Kabupaten Gunungkidul tidak hanya memiliki wisata pantai, ada juga wisata alam yang tidak kalah indah Salah satunya adalah tracking atau berjalan kaki menyusuri taman hutan raya (Tahura) Bunder, Gunungkidul sambil melihat aneka flora dan fauna.
Kepala Tahura Bunder, Alex Zubaedi, mengatakan Tahura Bunder saat ini terbuka bagi masyarakat namun menggunakan sistem gate keeping. Secara rinci, Alex menyebut jika gate keeping ini menuntut para calon pengunjung untuk lebih terencana ketika hendak berkunjung.
"Jadi masyarakat bisa reservasi dulu atau menghubungi petugas di nomor 082138368731 untuk mendapatkan informasi kunjungan," kata Alex kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alex mengungkapkan sistem gate keeping bertujuan untuk menjaga ketenangan satwa di Tahura Bunder. Selain itu, juga untuk memastikan pengalaman pengunjung tetap berkualitas dan tenang.
"Di Tahura Bunder pengunjung bisa melakukan kamping, tracking hingga bermain air di sungai Oya yang pinggirnya bebatuan karst," ujarnya.
Sedangkan untuk tiket masuknya, setiap pengunjung dikenakan Rp 5 ribu. Sedangkan jika pengunjung hendak mendirikan tenda tarifnya hanya Rp10 ribu per tapak per malam. Selanjutnya untuk parkir hanya Rp 1 ribu, semua tarif itu akan kembali lagi untuk perawatan Tahura Bunder.
"Tenda bisa 10 lebih, ada fasilitas kamar mandi juga. Tapi kebanyakan yang ke sini biasanya kamping dan paginya melakukan tracking atau jalan kaki menyusuri Tahura Bunder dengan total jarak sekitar tiga kilometer," ucapnya.
Tahura Bunder menyuguhkan rute tracking dengan panorama Watu Sipat, Sungai Oya, dan juga penangkaran rusa. Foto diambil Selasa (2/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Alex menyebut rute tracking tersebut menyusuri jalan setapak dengan jalur yang sudah ditentukan pemandu. Adapun rute tracking adalah mengunjungi penangkaran rusa, melihat unit perlindungan satwa, menyambangi balai perbenihan hingga melihat langsung kebun kayu putih.
"Untuk pemandu dari operator kami dan bayarnya seikhlasnya," ujarnya.
Menurutnya, dengan melakukan tracking pengunjung bisa lebih mengenal flora dan fauna di Tahura Bunder. Alex juga mengungkapkan ada satu spot yang terbilang unik saat melakukan tracking.
"Yang menarik dari tracking itu nanti pengunjung bisa melihat Watu Sipat, itu adalah tempat berupa sungai kecil dengan garis di bebatuannya. Garis itu kalau ditarik lurus bisa sampai Jawa Timur," katanya.
Alex mengatakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat meminta pengelola Tahura Bunder agar betul-betul menjaga lokasi Watu Sipat. Pihak Keraton Jogja mewanti-wanti tidak boleh ada perubahan di lokasi tersebut.
"Jadi selain fisik terjaga, pengunjung juga bisa rileks karena suasana di hutan yang masih sangat alami," ujarnya.
(ams/afn)


Komentar Terbanyak
Pengirim Sapi Kurban 'TIW' ke Masjid Dekat Rumah Amien Rais dari Jakarta
Misteri Tewasnya Fotografer Keraton Jogja Sekeluarga Dalam Tenda Saat Kamping
Viral Pria Bawa Seprai Putih Disebut Pocong Mau Maling di Gunungkidul