UMY Kena Imbas Konflik AS-Iran, Biaya Program Pengiriman Mahasiswa ke LN Melonjak

UMY Kena Imbas Konflik AS-Iran, Biaya Program Pengiriman Mahasiswa ke LN Melonjak

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Rabu, 22 Apr 2026 11:59 WIB
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat adanya penyesuaian pada program internasional, khususnya mobilitas mahasiswa ke luar negeri.
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi (kanan) dan Sekretaris UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan (kiri) saat dialog dengan awak media di Kampus UMY, Bantul, Rabu (22/4/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja.
Bantul -

Dinamika global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat-Iran mulai dirasakan dampaknya hingga ke sektor pendidikan tinggi. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat adanya penyesuaian pada program internasional, khususnya mobilitas mahasiswa ke luar negeri.

Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan bakar berdampak pada biaya transportasi internasional terkait kenaikan Avtur yang menyebabkan harga tiket pesawat naik. Hal ini turut memengaruhi pelaksanaan program pengiriman mahasiswa ke luar negeri yang selama ini menjadi prioritas kampus.

"Sekarang perang, harga tiket otomatis naik. Avtur naik, otomatis harga tiket (peswat) naik. Itu memengaruhi jumlah mahasiswa yang bisa kita kirim, karena tiket itu kita subsidi dari anggaran kampus," ujar Achmad saat sesi dialog dengan awak media di Kampus UMY, Bantul, Rabu (22/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Achmad menjelaskan, UMY sebelumnya menargetkan lebih dari 1.000 mahasiswa mengikuti program mobility ke luar negeri dalam setahun, baik dalam bentuk transfer kredit, double degree, hingga magang internasional. Namun, dengan adanya kenaikan biaya, kampus perlu melakukan penyesuaian agar program tetap berjalan secara optimal.

ADVERTISEMENT

"Kalau dulu tiket hanya sekitar Rp 1 juta, sekarang bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Itu tentu berpengaruh pada perencanaan anggaran kami," katanya.

Selain mahasiswa, Achmad menyebut, mobilitas dosen juga turut terdampak. Sejumlah agenda kerja sama internasional yang telah dirancang sebelumnya kini perlu menyesuaikan dengan perkembangan biaya perjalanan dan akomodasi.

"Dosen sudah menjadwalkan sejak setahun lalu. Tapi sekarang harga tiket dan hotel meningkat, itu sangat memengaruhi dari sisi budgeting," imbuhnya.

Di sisi lain, kondisi global tersebut tidak berdampak signifikan terhadap minat mahasiswa asing untuk menempuh studi di UMY. Sekretaris UMY, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, menyebut jumlah pendaftar justru tetap menunjukkan tren positif.

"Dari sisi pendaftar mahasiswa asing itu tidak terdampak. Bahkan mengalami peningkatan karena kami punya program full scholarship dan partial scholarship," ujarnya.

Bachtiar menambahkan, UMY menyasar mahasiswa dari berbagai kawasan, seperti Asia Selatan, Afrika Utara, hingga negara yang terdampak konflik. Program beasiswa dinilai menjadi daya tarik utama bagi calon mahasiswa internasional.

"Target market kami membidik negara-negara muslim, seperti Asia Selatan, Afrika Utara, dan sebagainya. Termasuk negara yang terdampak konflik seperti Afghanistan juga memiliki ketertarikan yang cukup besar untuk studi di UMY," ujarnya.

Meski demikian, kata Bachtiar, penyesuaian tetap dilakukan pada program kerja sama luar negeri, terutama dari sisi jumlah peserta dan durasi kegiatan.

"Kalau biasanya kirim lima orang, sekarang mungkin menjadi tiga. Durasi juga kami sesuaikan, misalnya dari satu minggu menjadi tiga hari. Jadi program tetap berjalan, tetapi lebih efisien," pungkasnya.




(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads