Provinsi Kalimantan Barat merayakan hari jadinya setiap tanggal 28 Januari. Tahun ini, Kalimantan Barat berulang tahun yang ke-69.
Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk mengenal kembali sejarah berdirinya Kalimantan Barat beserta ikon-ikon khasnya. Provinsi ini memiliki ruang sejarah yang kaya akan jejak peradaban.
Sekilas Sejarah Kalimantan Barat
Kepulauan Karimata, Kalimantan Barat Foto: (Randy/detikTravel) |
Dirangkum dari berbagai sumber, diketahui awalnya, Kalimantan Barat (Kalbar) sempat dikenal dengan sebutan Borneo Barat. Wilayah ini menjadi salah satu jalur perdagangan strategis yang diperebutkan oleh berbagai kekuatan Eropa seperti Belanda, Portugis, Spanyol, dan Inggris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jauh sebelum bangsa-bangsa Barat datang, para pedagang dari Arab dan Tiongkok telah lebih dulu singgah dan melakukan aktivitas niaga di sejumlah kawasan pesisir barat Pulau Borneo.
Pulau Kalimantan terbagi ke dalam tiga wilayah kerajaan induk, yakni Borneo yang berpusat di Brunei, Sukadana atau Tanjungpura, serta Banjarmasin yang dikenal sebagai Bumi Kencana. Tanjung Dato menjadi batas antara mandala Borneo (Brunei) dan mandala Sukadana (Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar menandai perbatasan antara mandala Sukadana dengan mandala Banjarmasin di wilayah Kotawaringin.
Pada masa lalu, sejumlah daerah di Kalimantan Barat dikenal luas, di antaranya Tanjungpura dan Batang Lawai. Lawai digambarkan oleh Tomé Pires sebagai kawasan penghasil intan, dengan jarak tempuh sekitar empat hari pelayaran dari Tanjungpura.
Kalimantan Barat memiliki setidaknya 13 kerajaan yang diakui sebagai daerah berpemerintahan sendiri. Kehadiran Belanda di Kalbar mulai tercatat pada tahun 1598, meskipun pengaruh kolonialisme baru benar-benar menguat pada abad ke-17.
Wilayah Sambas, Sukadana, serta negeri-negeri di Batang Lawai (Sungai Kapuas) pernah berada di bawah pengaruh Kerajaan Banjar. Hubungan dengan bangsa Eropa mulai terjalin pada tahun 1604, ketika Belanda untuk pertama kalinya berdagang dengan Sukadana.
Puluhan wisatawan domestik menaiki kapal wisata di Sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/rwa. Foto: ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG |
Penguasa setempat, Pangeran Adipati Sambas, menjalin persekutuan dengan VOC Belanda pada 1 Oktober 1609 guna memperkuat pertahanan. Serangan tersebut gagal terlaksana akibat badai yang memaksa pasukannya mundur. Selanjutnya, pada tahun 1672, Sultan Banjar secara resmi mengesahkan Raja Sintang sebagai seorang sultan.
Melalui perjanjian 20 Oktober 1756, VOC Belanda berjanji membantu Sultan Banjar Tamjidullah I untuk menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang memisahkan diri, seperti Sanggau, Sintang, dan Lawai (kini Kabupaten Melawi). Sementara itu, wilayah lain berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten, kecuali Sambas.
Pada 26 Maret 1778, Kesultanan Banten menyerahkan Landak dan Sukadana yang mencakup sebagian besar Kalimantan Barat kepada VOC Belanda. Wilayah inilah yang menjadi daerah pertama milik VOC di luar protektorat Sambas.
Pada tahun yang sama, Syarif Abdurrahman Alkadrie yang sebelumnya dilantik di Banjarmasin diakui VOC sebagai Sultan Pontianak pertama. Kemudian pada 1789, Sultan Pontianak dengan dukungan Kongsi Lan Fang atas perintah VOC menduduki Mempawah dan menaklukkan Sanggau.
Peralihan kekuasaan semakin menguat ketika pada 4 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjar menyerahkan wilayah Jelai, Sintang, dan Lawai kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Tahun 1846, daerah jajahan Belanda di Kalimantan memperoleh pemerintahan tersendiri dengan nama Dependensi Borneo.
Pantai barat Borneo dibagi menjadi dua wilayah administratif, yakni Asisten Residen Sambas dan Asisten Residen Pontianak. Divisi Sambas mencakup wilayah dari Tanjung Dato hingga muara Sungai Doeri, sedangkan Divisi Pontianak meliputi daerah Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Simpang, Sukadana, Matan, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, hingga wilayah pedalaman lainnya.
Sebelumnya, berdasarkan Staatsblad van Nederlandisch-Indië tahun 1849 Nomor 40, terdapat 14 daerah di wilayah tersebut yang dimasukkan ke dalam Westerafdeeling van Borneo. Pada tahun 1855, wilayah Sambas secara resmi dijadikan bagian dari Hindia Belanda dengan status sebagai Keresidenan Sambas.
Memasuki abad ke-19, Belanda semakin agresif menerapkan monopoli perdagangan di berbagai kesultanan serta menyebarkan agama Kristen. Situasi ini berubah pada tahun 1942 ketika Jepang memasuki Kalimantan Barat dengan merebut Kota Pelabuhan Pemangkat tanpa perlawanan berarti dari pihak Belanda.
Pada mulanya, masyarakat Kalbar menyambut kedatangan Jepang karena sikap baik yang ditunjukkan pada masa malaise. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintahan Jepang mulai menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat, disertai tindakan kekerasan dan penindasan. Kondisi tersebut mendorong sejumlah tokoh pergerakan untuk menyusun upaya perlawanan terhadap pendudukan Jepang.
Singkat cerita, Indonesia akhirnya dapat merdeka. Pada 24 Mei 1950, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Serikat menetapkan Kalimantan Barat berada di bawah pemerintahan RIS, sehingga status Daerah Istimewa Kalimantan Barat menjadi bagian dari federasi.
Status ini berlangsung hingga pembubaran RIS pada 19 Agustus 1950. Kemudian, melalui Undang-Undang Darurat Nomor 2 Tahun 1953, Kalimantan Barat ditetapkan sebagai provinsi administratif yang bersifat otonom.
Akhirnya, pada 1 Januari 1957, Kalimantan Barat resmi berdiri sebagai provinsi tersendiri di Pulau Kalimantan berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 tertanggal 7 Desember 1956. Undang-Undang ini secara resmi membentuk tiga daerah otonom provinsi di Pulau Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Lambang dan Ikon Kalimantan Barat
Peta Pulau Kalimantan Foto: dok Google Maps |
Dirangkum dari instagram Provinsi Kalimantan Barat, luas provinsi ini ±147.307 km² dan menjadi provinsi terbesar kedua di Indonesia, setelah Kalimantan Tengah. Kabupaten terluas di provinsi Kalbar adalah Kapuas Hulu, yang mencakup wilayah seluas 31.318,25 km².
Adapun batas wilayahnya terbagi menjadi bagian Barat berbatasan dengan Selat Karimata; bagian Utara berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur) dan Provinsi Kalimantan Timur; bagian Selatan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah serta Laut Jawa; dan bagian Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Lambang Kalbar. (Pemprov Kalbar) |
Kalbar memiliki lambang berbentuk perisai bersudut lima yang bermakna Pancasila. Di dalamnya terdapat simbol perisai segi enam, mandau, keris, garis melintang di tengahnya, kobaran api dalam tungku, dan padi dan kapas.
Perisai, mandau, dan keris melambangkan pusaka sekaligus warisan budaya leluhur masyarakat. Garis horizontal yang terletak di bagian tengah menjadi simbol garis khatulistiwa yang melintasi wilayah Kalimantan Barat.
Sementara itu, nyala api di dalam tungku mencerminkan semangat perjuangan yang terus menyala dan tidak pernah padam. Ikatan padi dan kapas dengan pita bersudut empat menggambarkan kemakmuran yang dilandasi semangat Catur Karsa yakni kesungguhan, kejujuran, gotong royong, dan kekeluargaan.
Pada bagian tengah bawah terdapat pita berwarna putih dengan semboyan "Akçaya" yang berasal dari bahasa Sanskerta, bermakna "Tak Pernah Binasa". Makna semboyan mencerminkan semangat ketahanan dan keberlanjutan, menegaskan tekad untuk terus eksis dan berkembang.
Jumlah unsur pada lambang tersebut juga sarat makna. Kapas berjumlah 17, nyala api berjumlah 8, dan padi berjumlah 45, yang secara keseluruhan melambangkan tanggal kelahiran Republik Indonesia.
Tugu Khatulistiwa dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai penanda titik nol derajat garis khatulistiwa. Yuk, lihat lebih dekat. Foto: Rifkianto Nugroho |
Kalbar dikenal sebagai provinsi yang kaya akan budaya serta alam dan wisatanya. Beberapa hal yang menjadi ikon provinsi ini ialah Tugu Khatulistiwa, salah satu ikon geografis dan historis penting di Indonesia. Terletak di Kota Pontianak, tugu ini menandai titik lintang nol derajat atau garis khatulistiwa yang merupakan garis imajiner pembelah bumi belahan utara dan selatan.
Selain itu ada Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), yaitu kawasan konservasi lahan basah terbesar di Indonesia. Luasnya yang sekitar 127 ribu hektare membuatnya menjadi danau terbesar di Kalimantan. Danau tersebut menjadi habitat satu-satunya lutung borneo atau lebih sering disebut langur borneo. Primata ini merupakan salah satu yang paling langka dan terancam punah di dunia.
Adapula ikon budaya di Kalbar yakni Rumah Radakng Pontianak. Rumah Radakng merupakan rumah adat masyarakat Dayak Kanayatn di Kalbar, sementara replikanya terletak di Jalan Sutan Syahrir, Kota Pontianak. Replika itu menjadi rumah adat terbesar dan terpanjang di Indonesia, dengan panjang 138 meter dan tinggi 7 meter serta terbagi sekitar 50 ruangan.





