Ratusan warga berebut udhik-udhik yang dibagikan Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Kagungan Dalem Masjid Gedhe. Pembagian udhik-udhik ini adalah bagian prosesi Kondur Gangsa dalam rangkaian Hajad Dalem Sekaten memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pantauan detikJogja, masyarakat sudah berbondong-bondong tiba di Masjid Gedhe Keraton Jogja sejak pukul 18.00 WIB. Adapun Sultan miyos atau tiba di Masjid Gedhe sekitar pukul 20.00 WIB.
Sultan HB X lalu memulai prosesi dengan menyebar udhik-udhik atau sedekah raja kepada masyarakat yang hadir di dua tempat berbeda. Dimulai dari Pagongan Lor kemudian ke Pagongan Kidul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sultan didampingi empat orang putri dalem serta para mantu, yakni GKR Mangkubumi, GKR Bendara, KPH Purbodiningrat, dan KPH Wironegara.
"Begitu Ngarsa Dalem miyos dalem (datang) lalu ke Pagongan kidul bersama putri dalem dan mantu. Di sana membagi udhik-udhik ke wiyogo dan masyarakat. Setelah itu ke Pagongan Lor, sama membagi udhik-udhik," terang Carik Kaprajuritan, Jajar Yuda Kawindra di Masjid Gedhe, Senin (25/8) malam.
Setelahnya, Sultan masuk ke dalam area serambi masjid untuk mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.
"Setelah mendengarkan riwayat Nabi Muhammad SAW, nanti Sultan akan kembali. Diikuti dua Gamelan Sekati juga akan kembali ke Keraton," ujar Yuda.
Salah satu warga asal Muntilan, Jawa Tegah, Kanthong, menjadi satu dari sekian warga yang beruntung mendapat udhik-udhik dari raja. Ia mendapat dua keping koin Rp 500 yang bakal ia simpan.
"Ndak setiap tahun kesini, ini ndilalah (kebetulan) pengin kesini, sampai jam 19.00 tadi," terang Kanthong.
"Ini dapat dua mas, seribu. Meh disimpan Mas, ngalap berkah," sambungnya.
Setiap tahun dalam rangkaian hajad dalem Sekaten Keraton Jogja mengeluarkan dua perangkat Gamelan Kanjeng Kiai Sekati yakni Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan KK Nagawilaga dari dalam keraton.
Kedua perangkat gamelan ini akan diletakkan masing-masing di Pagongan Lor dan Kidul Masjid Gedhe. Gamelan ditabuh bergantian selama kurun waktu tertentu.
Adapun prosesi Kondur Gangsa yakni prosesi Gamelan Sekati dikembalikan ke dalam keraton selepas prosesi penyebaran udhik-udhik dan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di hadapan Ngarsa Dalem. Prosesi ini menjadi penutup Sekaten.
Prosesi Kondur Gangsa ini menjadi puncak acara yang bisa dihadiri masyarakat. Pasalnya, tahun ini tidak digelar acara rayahan gunungan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara mengatakan tidak adanya rayahan karena Dhawuh Dalem (perintah dari Sultan) yang meminta Garebeg Mulud Be 1960 digelar sederhana.
"Dhawuh Dalem terkait penyelenggaraan Garebeg masih sama, kami menerima dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari Garebeg Besar kemarin sampai sekarang Mulud juga masih dengan konsep pembagian ubarampe pareden," jelas KRT Kusumanegara.
