Menanti Janji Malioboro Ramah ke Difabel

Terpopuler Sepekan

Menanti Janji Malioboro Ramah ke Difabel

Tim detikJogja - detikJogja
Minggu, 06 Sep 2026 12:44 WIB
Salah satu portal tombak keraton di Jalan Suryatmajan, sirip Malioboro, Jogja, Sabtu (25/7/2026).
Salah satu portal 'tombak keraton' di Jalan Suryatmajan, sirip Malioboro, Jogja, Sabtu (25/7/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Pemda DIY mengakui desain portal ke sirip-sirip Jalan Malioboro masih belum ramah difabel. Pemerintah pun berjanji mengubah desain agar lebih ramah difabel.

Masalah portal di Jalan Malioboro ini mengemuka usai video lansia yang menggunakan kursi roda kesulitan untuk lewat viral di media sosial pekan ini.

Portal-portal di sirip-sirip Malioboro diketahui sudah terpasang sejak awal Juli lalu. Total 13 portal terpasang di titik akses jalan sirip-sirip Malioboro guna persiapan pemberlakuan kebijakan kawasan Malioboro Full Pedestrian pada akhir November 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemasangan portal ini guna mencegah pelanggaran lalu lintas baik dari kendaraan roda dua maupun roda empat yang kerap menerobos masuk ke koridor utama Malioboro saat jam pedestrian diberlakukan.

"(Portal) Ini uji coba. Ini baru pertama kita operasikan semuanya, kita lihat seperti apa. Kalau tidak ada uji coba, kita tidak mengetahui ada permasalahan-permasalahan apa di lapangan," kata Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Selasa (1/9/2026).

ADVERTISEMENT

Erni menyebut, salah satu persoalan yang ditemukan yakni berkaitan dengan akses pejalan kaki. Dalam kondisi tertentu, portal perlu dibuka oleh petugas agar pejalan kaki termasuk lansia maupun pengguna alat bantu mobilitas bisa melintas.

Erni mengatakan, keberadaan petugas di setiap titik Regol Ayom menjadi bagian penting dalam penerapan sistem tersebut. Petugas nantinya dapat membuka portal ketika ada pejalan kaki yang membutuhkan akses.

"Salah satu skema yang kami siapkan adalah ketika ada pejalan kaki yang membutuhkan akses, bagian tengah portal bisa dibuka," ujarnya.

"Prinsipnya tempat itu harus dijaga karena kita mengutamakan pejalan kaki," sambungnya.

Legislator Tuntut Penanganan Segera

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, mengaku cukup prihatin dengan viralnya portal yang membuat pengguna kursi roda kesulitan lewat. Apalagi Jogja menyandang kota ramah anak hingga difabel.

"Bagaimanapun juga Jogja sebagai kota ramah anak, ramah lansia, kalau sudah ada kejadian itu berarti harus ada evaluasi," kata Amir saat dihubungi detikJogja, Selasa (1/9/2026).

"Jangan sampai ada kejadian yang tidak mutu itu terulang kembali," sambungnya.

Ia mendesak penanganan segera. Menurutnya, masalah ini perubahan sistem portal harus dilakukan segera.

"Ya satu, bukan dikaji, tapi dieksekusi. Bagaimanapun juga kajiannya sudah, tapi kan ada korban lansia. Nah, kalau kami ya segera dieksekusi, dicari jalan alternatif, jangan sampai kejadian itu terulang kembali," jelasnya.

Pemda DIY Janji Ubah Desain Jadi Ramah Difabel

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemda DIY, Ni Made Dwipanti mengatakan kondisi lansia yang kesulitan melewati portal tersebut menjadi bahan evaluasi. Namun, ia memastikan tak akan ada pembongkaran portal.

"Nah, tapi kalau kemudian terjadi di lapangan ada misalnya difabel atau pedestrian yang kesulitan untuk menggunakan jalur itu, ini yang akan menjadi bagian dari teman-teman petugas yang kemudian mengatur itu," ujar Made kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).

"Bukan pembongkaran, penyesuaian sebenarnya. Penyesuaian dalam artian secara desain itu seperti apa," katanya.

Dia menekankan penyesuaian tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Sebab, akses yang nantinya dibuat untuk pengguna kursi roda jangan sampai justru dimanfaatkan kendaraan bermotor untuk menerobos kawasan pedestrian.

"Jangan sampai kemudian nanti macam-macam, akhirnya kita menginginkan pejalan kaki yang menggunakan alat bantu atau yang lain (bisa lewat), malah kemudian bentuk-bentuk lain kendaraan bermotor yang lewat. Ini kan juga menjadi bagian untuk kita lihat," ujarnya.

Made mengakui desain portal yang ada saat ini belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan pejalan kaki yang menggunakan alat bantu mobilitas. Menurutnya, akses yang disediakan sudah cukup bagi pejalan kaki secara umum, namun belum memberikan ruang yang memadai bagi pengguna kursi roda maupun alat bantu lainnya.

"Menjadi evaluasi juga, bahwa yang lewat di situ mungkin saja menggunakan alat bantu. Sehingga dia mempunyai ruang berkaitan dengan penggunaan ruang yang ada di sana. Mungkin sudah ada untuk pejalan kakinya, tapi belum dipikirkan yang menggunakan alat bantu dalam arti kursi roda dan lain-lain yang kemudian juga membutuhkan ruang yang berbeda," lanjutnya.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads