Makna dan Jadwal Hari Raya Galungan dan Kuningan 2025

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 13 Nov 2025 09:01 WIB
Ilustrasi Galungan. Foto: Andhika Prasetia
Samarinda -

Umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, memiliki tradisi spiritual yang sangat kaya dan penuh filosofi. Di antara sekian banyak hari suci, Hari Raya Galungan dan Kuningan menjadi salah satu rangkaian perayaan yang paling ditunggu.

Berdasarkan kalender Saka Bali, keduanya dirayakan setiap 210 hari sekali, menandai momen kemenangan Dharma(kebenaran) atas Adharma (kejahatan). Tahun 2025, Galungan dan Kuningan akan dirayakan dua kali, pertama pada April-Mei, dan kedua pada November.

Makna Filosofis Hari Raya Galungan

Dikutip dari Kementerian Agama RI, secara etimologis, kata 'Galungan' berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung atau menang. Hari ini diperingati sebagai kemenangan Dharma atas Adharma, sekaligus momen untuk menyatukan kekuatan spiritual dalam diri manusia.

Umat Hindu meyakini bahwa pada Hari Galungan, para leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan bagi keturunannya. Karena itu, sejak sehari sebelumnya (dikenal sebagai Penampahan Galungan) umat Hindu melakukan berbagai persiapan ritual, termasuk penyembelihan hewan sebagai simbol pengendalian diri dari sifat-sifat buruk manusia.

Ciri khas yang hadir saat Galungan adalah deretan penjor atau bambu melengkung yang dihiasi janur, hasil bumi, dan persembahan. Penjor melambangkan wujud rasa syukur ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa atas kemakmuran dan kehidupan.

Menariknya, menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan telah dirayakan sejak tahun 882 Masehi (Saka 804) pada masa Raja Sri Jaya Kesunu. Lontar tersebut menuliskan:

"Punang aci Galungan ika ngawit... tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya."

yang berarti, "Perayaan Hari Raya Galungan pertama kali berlangsung pada Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, tahun 804 Saka."

Makna dan Tradisi Hari Raya Kuningan

Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan sebagai penutup rangkaian upacara suci. Tahun 2025, Kuningan pertama jatuh pada Sabtu, 3 Mei 2025, dan Kuningan kedua pada Sabtu, 29 November 2025.

Kata 'Kuningan' berasal dari 'kuning', warna yang melambangkan kemuliaan, kesucian, dan kesejahteraan. Pada hari ini, umat Hindu memanjatkan doa dan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para Dewata, memohon keselamatan, kemakmuran, serta kebahagiaan lahir batin.

Persembahan pada Kuningan biasanya berwarna kuning yang terbuat dari nasi yang dicampur kunyit, minyak kelapa, dan daun pandan. Umat juga memasang tamiang, kolem, dan endong sebagai simbol perlindungan spiritual yang maknanya:

Tamiang melambangkan cakra Dewa Wisnu sebagai pelindung.
Kolem melambangkan senjata Dewa Mahadewa.
Endong menggambarkan kantong perbekalan para Dewata.

Uniknya, seluruh upacara Kuningan harus selesai sebelum tengah hari (pukul 12.00), karena setelah itu para Dewa diyakini telah kembali ke Swarga (kahyangan).



Simak Video "Video: Arus Balik Galungan, Lalin Denpasar-Singaraja Macet"


(aau/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork