Pemandangan unik terlihat di los pedagang jamu dan obat herbal pasar Beringharjo, Kota Jogja. Di kepungan bau-bauan herbal yang menyeruak, tercium aroma nikmat biji-biji kopi yang tengah digiling menjadi bubuk.
Adalah kios kopi giling Hasanah, yang menyempil di antara blok jamu pasar Beringharjo. Awalnya, kios Hasanah juga menjual jamu dan obat herbal. Namun, kecintaan Kun Hariana akan kopi, membulatkan tekadnya untuk beralih menjual kopi.
Meski begitu, Kun tidak serta merta meninggalkan jamu yang dijualnya di kios berukuran 2,5x2,5 meter tersebut. Kisahnya ini diceritakan Muhamad Karel Ichsan, anak dari Kun, yang sering membantu ayah-ibunya menjaga kios.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Herbalnya tetep masih, tapi kebanyakan ke kopi," jelas Karel saat ditemui di lapaknya, Kamis (29/1/2026).
Karel menceritakan, kiosnya mulai menjual kopi giling sebelum pandemi COVID-19 melanda. Berawal dari kegemaran sang ayah terhadap kopi, ditambah adanya famili yang menjadi petani kopi.
"Jual kopi mulai sebelum COVID itu, 2018 ya, di sini juga. Sebelum itu jualannya obat herbal, terus bapak itu jadi meminati kopi, akhirnya jualan sekalian," papar Karel.
"Jadi bapak itu sama petani sudah kerja sama, beberapa daerah itu kerja sama, jadi beli mentahannya masih green bean kita roasting di rumah sendiri. Salah satu petani itu juga masih tante, petani di Malang," lanjutnya.
Kios kopi Hasanah di Pasar Beringharjo Jogja, Kamis (29/1/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Karel mengatakan usaha keluarga ini awalnya dimulai sederhana layaknya merintis usaha pada umumnya. Kini, puluhan jenis biji kopi robusta dan arabica dari berbagai daerah sudah tersedia di kiosnya. Para pembeli pun bisa memilih tingkat gilingan kopi mulai dari fine maupun medium.
"Tapi masih belum se-nusantara, belum terlalu komplit. Di sini ada arabica dan robusta, kalau robusta ada Temanggung, Merapi, Menoreh itu yang paling best seller. Kalau arabica ada Gayo, ada Flores, ada dari Malang juga," urainya.
"Dulu awal bapak masih nge-roasting-in ke orang dulu, sekarang roasting sendiri di rumah," sambung Karel.
Kini kopi di kios Hasanah sudah cukup dikenal dan punya pelanggan. Dalam sebulan, Karel mengaku bisa memanggang atau roasting kopi sebanyak 20 kg.
Pengunjung Beringharjo yang heterogen turut melanggengkan usaha kecil ini. Mayoritas wisatawan membeli kopi lokal yakni dari Merapi atau Menoreh.
"Di sini kebanyakan peminat kopi tuh malah 70% lebih ke pendatang yang beli ke sini pas cari oleh-oleh, kalau yang lokal tanyanya malah kopi lokal sini," terang Karel.
Untuk masalah harga, kios Hasanah terbilang terjangkau. Paling murah ada robusta Temanggung dengan harga mulai Rp 20 ribu per ons, paling mahal ada kopi luwak seharga Rp 75 ribu per ons.
Belakangan kafe-kafe juga mulai mengambil kopi bubuk atau biji kopi dari kios Hasanah. Meski tak terlalu yakin, menurut Karel, kios Hasanah masih menjadi satu-satunya penjual kopi giling di pasar Beringharjo.
"Saya belum riset lagi, tapi sepertinya iya (penjual kopi giling satu-satunya di Beringharjo). Nggak tau ke depannya," pungkas Karel.
(ams/alg)













































Komentar Terbanyak
Rismon Sianipar Kini Bilang Ijazah Jokowi-Gibran Asli, Begini Temuannya
Terungkap Alasan Alvi Tega Mutilasi Kekasih Jadi Ratusan Potong
5 Pesawat Militer AS di Pangkalan Arab Saudi Rusak Diserang Iran