Jika diperhatikan, rumah yang lama tak ditinggali sering kali tampak menyeramkan, kusam, dan bahkan mulai rusak di beberapa bagian. Ternyata anggapan bahwa rumah kosong cepat rusak bukanlah mitos belaka. Fenomena ini benar-benar bisa dijelaskan secara ilmiah, mulai mulai dari faktor perawatan, material bangunan, hingga sirkulasi udara.
Rumah yang setiap hari dihuni umumnya terlihat lebih hidup dan terawat. Dindingnya bersih, catnya masih segar, halaman tertata rapi, dan udara di dalamnya terasa lebih sehat. Sebaliknya, rumah yang dibiarkan kosong selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, perlahan kehilangan pesonanya. Cat mulai mengelupas, dinding berjamur, dan atap bocor di sana-sini.
Tak Ada Penghuni, Tak Ada Perawatan
Menurut kontraktor sekaligus CEO SobatBangun, Taufiq Hidayat, hal utama yang membuat rumah kosong mudah rusak adalah karena tidak adanya perawatan. Rumah, sama seperti tubuh manusia, membutuhkan perhatian rutin agar tetap sehat dan kuat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu faktor maintenance, ya, perawatan rumah. Nah, perawatan rumah itu ada hubungannya dengan rumah itu bakal awet apa nggak, rusak apa nggak," jelas Taufiq, dikutip dari detikProperti.
Ia menambahkan, rumah yang ditinggali akan lebih cepat mendapatkan penanganan bila ada kerusakan kecil, seperti kebocoran atap, keramik retak, atau dinding lembap. Sebaliknya, pada rumah kosong, tidak ada yang menyadari kerusakan tersebut sejak awal. Akibatnya, masalah kecil yang dibiarkan akan membesar dan merusak bagian lain dari struktur bangunan.
Material Bangunan Juga Menentukan
Selain faktor perawatan, kualitas material bangunan turut memengaruhi daya tahan rumah. Penggunaan bahan bangunan yang berkualitas baik membuat struktur lebih kuat, cat lebih tahan lama, dan dinding tidak mudah lembap.
Sebaliknya, rumah yang dibangun dengan material seadanya akan menunjukkan kerusakan lebih cepat, apalagi jika dibiarkan tanpa penghuni. Cat bisa pudar dan mengelupas, tembok berjamur, kusen kayu lapuk, hingga ubin retak karena pemasangannya tidak presisi.
"Tapi kalau ada yang berhubungan dengan struktur, mau dihuni atau nggak, kalau strukturnya nggak kuat, ya tetap aja rusak," tambah Taufiq.
Sirkulasi Udara Buruk Bikin Rumah Lembap
Faktor lain yang sering diabaikan adalah sirkulasi udara. Rumah yang tidak dihuni biasanya selalu tertutup rapat, jendela jarang dibuka, ventilasi tidak bekerja maksimal, dan udara di dalam ruangan menjadi pengap.
Sirkulasi udara yang buruk ini dapat menyebabkan udara lembap dan memicu pertumbuhan jamur di dinding maupun plafon. Dalam jangka panjang, jamur bisa menimbulkan bau apak, noda hitam, bahkan merusak lapisan cat dan struktur kayu.
Selain itu, kondisi lembap juga bisa mengundang rayap atau serangga lain yang menyukai area gelap dan basah. Bila dibiarkan, rumah bukan hanya tampak kotor, tapi juga bisa menjadi sarang hama.
Rumah Perlu 'Dihidupkan'
Untuk mencegah kerusakan pada rumah kosong, para ahli menyarankan agar rumah tetap 'dihidupkan' meski tidak ada penghuni tetap. Misalnya dengan:
- Membuka jendela dan pintu secara berkala agar udara berganti.
- Menyalakan listrik dan memeriksa instalasi air setidaknya sebulan sekali.
- Membersihkan halaman dari daun kering atau lumut yang menumpuk.
- Mengecek atap dan talang air menjelang musim hujan.
Langkah-langkah sederhana ini bisa memperpanjang usia bangunan dan menjaga kondisi rumah tetap layak huni. Jadi, benar adanya bahwa rumah yang tak dihuni cenderung cepat rusak. Bukan karena mistis atau 'angker', melainkan karena faktor seperti tidak adanya perawatan, kualitas material, dan sirkulasi udara yang buruk.
Rumah kosong tanpa perhatian ibarat mesin yang tak pernah dinyalakan, lama-lama berkarat dan tak berfungsi sebagaimana mestinya. Jika detikers memiliki rumah yang belum ditempati, pastikan tetap dirawat secara berkala agar tidak kehilangan nilai dan tetap kokoh hingga bertahun-tahun ke depan.
Simak Video "Video: Rumah Rusak Akibat Gempa Bengkulu Bertambah Jadi 140 Unit"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/aau)
