Melihat Dunia dari Kolong Tangga Bantul

Melihat Dunia dari Kolong Tangga Bantul

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Sabtu, 21 Mar 2026 10:34 WIB
Suasana di Museum Kolong Tangga yang berlokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).
Suasana di Museum Kolong Tangga yang berlokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026). (Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja)
Bantul -

Sekitar 11 ribu mainan dari berbagai negara tersimpan rapi di Museum Kolong Tangga yang terletak di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Koleksi itu berasal dari beragam belahan dunia, mulai dari Afrika, Eropa, Amerika, hingga Asia.

Berdiri sejak 2 Februari 2008, Museum Kolong Tangga didirikan oleh seniman asal Belgia yang telah tinggal lama di Jogja, Rudi Corens. Sejak muda, Rudi memang memiliki ketertarikan besar pada dunia permainan anak.

"Pak Rudi memang punya hobi mengumpulkan mainan. Beliau juga banyak berpindah negara, jadi dari situ koleksi-koleksi mainan dari berbagai negara mulai terkumpul," kata Project Director Museum Kolong Tangga, Irma Restyana, saat ditemui detikJogja di lokasi, Senin (9/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, dari hobinya mengumpulkan mainan itu, terus beliau juga suka concern di dunia anak, terus kayak kepikiran punya ide untuk membangun sebuah museum," lanjutnya.

Irma menjelaskan koleksi yang dimiliki museum tak hanya berasal dari satu wilayah tertentu. Mainan-mainan itu datang dari berbagai negara dan mencerminkan cara anak-anak bermain di berbagai budaya.

ADVERTISEMENT

"Dari Afrika ada, dari Eropa juga banyak karena Pak Rudi sempat tinggal lama di sana. Amerika juga ada, Asia juga ada. Jadi cukup beragam negara asal koleksinya," ujarnya.

Saat ini jumlah koleksi yang dimiliki museum mencapai sekitar 11 ribu objek. Koleksi tersebut meliputi berbagai jenis mainan, mulai dari mainan tradisional, boneka, hingga dokumen yang berkaitan dengan dunia anak.

Meski memiliki koleksi yang cukup besar, tidak semua benda dapat dipamerkan sekaligus kepada publik. Keterbatasan ruang membuat museum harus menampilkan koleksi secara bergantian.

"Koleksinya sekitar 11 ribu objek, tapi memang belum semuanya bisa dipajang karena ruangnya terbatas. Jadi sebagian dipamerkan secara bergantian," jelas Irma.

Karena sebagian koleksi tergolong tua, Irma menjelaskan, perawatannya pun dilakukan secara hati-hati agar tidak rusak dimakan usia maupun perubahan cuaca.

"Merawat mainan-mainan tua itu butuh perlakuan khusus supaya tidak rusak. Apalagi sebagian koleksi usianya sudah puluhan tahun," ucapnya.

Selain menjadi tempat menyimpan koleksi, Irma menyebut, museum ini juga terbuka bagi masyarakat yang ingin melihat langsung ragam permainan anak dari berbagai negara. Pengunjung tidak hanya bisa melihat koleksi mainan, tetapi juga membaca buku di perpustakaan yang berada di area museum.

"Banyak anak-anak yang datang ke sini, biasanya rombongan sekolah. Mereka senang melihat bentuk mainan yang berbeda-beda dari berbagai negara," pungkasnya.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads