Curhat Mitra Penyedia soal Sulitnya Buat Menu MBG yang Variatif di Tarakan

Curhat Mitra Penyedia soal Sulitnya Buat Menu MBG yang Variatif di Tarakan

Oktavian Balang - detikKalimantan
Rabu, 04 Mar 2026 08:01 WIB
Menu MBG di SMPN 014 Pasir Putih Tarakan. Senin (2/3/2026)
Menu MBG di SMPN 014 Pasir Putih Tarakan, Senin (2/3/2026). Foto: Istimewa
Tarakan -

Ketua Yayasan Hidup Berbagi Kasih sekaligus mitra penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG), Jackson Situmorang buka-bukaan soal kendala di lapangan. Belum lama ini yayasannya sempat disorot gegara viral keluhan soal penggunaan kemasan plastik.

Ia menegaskan bahwa secara prosedur, operasional dapur yang berjumlah sekitar 22 unit di Tarakan sudah berjalan sesuai standar. Namun, ia tak menampik adanya keluhan soal kemasan makanan yang menggunakan plastik kiloan.

"Hanya ada kendala kemasan, kurang kemasan jadi terpaksa menggunakan plastik. Dan itu bukan semuanya. Karena memang keterbatasan bahan-bahan yang ada di Tarakan," ujar Jackson kepada awak media, Selasa (3/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia berharap pemerintah daerah ikut turun tangan memikirkan solusi ketersediaan alat standar dan bahan baku. Menurutnya, kondisi saat ini membuat pihak penyedia harus memutar otak, terutama di masa bulan puasa ini yang ia sebut sebagai fase menu kering.

"Kami sangat bergantung pada ketersediaan komoditas lokal yang terbatas. Kalau ada yang komplain tentang buah pisang, pisang itu memang itu yang ada. Kita kasih anggur, nggak ada. Kita kasih yang lain, nggak ada," ucapnya.

Tak hanya langka, harga bahan baku di pasar lokal Tarakan disebutnya sangat fluktuatif.

"Barang itu dalam satu jam bisa naik harga. Ketika stok mulai habis, pedagang langsung naikkan harga. Sementara barang yang diajukan harganya harus sesuai," tambah Jackson.

Dalam kesempatan tersebut, Jackson juga merinci alokasi dana per porsi untuk menepis isu miring mengenai penyalahgunaan anggaran. Ia menekankan bahwa dana yang dikucurkan tidak semuanya lari ke piring anak, melainkan dibagi untuk operasional dan gaji.

"Saya rincikan, untuk indeks makanan sebesar Rp 8 ribu untuk TK-SD Kelas 3 dan Rp 10 ribu SD Kelas 4 hingga SMA. Selain itu untuk operasional sebesar Rp 3 ribu yang merupakan gaji relawan, gas, air, PDAM, maupun BBM, lalu insentif penyedia sebesar Rp 2 ribu yang merupakan hak mitra untuk fasilitas dapur," kata dia.

"Jadi orang berpikir korupsi, korupsi dari mana? Nggak ada korupsi karena pembagiannya jelas. Bahkan bisa dikatakan sampai 2 tahun baru bisa balik modal. Itu hak para mitra karena sudah memfasilitasi dapur," sambungnya.

Meski terbatas, Jackson mengklaim program ini mulai memberikan dampak ekonomi bagi produsen lokal. Petani buah disebut paling diuntungkan karena hasil tanam mereka cepat terserap. Untuk nelayan, pihaknya mulai meminta pasokan ikan bandeng tanpa duri sesuai standar menu pusat.

"Menu diatur oleh pusat dan ketersediaan bahan lokal. Kami berharap pemerintah mendorong agar bahan lokal lebih siap lagi. Tugas kami kan belanja apa yang diminta dapur," tutupnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads