Tradisi Saparan Bekakak digelar di Gunung Gamping, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Sleman, hari ini. Dalam acara itu, boneka bekakak bakal dikirab kemudian disembelih. Begini cerita di baliknya.
Dukuh Gamping Tengah sekaligus Seksi Acara Saparan Bekakak, Suwandi, mengatakan rangkaian Saparan Bekakak diawali prosesi Midodareni dengan pengambilan Tirta Donojati di Petilasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat malam tadi.
Air tersebut kemudian diserahkan ke Balai Kalurahan Ambarketawang bersamaan dengan boneka bekakak. Hari ini, Jumat (17/7), Tirta Donojati dan bekakak dikirab dari Balai Kalurahan Ambarketawang menuju Gunung Gamping untuk prosesi penyembelihan bekakak yang menjadi puncak acara Saparan Bekakak.
Suwandi, mengatakan prosesi penyembelihan boneka bekakak ini berawal dari tragedi runtuhnya Gunung Gamping pada zaman dulu yang menewaskan para penambang.
"Kalau secara tujuan atau arti hakikatnya itu adalah wilujengan atau slametan warga sekitar Gunung Gamping," kata dia saat ditemui di kawasan Cagar Alam Gunung Gamping, Sleman, Kamis (16/7/2026).
Dia menjelaskan, zaman dulu sebagian besar warga Gunung Gamping bekerja sebagai penambang batu gamping.
"Pada waktu itu sering terjadi musibah, yaitu runtuhnya Gunung Gamping dan menimpa para penambang batu gamping. Sering terjadinya itu di bulan Safar," ujarnya.
Menurut Suwandi, salah satu korban longsor itu adalah Ki Wirasuta, abdi dalem yang dikasihi Sri Sultan Hamengku Buwono I. Ki Wirasuta bersama istrinya tertimbun longsor dan jasadnya tidak pernah ditemukan.
"Musibah ini menimpa salah seorang abdi dalem yang sangat dikasihi Sri Sultan Hamengku Buwono I, bernama Ki Wirasuta bersama istrinya. Jenazahnya tidak pernah ditemukan," kata dia.
Kabar meninggalnya Ki Wirasuta kemudian sampai kepada Sri Sultan HB I. Setelah memohon petunjuk kepada Tuhan, Sultan memerintahkan warga menggelar slametan setiap bulan Safar dalam bentuk bekakak.
"Sri Sultan Hamengku Buwono I dawuh kepada warga sekitar Gunung Gamping untuk mengadakan slametan di bulan Safar, tetapi dalam bentuk bekakak," jelasnya.
Suwandi mengatakan, boneka bekakak yang berbentuk sepasang pengantin itu menjadi simbol pengganti tumbal manusia.
"Yang diminta itu tumbal sepasang pengantin. Tidak mungkin seorang raja mengorbankan rakyatnya. Akhirnya digantikan dalam bentuk bekakak seperti yang ada sekarang," pungkasnya.
Simak Video "Menggelar Fashion Show Bersama Warga di Grojogan Kapuhan, Sleman"
(dil/apu)