Tanggal Berapa Malam 1 Suro 2026? Cek Jadwal dan 8 Mitosnya!

Tanggal Berapa Malam 1 Suro 2026? Cek Jadwal dan 8 Mitosnya!

Sri Wahyuni Oktafia - detikJogja
Selasa, 09 Jun 2026 09:01 WIB
Ilustrasi Malam 1 Suro
Ilustrasi Malam 1 Suro 2026 (Foto: Anirudh/Unsplash)
Jogja -

Malam 1 Suro menjadi salah satu momen yang paling dinantikan sekaligus disakralkan oleh masyarakat Jawa setiap tahunnya. Selain menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa, malam 1 Suro juga identik dengan berbagai tradisi budaya, ritual tirakatan, hingga berbagai mitos yang masih dipercaya secara turun-temurun.

Di sejumlah daerah, terutama di Jogja dan Solo, malam 1 Suro bahkan dirayakan dengan berbagai agenda budaya seperti kirab pusaka dan ritual tapa bisu yang selalu menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan. Tak heran jika peringatan malam 1 Suro selalu menjadi topik yang ramai diperbincangkan setiap tahun.

Lantas, malam 1 Suro 2026 jatuh pada tanggal berapa? Simak jadwal lengkapnya beserta 8 mitos malam 1 Suro yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keistimewaan Malam 1 Suro dan Tradisinya

Masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, tentu sudah tidak asing dengan istilah malam 1 Suro. Malam ini menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa sekaligus menjadi salah satu momen yang dianggap sakral dalam tradisi masyarakat Jawa.

Dikutip dari artikel "Tradisi Satu Suro di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam" karya Risma Aryanti dan Ashif Az Zafi, kata "Suro" berasal dari bahasa Arab Asyura, yang berarti hari kesepuluh atau tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Dalam Islam, hari Asyura memiliki keistimewaan tersendiri sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah serta menjalankan puasa sunnah Asyura.

Keistimewaan hari Asyura inilah yang menyebabkan masyarakat Jawa lebih mengenal bulan Muharram dengan sebutan bulan Asyura. Kata Asyura dalam pengucapan lidah orang Jawa menjadi "Suro" yang kemudian menjadi nama bulan pertama dalam kalender Jawa. Dikutip dari buku Horoskop Jawa: Desta (20 April-12 Mei) tulisan Suroso Aji Pamungkas, rangkaian bulan pada kalender Jawa berturut-turut yaitu Suro, Sapar, Mulud, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Ruwah, Puasa, Sawal, Hapir, dan Besar.

Bagi masyarakat Jawa, Suro tidak sekadar menandai pergantian tahun. Bulan ini juga dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta menjaga ketenangan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, sebagian masyarakat Jawa menghindari pesta atau perayaan besar selama bulan Suro.

Untuk memperingati datangnya 1 Suro, berbagai tradisi masih dilestarikan hingga kini, terutama di Jogja. Dilansir laman resmi Museum Sonobudoyo, di Keraton Jogja, rangkaian peringatan biasanya diawali dengan Jamasan Pusaka, yaitu ritual membersihkan benda-benda pusaka keraton seperti keris, kereta, dan gamelan.

Setelah itu, dilaksanakan tradisi Mubeng Beteng, yakni berjalan mengelilingi Keraton Jogja sejauh sekitar 4 kilometer tanpa alas kaki dan tanpa berbicara. Tradisi yang dikenal sebagai Tapa Bisu ini menjadi simbol perenungan dan pengendalian diri. Sebagai penutup rangkaian acara, peserta biasanya menikmati Bubur Suran, bubur gurih manis yang berisi tujuh jenis kacang sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan kehidupan yang seimbang pada tahun yang baru.

Kapan Malam 1 Suro 2026?

Malam 1 Suro merupakan malam pergantian tahun dalam kalender Jawa. Pada malam ini biasanya digelar berbagai ritual dan tradisi oleh masyarakat, mulai dari tirakatan hingga kirab budaya.

Dirujuk dari artikel "Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta" karya Yohana Maya Lalita, dalam perhitungan Jawa, malam 1 Suro dimulai sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Besar (bulan ke-12 dalam kalender Jawa) hingga terbitnya matahari pada tanggal 1 Suro sebagai awal tahun baru Jawa.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dikeluarkan Kementerian Agama, bulan Besar 1959 Dal berjumlah 30 hari dan berakhir pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian 1 Suro 1960 Ba' jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.

Namun, seperti sudah disinggung sebelumnya, malam 1 Suro dimulai saat Matahari terbenam hari terakhir Besar. Alhasil, malam 1 Suro jatuh pada Selasa malam, 16 Juni 2026.

