Para Ahli Ungkap Misteri Ratusan Katak Meledak Massal

Sains

Para Ahli Ungkap Misteri Ratusan Katak Meledak Massal

Rachmatunnisa - detikKalimantan
Selasa, 10 Feb 2026 12:59 WIB
Katak hijau
Ilustrasi katak. Foto: Freepik/kuritafsheen77
Balikpapan -

Bayangkan sebuah pemandangan yang tenang di tepi danau di Jerman yang tenang, namun seketika berubah mengagetkan ketika muncuk suara letupan-letupan aneh. Bukan suara petasan, melainkan suara tubuh katak yang meledak.

Fenomena absurd ini terjadi pada April 2005, di distrik Altona di Hamburg, Jerman. Tanpa peringatan, tubuh ratusan katak di sana tiba-tiba membesar secara tidak wajar, lalu pecah berkeping-keping.

Peristiwa pertama kali dilaporkan oleh petugas konservasi setempat. Ia menemukan katak-katak menggembung dua hingga tiga kali ukuran tubuh normalnya sebelum meledak menyebarkan isi perutnya sejauh sekitar satu meter dari titik meledak. Setidaknya ada ratusan hingga lebih dari 1.000 katak mengalami fenomena ini dalam beberapa hari di bulan itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan lapangan yang kemudian dicatat oleh para peneliti, penjelasan yang paling mungkin bukan berasal dari virus atau infeksi yang umum, melainkan interaksi predator dan respons fisiologis yang ekstrem.

"Ini mungkin reaksi pertahanan terhadap serangan burung gagak predator, menyebabkan katak menelan udara dan melebarkan tubuhnya ketika diserang," ujar ahli veteriner setempat Dr Franz Mutschmann, yang terlibat dalam pemeriksaan awal, seperti dikutip dari laporan IFL Science.

Hipotesisnya cukup mengerikan, yakni burung gagak yang cerdas diduga telah belajar cara mematuk tubuh katak secara spesifik untuk mengambil organ lunak favorit mereka, seperti hati. Katak yang terluka secara insting akan melakukan mekanisme pertahanan diri dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menggembungkan tubuh agar terlihat besar dan sulit ditelan.

Namun, tragisnya, karena tubuh mereka sudah berlubang akibat patukan gagak, upaya pertahanan diri ini justru menjadi bumerang. Tekanan udara yang masuk menekan dinding tubuh yang sudah rusak, dan ledakan pun tak terelakkan.

Namun, penjelasan ini tidak sepenuhnya diterima oleh komunitas ilmiah. Banyak ornitolog atau ahli burung menyatakan bahwa teori predator ini belum mendapatkan bukti kuat. Beberapa bagian penelusuran resmi menyimpulkan bahwa fenomena tersebut sampai saat ini belum memiliki penjelasan ilmiah yang memuaskan.

Baca artikel selengkapnya di sini.



(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads