Kesan-kesan Mahasiswi Asal Afrika Menjalani Ramadan di Samarinda

Kesan-kesan Mahasiswi Asal Afrika Menjalani Ramadan di Samarinda

Cicin Yulianti - detikKalimantan
Senin, 09 Mar 2026 11:33 WIB
Mahasiswa asal Afrika di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Mahasiswi asal Afrika di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT)/Foto: Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT)
Samarinda -

Ramadan kerap menghadirkan ragam tradisi dan budaya dari berbagai negara. Di Ramadan kali ini, perbedaan tradisi cukup dirasakan Vanessa Jepkemboi Bett dan Essra Mohammed Osman Abdalla.

Dikutip detikEdu, Vanessa adalah mahasiswi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Ia berasal dari negara Kenya.

Sementara itu, Essra adalah mahasiswa S1 Teknik Informatika asal Sudan. Essra menyebut suasana puasa di Indonesia khususnya Samarinda terasa hidup dan semarak, walaupun tak semeriah di negara asalnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Sudan, kami menghias jalanan dan lingkungan sekitar dengan dekorasi bernuansa Ramadan sebagai pertanda kegembiraan dan semangat menghadapi bulan puasa," tutur Essra dikutip dari laman UMKT, Sabtu (7/3/2026).

Kemudian suasana hangat juga dirasakan Essra dalam hal suhu. Ia menyebut suhu udara di Sudan dan Indonesia relatif sama sehingga haus yang dirasakan selama puasa tak jauh berbeda.

Heran Ada Perbedaan Awal Puasa

Yang terasa baru bagi Essra adalah adanya perbedaan waktu memulai puasa. Ia heran mengapa ada perbedaan waktu memulai puasa antara yang ditetapkan pemerintah dengan organisasi masyarakat.

Essra juga sempat bingung dengan pelaksanaan salat tarawih yang berbeda. Meski demikian, Essra tak menganggapnya sebuah keanehan melainkan hanya perbedaan budaya.

Tradisi Bukber dan Takjil

Ada beberapa tradisi Ramadan yang menurut Essra cukup sama antara Indonesia dan Sudan. Mulai dari menabuh bedug, panggilan sahur, hingga buka bersama.

Namun menurutnya, ada sedikit perbedaan dalam hal bukber di Sudan. Di sana, warga khususnya laki-laki akan menggelar tikar di depan rumah untuk mengundang siapa saja berbuka bersama.

Essra ingin mengenalkan tradisi unik tersebut kepada masyarakat Indonesia. Menurutnya, tradisi tersebut dapat mempererat tali silaturahmi.

Sementara itu, Vanessa sebenarnya tidak melihat perbedaan yang mencolok antara tradisi Ramadan di Indonesia dan Kenya. Terutama dalam hal makanan, ia tak kesulitan memperoleh makanan selama puasa.

"Makanan tetap tersedia, hanya saja tidak sebanyak bulan-bulan biasa," katanya.

Walaupun seorang non-Muslim, tetapi ia sangat mengenal tradisi apa saja yang ada di Kenya selama Ramadan. Sejak menjadi mahasiswa di RI, ia melihat banyak budaya antara kedua negara ini yang berbeda.

Salah satunya istilah takjil yang asing bagi Vanessa. Ia melihat Indonesia memiliki kekayaan kosakata saat Ramadan. Essra dan Vanessa merasa kagum dengan keragaman tradisi Ramadan yang ada di Indonesia. Mereka juga menjadi belajar tentang toleransi dan empati yang lebih tinggi.

Baca selengkapnya di sini.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads