Akhir Damai Wisatawan dan Pengelola yang Cekcok di Sungai Bidadari Tarakan

Akhir Damai Wisatawan dan Pengelola yang Cekcok di Sungai Bidadari Tarakan

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 05 Jan 2026 19:30 WIB
Akhir Damai Wisatawan dan Pengelola yang Cekcok di Sungai Bidadari Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Foto: Akhir Damai Wisatawan dan Pengelola yang Cekcok di Sungai Bidadari Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Tarakan -

Video keributan di objek wisata Sungai Bidadari, Kelurahan Juata Kerikil, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, sempat viral di media sosial. Video tersebut mulanya diunggah akun instagram media lokal @kaltara_a1.

Dinarasikan salah satu pengunjung mengaku rombongannya yang berjumlah sekitar 15 orang dikenakan biaya masuk sebesar Rp 85 ribu, meski menurut perhitungan awal tarif seharusnya hanya Rp 4 ribu per orang.

"Pengunjung tersebut menyebut telah berupaya menjelaskan jumlah anggota rombongan secara rinci agar biaya dihitung sesuai ketentuan. Namun, upaya tersebut justru memicu perdebatan dengan pihak pengelola di lokasi. Situasi disebut semakin memanas setelah muncul ucapan bernada ancaman," tulis narasi dalam video.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikonfirmasi oleh detikKalimantan pada Senin (5/1/2026), Kapolsek Tarakan Utara, Iptu Ghazy Prima Daffa Ohoirat meluruskan kejadian tersebut. Ia memastikan dugaan intimidasi fisik atau pencekikan tidak benar.

Ghazy mengatakan bahwa menurut keterangan yang diperoleh, insiden teriakan tersebut dipicu oleh kesalahpahaman saat mertua pengelola tiba-tiba mengalami kerasukan.

"Itu kesalahpahaman. Mertua pengelola saat itu tiba-tiba kerasukan atau kemasukan, jadi berteriak-teriak histeris, bukan berniat mencekik pengunjung. Tidak ada sentuhan fisik sama sekali," kata Ghazy saat ditemui detikKalimantan di Polsek Tarakan Utara.

Keributan bermula dari ketidakcocokan hitungan tarif masuk. Pengelola wisata, Agustina, menjelaskan rombongan tersebut terdiri dari 18 orang dengan satu mobil pikap dan dua motor.

Pihaknya menetapkan tarif Rp 4 ribu per orang ditambah biaya parkir, sehingga totalnya mencapai Rp 85 ribu. Ghazy mengatakan pengelola dan wisatawan telah sepakat berdamai setelah dimediasi oleh Polsek Tarakan Utara pada Minggu (5/1/2026).

"Jadi, pengunjung merasa hitungan tersebut tidak sesuai dan hanya menyanggupi membayar sekitar Rp 64.000. Uang itu pun akhirnya dikembalikan oleh pengelola kepada pengunjung sebelum mereka pulang," ucap Ghazy.

"Pengelola mengaku bersalah karena penagihan uang dianggap berlebihan dan tidak jelas, sehingga membuat pengunjung tersinggung. Di sisi lain, pengunjung juga meminta maaf karena telah memviralkan kejadian ini," tambahnya.

Ghazy menyebut pihaknya telah memfasilitasi mediasi antara pengelola wisata, Agustina, dan pengunjung bernama Navita Dewi. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan tertulis yang ditandatangani kedua pihak di atas meterai.

"Sudah clear, kedua belah pihak sepakat berdamai. Kesepakatan ini juga dituangkan dalam surat perjanjian atau surat pernyataan bersama," ujarnya.

Dalam surat pernyataan tersebut, terdapat beberapa poin yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk mengakhiri perselisihan. Terdapat pula sejumlah kesepakatan yang telah disetujui pihak pengelola dan pengunjung.

"Pihak pengunjung bersedia menghapus video keluhan yang sempat viral di media sosial demi menjaga nama baik dan kondusivitas. Kedua pihak sepakat tidak akan saling menuntut di kemudian hari, baik secara hukum maupun materi," ucap Ghazy.

Pihaknya pun meminta pengelola Sungai Bidadari untuk segera berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Tarakan. Hal ini penting agar tarif retribusi dan tiket masuk memiliki dasar hukum yang jelas dan tidak dianggap sebagai pungutan liar (pungli).

"Pengelola bersedia berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata ke depannya agar pengelolaan lebih resmi, ada tiket yang jelas, dan tidak menimbulkan persepsi premanisme di masyarakat," tutup Ghazy.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads