Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tim dari Program Studi Teknik Industri UAD itu terdiri atas Fauzan Khairullah, Rizky Zeptheady Karim, Rofiq Yurdhika, Nadya Maykaysha Widodo, dan Muhamad Rafli Nadiansyah.
Dalam program tersebut, mereka mengembangkan Moodpatch, produk aromatherapy patch yang memadukan aromaterapi dengan kearifan budaya Yogyakarta. Produk ini ditujukan sebagai salah satu solusi untuk membantu mengurangi stres, khususnya di kalangan mahasiswa dan Generasi Z.
Ketua Tim Moodpatch, Fauzan Khairullah, mengaku bersyukur atas keberhasilan timnya mendapatkan pendanaan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat senang dan bersyukur karena menjadi salah satu tim dari ribuan tim di seluruh Indonesia yang diamanahi oleh Kemendiktisaintek untuk merealisasikan business plan kami," ujar Fauzan dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2026).
Ide bisnis ini berangkat dari tingginya tekanan mental yang dihadapi mahasiswa akibat padatnya aktivitas akademik dan tuntutan kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut mendorong tim untuk menghadirkan patch aromaterapi yang dipadukan dengan musik gamelan untuk memberikan efek relaksasi sekaligus mengenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda.
Moodpatch mengusung budaya Yogyakarta melalui penamaan setiap varian menggunakan tokoh pewayangan. Produk tersebut memiliki empat varian. Semar Series memiliki karakter Calm (Tentrem ing Manah) untuk memberikan efek menenangkan. Kemudian Arjuna Series dengan karakter Relax (Lega ing Rasa) untuk membantu menciptakan rasa rileks.
Selanjutnya ada Bima Series dengan karakter Focus (Teteg ing Tujuan) yang mendukung konsentrasi. Sementara Srikandi Series memiliki karakter Energy (Semangat Tanpa Wates) untuk membantu meningkatkan semangat beraktivitas.
Keempat varian tersebut dipadukan dengan harmoni musik gamelan. Tim berharap konsep itu tidak hanya memberikan pengalaman relaksasi, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia. Fauzan mengatakan Moodpatch dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia. Produk tersebut dijual dengan harga Rp 12 ribu per kemasan.
"Selain mengusung konsep budaya, Moodpatch juga dapat digunakan oleh semua kelompok usia. Produk ini tersedia dalam empat varian dengan harga yang terjangkau, yakni Rp12.000 per kemasan, sehingga diharapkan dapat diakses oleh masyarakat luas, khususnya kalangan muda," jelasnya.
Perjalanan tim hingga memperoleh pendanaan nasional diawali dengan pembentukan tim mahasiswa Teknik Industri UAD yang memiliki visi sama untuk membangun usaha. Mereka kemudian melakukan riset mengenai permasalahan yang banyak dialami mahasiswa sebelum merancang konsep Moodpatch.
Setelah memperoleh pendanaan, tim menargetkan Moodpatch dapat dipasarkan lebih luas, terutama kepada kalangan muda. Mereka juga menargetkan dapat lolos ke Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo dan mengembangkan usaha hingga mencapai tahap bertumbuh dalam program P2MW 2027.
Tim berharap Moodpatch dapat berkembang menjadi usaha berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Mereka ingin membantu mengurangi tingkat stres generasi muda sembari mengenalkan budaya lokal melalui tokoh pewayangan dan harmoni musik gamelan dalam produk yang modern dan praktis.
(akn/ega)

Komentar Terbanyak
John Wick Anjing di Bantul Mati Diracun, Pemilik Pasang Spanduk Sumpahi Pelaku
Sederet Kekejaman di Daycare Little Aresha Jogja Terungkap di Sidang
Kasus Legislator Bentak Bakul Bakmi di Gunungkidul Berakhir Damai