di masjid dianjurkan untuk mendapatkan izin dari suami serta menjaga adab selama berada di tempat ibadah.
Hal ini bisa dilakukan dengan berpakaian yang sederhana, tidak menggunakan parfum yang terlalu menyengat, serta menjaga sikap agar tidak menimbulkan fitnah. Seorang perempuan juga dianjurkan untuk tetap memperhatikan kewajiban keluarga seperti memastikan kebutuhan sahur dan berbuka anak di rumah tetap terpenuhi.
Menghidupkan Malam dengan Qiyamul Lail
Selain i'tikaf, amalan lain yang sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan adalah qiyamul lail, yaitu menghidupkan malam dengan berbagai ibadah.
Qiyamul lail bisa detikers lakukan dengan berbagai cara, seperti:
- Sholat tahajud
- Sholat witir
- Membaca Al-Qur'an
- Berzikir dan berdoa
- Memperbanyak istighfar
Dengan memperbanyak ibadah pada malam hari, umat Islam diharapkan dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Yuk manfaatkan 10 malam terakhir Ramadan dengan sebaik mungkin. Melalui i'tikaf dan qiyamul lail, kita dapat meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT, memperbanyak amalan, serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan. Insya Allah.
Simak Video "Video: Berlomba-lomba Meraih Berkah di 10 Malam Terakhir Ramadan"
(aau/aau)