Wali Murid di Tarakan Keluhkan MBG Ramadan di Medsos, Sekolah Menyesalkan

Wali Murid di Tarakan Keluhkan MBG Ramadan di Medsos, Sekolah Menyesalkan

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 02 Mar 2026 19:30 WIB
Menu MBG di SMPN 014 Pasir Putih Tarakan. Senin (2/3/2026)
Menu MBG di SMPN 014 Pasir Putih Tarakan, Senin (2/3/2026)/Foto: Istimewa
Tarakan -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) kembali menjadi buah bibir. Untuk kedua kalinya, wali murid di SMPN 14 Pasir Putih meluapkan kekecewaannya di media sosial terkait variasi menu yang dianggap seadanya saat Ramadan.

Keluhan terbaru datang dari salah satu orang tua siswa bernama Tafakur Imam (bukan nama sebenarnya). Ia mempertanyakan standar gizi dari menu yang diterima anaknya di sekolah.

"Menu MBG hari ini, di SMP 14 Pasir Putih terdiri dari roti keju dan roti abon, kacang goreng, telur rebus, es kuwu," tulis Tafakur melalui pesan singkat di media sosial, Senin (2/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tafakur juga menyoroti profesionalisme pengelola terkait komposisi gizi. "Tanyakan dulu siapa ahli gizi di MBG, kenapa menunya seperti ini," cetusnya.

Keluhan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada Selasa (24/2), seorang wali murid bernama Rubentinus juga mengeluhkan hal serupa. Kala itu, sang anak menerima paket berisi roti abon, telur rebus, kacang goreng, dan minuman rasa buah.

Rubentinus menaksir biaya menu tersebut berkisar Rp 8.000 hingga Rp 9.000. "Saya cuma minta agar jangan asal-asalan dalam memberikan menu kepada siswa," tegasnya saat itu.

Merespons gaduhnya keluhan tersebut, Bagian Kesiswaan SMPN 14 Tarakan, Agung Setiawan, angkat bicara. Ia menegaskan pihak sekolah telah memberikan informasi detail mengenai rincian anggaran kepada orang tua.

''Terkait nominal, yang sudah ada harganya, Rp 10 ribu bahan baku makanan, Rp 3 ribu untuk biaya oprasional, dan Rp 2 ribu biaya sewa SPPG. Semua sudah terinformasikan dengan baik ke orang tua melalui grub paguyuban,'' ujar Agung kepada detikKalimantan.

Agung menjelaskan perubahan menu menjadi makanan kering seperti roti dan kacang dilakukan karena menyesuaikan kondisi Ramadan, di mana makanan tersebut dibawa pulang oleh siswa untuk berbuka.

''Mungkin karena belum terbiasa ya, karena sebelum puasa menu MBG dalam bentuk nasi dan lauk. Sementara saat ini menu yang disajikan ke siswa berupa makanan kering yang nantinya akan dibawa pulang ke rumah. Saya berharap dari SPPG bisa memberikan menu bervariasi agar siswa kami tidak bosan sehingga makanan diterima siswa, karena banyak siswa kami yangg sengaja tidak mengambil MBG, mubazir,'' tambahnya.

Meski mengklaim sudah sesuai standar, Agung tidak menampik adanya beberapa kendala dari pihak penyedia makanan (SPPG). Ia mengakui pernah menerima laporan soal kualitas makanan yang kurang maksimal.

''Sebelumnya ada laporan telur rebus yang berwarna hitam. Setelah dikonfirmasi, hal itu terjadi karena proses perebusan yang dibarengi dengan pisang. selain itu, Sempat ada item menu (seperti susu) yang tidak ada dalam paket namun tidak digantikan dengan item lain. Namun yang pasti, setiap ada keluhan, sekolah langsung bertindak dan melaporkan ke pihak SPPG. Kami selalu fair menjalankan alur pengaduan," tegas Agung.

Agung menyayangkan sikap orang tua yang memilih memotong kompas dengan langsung melapor ke media sosial. Padahal, sekolah telah menyiapkan jalur pengaduan resmi secara berjenjang bahkan kerap melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa melalui grub WhatsApp sekolah.

"Sebenarnya sekolah sudah punya alur. Jika ada keluhan, orang tua seharusnya melapor ke wali kelas terlebih dahulu. Nanti wali kelas menyampaikan ke perwakilan sekolah (kesiswaan), baru setelah itu kami teruskan ke pihak penyedia atau SPPG (Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi)," jelas Agung.

Sekolah bahkan telah menugaskan tenaga khusus untuk membantu menampung aspirasi tersebut. "Ada tenaga honorer kami, Bapak Suprapto dan Ibu Maya, yang membantu memfasilitasi keluhan tersebut. Kami selalu tindak lanjuti setiap ada laporan," tegasnya.

Menariknya, Agung mengungkapkan selama ini pihak sekolah justru lebih banyak menerima laporan langsung dari para siswa daripada orang tua mereka.

"Jujur, kami malah jarang dapat informasi keluhan langsung dari orang tua. Keluhannya justru sering datang dari anak-anak sendiri. Anak-anak yang tanya langsung, 'Pak, kenapa menunya seperti ini?'," ungkap Agung.

Pihak sekolah merasa kaget karena keluhan yang tidak tersampaikan lewat jalur resmi tiba-tiba viral di media sosial hingga memicu kedatangan pihak kepolisian untuk melakukan konfirmasi.

"Kami akan berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk mencari tahu siapa orang tua yang bersangkutan guna diberikan edukasi. Harusnya laporkan ke sekolah dulu sebelum ke media sosial agar tidak merusak nama baik sekolah," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads