Tanah gerak yang terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, mendorong warga setempat untuk mengambil langkah preventif. Sebelum rumah mereka dan bangunan lainnya roboh, warga berinisiatif membongkar bangunan yang paling rawan.
Dilansir detikJateng, warga di RT 07 RW 01 mulai membongkar rumah dan balai RT pada Rabu (11/2). Mereka memindahkan material bangunan ke lokasi yang lebih aman dari tanah gerak.
Slamet Riyadi (47), salah seorang warga, mengaku rumahnya sudah mulai retak pada Senin (9/2) lalu akibat tanah gerak. Kandang kambingnya juga hampir roboh. Menurut Slamet, kondisi rumah dan kandang kambingnya semakin parah karena hujan deras yang turun hingga Selasa (10/2 malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sore sampai pagi semalam hujannya deras sekali. Tadi malam terasa goncangan, rumah bunyi 'pletok-pletok'. Keramik mumbul semua, plafon juga sudah rusak. Kandang ternak tadi malam ambruk. Ini ada sekitar 20 kambing, alhamdulillah bisa dievakuasi," ceritanya.
Slamet tinggal di rumah berukuran 4x10 meter itu bersama istri dan dua anaknya. Setelah kejadian tanah gerak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan bahwa rumah Slamet sudah tidak layak ditempati.
Alih-alih hanya mengungsi, Slamet juga membongkar rumahnya untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah. Harapannya, material-material itu bisa dipakai untuk membangun rumah lagi di tempat yang lebih aman. Untuk saat ini, Slamet dan keluarga mengungsi ke musala.
"Dibongkar ini materialnya akan diamankan untuk membangun lagi. Kita antisipasi kalau ambruk pas hujan lagi terus rusak, tapi kalau ini tadi kerja bakti mandiri warga," tutur Slamet.
"Belum ada keputusan (mau membangun rumah lagi di mana). Tadi Dinas Perkim ke sini. Belum tahu relokasi nanti ke mana," sambungnya.
Slamet juga ingin menghindari kerugian seperti yang terjadi pada rumah lain. Sudah ada empat rumah yang terdampak parah, dua di antaranya sudah roboh. Salah satu pemilik rumah juga memutuskan membongkar rumahnya yang sudah rusak parah.
"Kerugian kalau ditotal mungkin sampai puluhan juta rupiah," kata Slamet.
Sementara itu, Ketua RT 7 RW 1 Joko Sukaryono mengatakan ada 63 kepala keluarga atau 300 jiwa yang rumahnya terdampak tanah gerak. Namun, sejauh ini baru tiga keluarga yang mengungsi.
"Yang ngungsi ada tiga KK. Ada yang di musala, ada juga yang ke rumah saudara. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa," ujar Joko.
Sebagian besar warga kini masih waswas, termasuk mereka sudah mengungsi ke musala seperti Slamet. Warga berharap pemerintah segera memberikan kepastian, terutama terkait relokasi.
"Harapan warga jelas, ingin direlokasi ke tempat yang aman. Ekonomi warga di sini menengah ke bawah, jadi kami berharap ada solusi yang bijak dari pemerintah," tutupnya.
Baca selengkapnya di sini.
