Kalimantan menjadi tempat dari berbagai satwa yang beragam. Salah satu yang unik adalah katak kepala pipih yang sering disebut sebagai jakai oleh masyarakat lokal.
Katak kepala pipih di Kalimantan berbeda dari daerah lainnya, karena hidup tanpa paru-paru. Keunikan ini membuatnya jadi satu-satunya katak yang hidup tanpa paru-paru.
Lantas bagaimana katak ini bernapas? Simak juga klasifikasi, ciri-ciri fisik, hingga kondisi populasinya saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klasifikasi Katak Kepala Pipih Kalimantan
Katak kepala pipih Kalimantan memiliki nama ilmiah Barbourula kalimantanensis. Dari namanya terlihat satwa ini endemik dari Kalimantan.
Dikutip dari Biodiversity Warriors, satwa ini pertama kali dideskripsikan oleh Djoko T Iskandar pada 1978. Secara internasional dikenal sebagai bornean flat-headed frog.
- Kerajaan: Animalia
- Filum: Chordata
- Kelas: Amphibia
- Ordo: Anura
- Famili: Bombinatoridae
- Genus: Barbourula
- Spesies: Barbourula kalimantanensis
Bagaimana Bisa Hidup Tanpa Paru-paru?
Pada umumnya, katak bernapas dengan insang saat masih jadi berudu. Saat dewasa, katak bernapas dengan paru-paru dan kulit.
Sementara katak kepala pipih Kalimantan sudah berevolusi untuk bernapas sepenuhnya melalui kulit yang sangat vaskular dan lembap. Katak ini tidak memiliki glottis atau saluran udara internal, sehingga bergantung pada difusi oksigen melalui permukaan tubuh
Kondisi ini berkaitan dengan tempat hidupnya di lingkungan sungai yang kaya oksigen, dingin, dan berarus deras, sehingga ideal untuk melakukan respirasi kulit
Ciri-ciri Fisik
Adapun ciri-ciri fisik dari katak kepala pipih Kalimantan antara lain sebagai berikut:
- Ukuran tubuh sedang: jantan sekitar 6,6 cm, betina hingga 7,7 cm.
- Kepalanya pipih mendatar dengan moncong lebar dan membundar.
- Tubuh gempal, tungkai depan dan belakang gemuk.
- Memiliki selaput renang penuh hingga ke ujung jari.
- Lubang hidung terletak di ujung moncong dan rata dengan kulit.
- Tidak memiliki celah tekak (glottis) dan paru-paru.
Habitat dan Status Konservasi
Dirangkum dari situs Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut Universitas Palangka Raya (PPIIG UPR) dan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, katak ini hidup di aliran sungai berbatu yang jernih, dingin, dan berarus deras.
Persebaran wilayahnya di hutan hujan Kalimantan, khususnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan Kabupaten Lamandau. Sebarannya sangat terbatas, hanya ditemukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah
Status konservasi Barbourula kalimantanensis tergolong genting (endangered) menurut daftar merah IUCN. Katak ini hanya bisa hidup di sungai yang sangat bersih, dingin, dan berarus deras. Kondisi alam yang menurun bisa membuatnya terancam punah.
(bai/sun)