Rektor UMY Soroti 20% Alumni Belum Kerja: Dosen Harus Melek AI

Rektor UMY Soroti 20% Alumni Belum Kerja: Dosen Harus Melek AI

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Rabu, 19 Agu 2026 14:50 WIB
Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi saat sambutan di Baitul Arqam Dosen Tetap UMY 2026, Rabu (19/8/2026)
Rektor UMY, Prof Dr Achmad Nurmandi saat sambutan di Baitul Arqam Dosen Tetap UMY 2026, Rabu (19/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dr Achmad Nurmandi menyoroti masih adanya sekitar 20 persen alumni UMY yang belum bekerja. Kondisi tersebut menjadi evaluasi bagi perguruan tinggi untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Nurmandi mengatakan angka tersebut berdasarkan survei alumni UMY dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perubahan kebutuhan dunia kerja membuat perguruan tinggi tidak bisa hanya mengandalkan kompetensi yang sudah ada.

Hal itu disampaikan Nurmandi dalam acara Baitul Arqam Dosen Tetap UMY 2026 bertema 'Peneguhan Komitmen untuk Mewujudkan Budaya Organisasi Berkemajuan' yang digelar pada Rabu-Kamis (19/8) di UMY Student Dormitory.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkembangan saat ini menuntut kita untuk terus memperbarui pengetahuan dan memahami perubahan situasi, termasuk kebutuhan pasar kerja. Sebagai dosen, kita harus siap melakukan upskilling, meningkatkan kompetensi, dan terus belajar," kata Nurmandi dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Rabu (19/8/2026).

"Kalau kita hanya bertahan dengan kemampuan yang ada dan tidak mau berkembang, kompetensi kita bisa tidak lagi relevan," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Nurmandi, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu perubahan yang perlu diantisipasi perguruan tinggi. AI kini mulai digunakan di berbagai bidang pekerjaan sehingga kompetensi yang dibutuhkan lulusan juga ikut berubah.

Karena itu, dosen dinilai perlu memahami perkembangan teknologi sekaligus menyesuaikan metode pembelajaran dan kompetensi yang diberikan kepada mahasiswa.

Nurmandi mencontohkan lulusan bidang engineering. Menurutnya, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk membuat lulusan mampu bersaing di dunia kerja.

Berdasarkan masukan dari pengguna lulusan, kemampuan komunikasi, presentasi, dan menyampaikan gagasan juga menjadi kompetensi yang perlu diperkuat.

Sebaliknya, lulusan bidang sosial juga perlu memiliki keterampilan teknis yang lebih spesifik agar mampu memenuhi kebutuhan pekerjaan yang semakin menuntut keahlian tertentu.

"Kemampuan teknis seperti ini yang harus dibekali kepada mahasiswa. Jadi, selain mendapatkan pembelajaran melalui perkuliahan, mahasiswa juga perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, terutama pada jenjang S1," ujarnya.

"Kalau tidak dibekali dengan kemampuan tersebut, alumni kita akan kesulitan bersaing di pasar kerja," sambungnya.

Menurut Nurmandi, kondisi tersebut juga menjadi alasan UMY perlu terus mengevaluasi kurikulum dan program studi. Kurikulum tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang permanen.

Dia menilai kurikulum harus terus diperbarui mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan dunia kerja.

"Tidak mungkin kurikulum itu taken for granted. Harus direvisi tiap tahun sesuai perkembangan, terutama perkembangan AI sekarang," tegasnya.

Nurmandi menyebut banyak perusahaan sudah menggunakan AI dalam proses kerja. Karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan mahasiswa tetap memiliki kemampuan yang tidak mudah tergantikan teknologi, terutama kemampuan berpikir dan analisis.

"Banyak perusahaan sudah menggunakan AI. Jadi kita harus melihat lagi, apa yang harus diberikan kepada mahasiswa, supaya kemampuan berpikir dan analisisnya tetap kuat," jelasnya.



(apl/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads