Wamen Stella soal Polemik Alumni LPDP: Beasiswa Negara adalah Utang Budi

Nasional

Wamen Stella soal Polemik Alumni LPDP: Beasiswa Negara adalah Utang Budi

Dwi Rahmawati - detikKalimantan
Minggu, 22 Feb 2026 17:00 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Stella Christie
Foto: PCO
Jakarta -

Pernyataan seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 'cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan' memicu kontroversi. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie ikut angkat bicara mengenai hal ini. Dia kembali menegaskan bahwa beasiswa dari negara merupakan utang.

Dilansir detikNews, Stella mengingatkan kembali mengenai pernyataannya yang juga pernah memicu perdebatan publik. Namun, kasus ini menurutnya menunjukkan bahwa memang pernyataan tersebut benar.

"Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi," kata Stella saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegagalan Pendidikan Moral

Kontroversi alumni LPDP belakangan ini, menurut Stella, menunjukkan adanya kegagalan dalam pendidikan moral. Akhirnya ketika mendapatkan beasiswa, banyak oknum yang hanya menganggapnya fasilitas tanpa ada tanggung jawab di dalamnya.

"Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya," lanjutnya.

Pembatasan Berlebih Berpotensi Menumbuhkan Sikap Sinis

Akan tetapi, Stella berpendapat bahwa memperketat sistem beasiswa melalui pembatasan demi pembatasan belum tentu menjadi solusi. Menurut dia, pembatasan yang terlalu ketat justru akan memicu para penerima beasiswa untuk mencari celah.

"Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban," tegasnya.

Stella menilai penerima beasiswa perlu diberikan kepercayaan untuk dapat mencari cara terbaik memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara, tidak hanya dibatasi pada kewajiban harus kembali setelah pendidikan.

"Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa," ujar Stella.

Stella mencontohkan sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang tetap menunjukkan kontribusi besar bagi Indonesia di luar negeri, bahkan membuka peluang bagi sesama akademisi dari Indonesia. Menurutnya, ada banyak bentuk rasa syukur yang diberikan kepada negara.

"Contoh-contoh baik ini perlu disorot Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, Prof. Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," imbuhnya.

Menumbuhkan Rasa Patriotisme Penerima Beasiswa

Stella membagikan tips bagi penerima beasiswa negara agar memiliki rasa patriotisme. Salah satunya dengan fokus bemanfaat bagi individu-individu yang ada di Tanah Air.

"Pertama, bagi penerima beasiswa negara, fokuslah bagaimana Anda bisa bermanfaat bagi individu-individu di Indonesia, lebih dari untuk institusi yang abstrak. Fokus pada individu akan membuat Anda bernalar dengan lebih tajam," jelasnya.

Bahasa Indonesia juga menjadi poin penting. Menurut Stella, menggunakan bahasa Indonesia ketika di luar negeri merupakan salah satu bentuk kebanggaan terhadap bangsa dan negara.

"Kedua, bagi para orang tua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak," kata Stella.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Alasan LPDP Pangkas Penerima Beasiswa di 2025-2026"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads