Alasan Warek UNY Mendebat Mahasiswa gegara Spanduk Kritik Berujung Viral

Alasan Warek UNY Mendebat Mahasiswa gegara Spanduk Kritik Berujung Viral

Tim detikJogja - detikJogja
Minggu, 28 Jun 2026 14:01 WIB
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
Ilustrasi UNY. Foto: Dok Laman Universitas Negeri Yogyakarta
Jogja -

Wakil Rektor (Warek) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Bidang SDM dan Hukum, Siswanto, viral di media sosial lantaran berdebat dengan mahasiswa terkait spanduk. Siswanto membeberkan alasan mengapa dia sampai bereaksi seperti di medsos.

Dalam video yang diunggah di akun Instagram @gardabiru.uny, Siswanto terdengar menyebut spanduk kritik dari mahasiswa 'sampah'.

Siswanto menjelaskan, reaksinya itu muncul salah satunya karena aksi mahasiswa di rektorat tidak berizin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kemarin ada beberapa mahasiswa yang mau melakukan teatrikal di Hall Rektorat tanpa izin, padahal hall Rektorat sedang banyak mahasiswa dan orang tua setelah wisuda," ujar Siswanto, Jumat (26/6/2026).

ADVERTISEMENT

Selain itu, dia mempersoalkan substansi kritikan di mana mahasiswa mempersoalkan UNY yang membuka peluang mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengklaim mahasiswa menuduh pihak kampus punya SPPG, padahal belum ada.

"Material teatrikal mengotori lantai dan ada tulisan tidak pantas. Mereka menuduh UNY punya SPPG padahal sampai saat ini belum ada," jelas Siswanto.

Penjelasan Mahasiswa

Sementara saat dimintai konfirmasi terpisah, perwakilan Aliansi Mahasiswa UNY, Andri, menuturkan insiden tersebut terjadi pada Rabu (24/6). Andri berujar, mereka memang memanfaatkan momentum wisuda untuk menggelar aksi di gedung rektorat UNY.

"Karena wisuda kan jadi lebih banyak orang toh, sehingga ketika kita aksi itu pesan yang kita sampaikan itu bisa tersampaikan ke lebih banyak orang," tutur Andri.

"Spanduknya itu besar ya, itu sekitar 2x2 meter. Isinya tulisan 'rektor pendidikan, tidak tahu pendidikan, kampus tempat memasak pikiran, bukan tempat memasak MBG, kami mahasiswa UNY menolak SPPG'. Hanya tiga kalimat tersebut yang kami tuliskan di spanduk itu," sambungnya.

Andri melanjutkan, massa aksi berencana memasang spanduk itu di tangga rektorat. Rencananya, mereka memasang spanduknya sebentar untuk dipotret kemudian dilepas lagi. Sebab, dia menyadari aksi mereka bakal mengganggu wisuda bila terlalu lama.

Setelah memotret spanduk itu, pihaknya akan memfokuskan aksi utama untuk berorasi di depan pintu gerbang utama UNY.

"Tapi sebelum memasuki area tangga rektorat kita udah dicegat di selasar rektoratnya oleh banyak satpam dan salah satunya oleh Pak WR. Nah, kita sempat menerobos, kita mau menerobos," terang Andri.

"Di situ akhirnya dijelaskan oleh satpam, 'Mas ini nggak boleh masuk'. Terus kita tanya, 'nggak boleh masuknya kenapa?', 'Ya, dilarang', 'Dilarang oleh siapa?', 'Ya, kalian nggak perlu tahu lah', gitu," imbuhnya menirukan percakapan yang terjadi kala itu.

Massa aksi mahasiswa lantas mencoba masuk. Terjadi aksi dorong dengan pihak keamanan, hingga puncaknya adalah debat antara mahasiswa dengan Siswanto.

"Nah, mulai cekcok. Pak WR juga mengatakan, wah ini nggak bisa kalau di sini, ini kotor wah ini sampah lah, itu seperti yang video beredar di media sosial," terang Andri

"Kita sempat kaget ya, kenapa bisa dengan bahasa yang seperti itu, karena kita juga jarang menemukan bahasa-bahasa yang sampah, ini kotor di dalam aksi kita selama ini. Kita pun juga nggak menyadari kalau itu ternyata juga WR. Kita kaget aja sih. Makanya kita, khususnya saya sendiri, syok dan diam gitu, nggak bisa ngomong apa-apa," sambungnya.

Setelah kejadian itu, para mahasiswa pun menggelar aksi di depan gerbang utama UNY dengan tetap membawa spanduk tersebut.

"Di situ juga sempat tidak diperbolehkan, spanduk kita udah digulung, tapi tetep kita tetep ngeyel, dan ya akhirnya diperbolehkan juga," ujar Andri.




(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads