PSIM Jogja mengungkap sudah menghabiskan miliaran rupiah untuk memoles Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul. Salah satunya adalah mendatangkan lampu dari Polandia untuk memperkuat penerangan stadion.
Manajer Operasional PSIM, Wendy Umar Seno Aji, mengatakan berdasarkan inspeksi yang dilakukan ILeague sebagai operator liga, ternyata masih ada catatan yang harus dipenuhi. Salah satunya tingkat pencahayaan stadion yang masih belum memenuhi regulasi.
"Terus ada penambahan lagi lux untuk lampunya, juga akan ditambahkan lagi. Karena hasil kemarin kita memang masih belum sesuai dengan standar yang ada di regulasi liga. Lampunya harus 1.600 lux," kata Wendy dalam konferensi pers di Pendopo Wisma PSIM Jogja, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wendy mengungkapkan lampu di SSA tergolong langka dan tidak tersedia di Indonesia. Karena itu, Laskar Mataram, julukan PSIM, mendatangkannya dari Polandia.
"Ini sudah sampai di Indonesia lampunya, karena memang lampu SSA ini tergolong langka. Di Indonesia tidak ada. Kita datangkan dari Polandia. Hari ini sudah sampai di Indonesia dan sebentar lagi sampai di Bantul untuk bisa kita rangkai lagi," ujarnya.
Benahi Rumput Lapangan
Selain pencahayaan, pembenahan lapangan juga menjadi perhatian klub. Pasalnya, kondisi lapangan sangat berpengaruh pada permainan tim.
"Kontur dan struktur lapangan sangat ditentukan oleh pola permainan Coach Jean-Paul van Gastel. Build-up dan lainnya sangat membutuhkan kondisi lapangan yang prima. Beliau sangat concern terhadap lapangan dan venue SSA. Harapan kami bisa menyajikan apa yang beliau minta," katanya.
"Per 1 Agustus rumput ini sudah bisa dimulai. Nantinya apabila kick-off kompetisi berlangsung pada September, dari vendor ahlinya menyampaikan dalam waktu sebulan kondisinya akan kembali seperti yang diinginkan Coach Jean-Paul van Gastel," lanjutnya.
Tak hanya lampu dan lapangan, PSIM juga membenahi sejumlah fasilitas pendukung pertandingan, termasuk ruang Video Assistant Referee (VAR). Nantinya fasilitas VAR di Stadion Sultan Agung akan dibuat permanen dan tidak lagi menggunakan unit bergerak.
"Ada juga pembenahan ruang VAR dan lainnya. Jadi nantinya fasilitas VAR kita sudah tidak mobil lagi, sudah jadi satu, semuanya permanen. Ruang VAR akan kita tempatkan sesuai arahan hasil inspeksi," jelasnya.
Habis Miliaran
Terpisah, Direktur Utama PSIM, Yuliana Tasno, menuturkan pihaknya harus merogoh kantong dalam-dalam untuk membenahi infrastruktur.
"Ternyata setelah masuk ke Liga 1, ini kendalanya kan memang lampu, ya. Jadi lampu ini karena harus memenuhi standar LUX tersendiri untuk kepentingan broadcast. Nah, masih udah kayak gitu, wah, ternyata kendalanya PSIM masuk ke Liga 1 nih infrastruktur harus ada single seat juga," ujar Liana, sapaan akrabnya.
"Kita budget-in tersendiri, supaya PSIM aman dan tidak kena pengurangan poin. Kalau ditanya budget-nya berapa? Itu memang besar sih, banyaklah. Miliaran pokoknya, tapi ini miliaran bukan miliar kecil, miliar lumayan, gitu, miliar gede," sambungnya.
Liana melanjutkan, seluruh infrastruktur yang dibangun PSIM di SSA Bantul adalah milik klub. Karena itu, bila skuad besutan Van Gastel itu diizinkan pindah ke Stadion Mandala Krida, maka seluruh asetnya akan ikut dipindahkan.
"Kalau misalnya mengenai angka ya itulah, miliaran besar yang sudah dikeluarkan oleh PSIM, tapi memang kita juga sudah menandatangani perjanjian kerja sama bahwasanya barang tersebut milik PSIM. Jadi kalau misalnya kita nanti balik ke Mandala, lampunya itu nanti bisa dilepas juga, vendor kita juga udah kita janjikan bahwa itu akan dikembalikan seperti sedia kala, sehingga itu bisa dibantu pemerintah kota untuk dipindahkan," terangnya.
