Ada yang berbeda di Bandara Yuvai Semaring saat jenazah Capt. Hendrick Lodewyck Adam hendak diberangkatkan. Di tengah suasana duka yang menyelimuti dataran tinggi Krayan, berdiri sebuah karangan bunga yang mendampingi pengantaran jenazah dari Long Bawan menuju Tarakan.
Pantauan detikKalimantan di Bandara Yuvai Semaring, proses serah terima jenazah dilakukan secara khidmat antara pihak pemerintah kecamatan dan unsur Muspika kepada Basarnas pada Jumat (20/2/2026) tepat pukul 11.15 Wita. Momen mengharukan terjadi di sela-sela pemindahan jenazah dari mobil ambulans ke pesawat. Seorang warga Krayan tampak mendekat dan dengan lembut menyelipkan karangan bunga alami tersebut untuk mengantarkan kepergian sang pilot.
Karangan bunga sederhana itu diletakkan tepat di bagian kantong jenazah, menjadi kawan terakhir Capt. Hendrick sebelum meninggalkan tanah Krayan. Tak lama berselang, pada pukul 11.28 Wita, jenazah langsung dimasukkan ke dalam pesawat milik Mission Aviation Fellowship (MAF) untuk diterbangkan menuju Tarakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karangan bunga itu merupakan persembahan dari Masyarakat Adat Dayak Lundayeh Krayan Raya. Berbeda dengan papan bunga plastik yang biasa ditemui di kota-kota besar, penghormatan terakhir untuk sang pilot ini 95 persen terbuat dari bahan-bahan yang diambil langsung dari rahim hutan Borneo.
Budayawan Suku Dayak Lundayeh sekaligus Koordinator Bidang Sosial Budaya Formadat, Ellias Yesaya, menjelaskan pemilihan bahan alami tersebut memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat. Jalinan lingkaran dari rotan dan bunga-bunga hutan segar bukan sekadar estetika, melainkan pesan tentang kefanaan.
"Bahan-bahan alami dan segar ini mengandung makna bahwa kehidupan manusia itu seperti bunga yang indah dan segar. Namun, pada waktunya nanti, ia akan layu dan gugur," ujar Ellias kepada detikKalimantan, Jumat (20/2/2026).
Bagi masyarakat Dayak Lundayeh, Capt. Hendrick telah mekar dengan indah melalui dedikasinya mengirimkan BBM ke wilayah pelosok.
"Kini, saat ia gugur dalam tugas, alam Krayan jugalah yang mengiringi kepergiannya," ungkapnya.
Struktur karangan bunga tersebut didominasi oleh anyaman rotan yang kokoh, melambangkan ikatan kuat antara sang pilot dengan masyarakat Krayan yang dilayaninya selama bertahun-tahun. Hanya ada sedikit sisa bahan non-alami berupa tali pengikat dan pita kertas untuk menuliskan ucapan dukacita.
"Ini adalah tanda penghormatan untuk mengiringi kepergian almarhum sampai di rumah duka. Kami ingin keluarga yang ditinggalkan melihat bahwa di sini, di tanah tempatnya bertugas, almarhum sangat dihormati dan dicintai," tambah Ellias.
Penghormatan budaya ini diberikan bukan tanpa alasan. Capt. Hendrick dikenal sebagai pilot yang sangat berani dan berdedikasi. Di saat cuaca tidak bersahabat dan kabut menutup langit Krayan, raungan mesin pesawatnya tetap terdengar, membawa urat nadi kehidupan bagi masyarakat perbatasan.
Sesaat sebelum kecelakaan maut terjadi, ia masih sempat bersalaman dengan almarhum di terminal bandara. "Hati rasanya hancur. Kami sebagai masyarakat yang sudah dilayani dengan sangat baik, sungguh merasa kehilangan orang baik," pungkasnya.