8 Mitos Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya

Malam 1 Suro identik dengan berbagai kepercayaan dan pantangan yang diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Jawa. Sejumlah mitos ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga sekarang.

Dikutip dari artikel berjudul "Tradisi Malam 1 Suro dalam Perspektif Budaya Jawa: Studi Kasus antara Mitos dan Tradisi Spiritual di Desa Mojopahit Lampung Tengah" karya Adelia Rahma Aryanti dan "Larangan Beserta Tradisi Malam 1 Suro di Surakarta" tulisan Riskha Nadia Ayuputri, berikut beberapa mitos mengenai malam 1 Suro yang dipercaya oleh masyarakat.

1. Dilarang Keluar Rumah Pada Malam Hari

Di sejumlah daerah, terdapat kepercayaan bahwa malam 1 Suro merupakan waktu yang sakral sehingga masyarakat dianjurkan untuk tidak keluar rumah tanpa keperluan penting. Sebagian orang meyakini bahwa pelanggaran terhadap pantangan tersebut dapat mendatangkan kesialan.

Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang memilih menghabiskan malam 1 Suro dengan berdoa, berdzikir, atau berkumpul bersama keluarga di rumah. Tradisi ini juga dimaknai sebagai bentuk refleksi diri sekaligus memohon keselamatan untuk tahun yang akan datang.

2. Dilarang Berisik

Larangan membuat keributan pada malam 1 Suro berkaitan erat dengan suasana hening dan khidmat yang dijunjung dalam tradisi Jawa. Malam tersebut dianggap sebagai waktu yang tepat untuk merenung dan menenangkan diri.

Kepercayaan ini juga tercermin dalam tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng di Jogja. Dalam ritual tersebut, peserta berjalan mengelilingi keraton tanpa berbicara sepatah kata pun sebagai simbol pengendalian diri dan perenungan atas perjalanan hidup yang telah dilalui.

3. Tidak Berkata Kasar atau Buruk

Masyarakat Jawa juga mengenal pantangan untuk menjaga lisan selama malam 1 Suro. Ucapan yang kasar, menyakitkan, atau penuh amarah dihindari karena akan membawa dampak negatif bagi diri sendiri.

4. Tidak Pindah atau Membangun Rumah

Mitos lainnya adalah larangan pindah rumah atau memulai pembangunan tempat tinggal pada malam 1 Suro karena dianggap akan mendatangkan kesialan. Karena alasan tersebut, sebagian masyarakat memilih menunda rencana pindah rumah, renovasi, atau pembangunan hingga hari berikutnya atau bahkan bulan berikutnya.

5. Menghindari Konflik dan Pertengkaran

Bulan Suro juga dikenal sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk menjaga sikap, mengendalikan emosi, dan menghindari perselisihan selama memasuki bulan tersebut.

Dalam tradisi Jawa, konflik dan pertengkaran dianggap dapat mengurangi makna spiritual bulan Suro. Karena itu, banyak orang berusaha menciptakan suasana yang tenang dan damai, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Nilai-nilai tersebut masih dijaga oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.

6. Menjauhi Hal-Hal Bersifat Duniawi

Bulan Suro sering dipandang sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, berpuasa, berdoa, dan melakukan perenungan diri. Karena itu, aktivitas yang dianggap terlalu berorientasi pada kesenangan duniawi diyakini kurang sesuai dengan nilai-nilai yang melekat pada bulan tersebut. Sebagian masyarakat memilih mengurangi kegiatan hiburan atau perayaan selama bulan Suro.

7. Tidak Melakukan Perjalanan Jauh

Mitos lain yang cukup populer adalah larangan bepergian jauh pada malam atau bulan Suro. Sebagian masyarakat percaya bahwa perjalanan yang dilakukan pada waktu tersebut memiliki risiko lebih besar mengalami hambatan, kecelakaan, atau kejadian yang tidak diinginkan. Kepercayaan ini berkembang dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun dan masih dipercaya hingga saat ini.

8. Dilarang Menggelar Hajatan

Salah satu mitos yang paling dikenal terkait bulan Suro adalah larangan mengadakan hajatan besar, seperti pernikahan, khitanan, syukuran, atau pesta keluarga. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap sebagai waktu yang sakral sehingga lebih tepat digunakan untuk berdoa, bermuhasabah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Atas dasar alasan tersebut, sebagian masyarakat menghindari menggelar acara besar seperti pernikahan pada bulan Suro. Mereka meyakini bahwa hajatan yang dilaksanakan pada bulan Suro yang dianggap bulan keramat dan pamai akan membawa bencana kepada keluarga yang mengadakan acara.

Itulah penjelasan mengenai kapan malam 1 Suro diperingati pada tahun 2026 lengkap dengan mitos-mitosnya. Semoga menjawab, ya, detikers!

Artiikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads