Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X menciptakan yasan dalem enggal atau karya tari baru yakni Lampah Jantra. Karya tari yang masih prototype ini diciptakan sebagai sarana meditasi.
Lampah Jantra ditampilkan untuk pertama kalinya dalam acara Catur Sagatra 2025 di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Jumat (28/11) malam. Lampah Jantra diciptakan sejalan dengan tema acara yakni Wellness-Kalyana, Hamemayu Hayuning Bawana.
"Temanya (Catur Sagatra) tentang wellness atau kesehatan holistik, tentang olah pikir, olah jiwa, olah raga," jelas Pangarsa Pariwara Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Nyi RW Erwitakartiutami kepada detikJogja di Kompleks Kepatihan, Jumat (28/11/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasanya kalau mau menampilkan tarian yang sudah jadi itu rasanya kayak kurang pas. Dari situ lah ada Dhawuh Dalem, bagaimana Keraton creating satu cara untuk meditasi dengan caranya Keraton," sambungnya.
Dhawuh Dalem Raja
Guru Tari Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo menjelaskan, Lampah Jantra berasal dari dhawuh dalem atau perintah langsung raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Kami diperintah oleh Ngarsa Dalem untuk membuat tarian tapi tarian yang bisa dipakai untuk meditasi. Jantra itu artinya perputaran, keseimbangan, harmoni," jelas Kanjeng Sindu.
Berbeda dengan berbagai beksan agau tarian yang telah dicipta, Lampah Jantra sebagai sebuah olah raga, jiwa, dan pikiran, menggambarkan laku manusia melalui lingkar kehidupan, perjalanan sadar menuju keseimbangan lahir dan batin.
Lampah Jantra memasukkan tiga unsur utama dalam seni tari yakni Wiraga, Wirama, dan Wirasa, sebagai perwujudan meditasi.
"Walaupun sebetulnya, dalam Keraton ada meditasi tapi istilah bukan meditasi, jadi kami nyocoke aja, meditasi itu seperti apa lalu di Keraton seperti apa," papar Kanjeng Sindu.
Lampah Jantra ditampilkan untuk pertama kalinya di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Jumat (28/11) malam. Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja |
Kanjeng Sindu bilang, di dalam Keraton Jogja sebenarnya sudah ada filsafah ilmu menari klasik gaya Yogyakarta bernama Kawruh Joged Mataram. Di dalamnya berisi berbagai macam gerakan yang dimaknai sebagai gerak meditasi.
Makna Gerakan Tari Lampah Jantra
Gerakan-gerakan dalam Kawruh Joged Mataram ini lah yang menurutnya digunakan dalam Lampah Jantra. Dipadukan dengan tiga unsur Wiraga, Wirama, dan Wirasa.
"Misalnya Kawruh Joged Mataram itu kan sebenarnya meditasi, Ngotong itu mengosongkan diri, setelah mengosongkan diri lalu Sira Marikelu itu Sila tapi menunduk yang itu harus menihilkan egoisme," papar Kanjeng Sindu.
"Lalu baru Nyawiji itu menyatu dengan Tuhan yang ada pada diri kita, baru Ngenceng itu ada otot-otot yang dikencangkan. Lalu baru Greget itu energi, menggerakan. Lalu Sengguh Percaya Diri, lalu stabilitatornya disebut Ora Mingkuh," imbuhnya.
Penampilan Lampah Jantra
Lampah Jantra diperagakan oleh empat penari, dua putri dan dua putra. Dimulai dengan keluarnya penari dari Bangsal Kepatihan, dua penari putri dari pintu barat dan dua penari putra dari pintu timur. Jalan perlahan menuju pagelaran diiringi narasi makna Lampah Jantra yang dibacakan narator.
Penari masuk pagelaran dengan gerakan Lampah Ndodok atau jalan jongkok dengan memberi penghormatan dengan gerakan Sembah ke tamu undangan. Kamudian penari melakukan Lampah Ndodok masing-masing daari sisi barat dan timur perlahan berjalan hingga bertemu di tengah.
Di tengah pagelaran, empat penari melakukan Lampah Ndodok memutar diakhiri dengan Sita Marikelu dengan formasi penari putri di depan dan belakang, putra di kanan dan kiri.
Setelahnya, para penari berdiri menari gerakan khas Jogja. Gerakan yang sama dilakukan berulang kali namun dengan formasi yang berbeda-beda. Setiap berpindah formasi, dijembatani dengan gerakan jalan memutar.
Formasi Tarian
Formasi-formasi yang diperagakan antara lain formasi melintang sejajar sejajar dengan penari putra ke tengah diapit penari putri yang dilakukan bergantian. Kemudian formasi berpasangan di sisi barat dan timur, lalu formasi berdiri sejajar menghadap depan penari putra di tengah diapit penari putri.
Untuk menutup pertunjukan, penari putra perlahan mundur, setengah jongkok kemudian memberi hormat. Kemudian kembali memutar di tengah, lalu berdiri membujur sejajar dan berpisah ke barat dan timur meninggalkan pagelaran.
"Durasi 20 menit, diperagakan empat penari, dua putra, dua putri. Ndak (bukan menjadi pakem), karena ini masih prototype," ujar Kanjeng Sindu.
"Kalau kostum memakai kostum gladi resik, kalau kostum Karawitan pakai Yogyakarta Royal Orcheetra. Ndak dibikinkan kostum khusus," sambungnya.
Lampah Jantra ditampilkan untuk pertama kalinya di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Jumat (28/11) malam. Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja |
Pengiring Tari Lampah Jantra
Untuk musik pengiringnya, Pimpinan Produksi Lampah Jantra, MB Pujimatoyo menjelaskan pada dhawuh Ngarsa Dalem, Lampah Jantra diiringi dengan kesenian Cokekan dengan set Gamelan minimalis.
Uniknya, musik pengiringnya sedikit dimodifikasi dan dipadukan dengan musik klasik modern yakni kehadiran alunan string section dari Yogyakarta Royal Orchestra.
"Gamelannya itu khusus, jadi dhawuh yang kami terima itu untuk musiknya Cokekan. Jadi ada Gender, Gambang, Slentem, Rebab, Kendang, Gong, sama Kemanak. Hanya instrumen itu yang digunakan, jadi bukan Gamelan Ageng yang lengkap," ujarnya.
"Ditambah ada string section yang jumlahnya 17, kolaborasi itu bertujuan supaya busa diterima masyarakat luas. Bisa diterima istilahnya di masyarakat timur dan barat," sambung Pujimatoyo
Masih Prototype
Kanjeng Sindu menjelaskan, Lampah Jantra masih bersifat prototype. Artinya, masih akan dilakukan pengembangan-pengembangan terkait peruntukannya akan sebagai karya seni tari atau sarana meditasi.
Pengembangan yang akan dilakukan adalah menjajaki apakah Lampah Jantra bisa diperagakan perseorangan atau apakah bisa dilakukan mandiri tanpa pementasan. Hal itu merupakan kewenangan penuh Sultan HB X.
"(Proses pembuatan) satu bulan kurang lebih, jadi ini (pementasan) adalah awal, ini belum maksimal, masih prototype," ungkap Kanjeng Sindu.
"Karena sebetulnya meditasi kan bukan seni pertunjukan kan, bukan untuk ditonton, kalau ini kan masih beraroma seni pertunjukan. Nantinya mau seperti apa, ya kita tunggi Dhawuh Dalem perintah Sultan selanjutnya," pungkasnya.
Simak Video "Video: Prosesi Langka Jejak Banon di Jogja, Cuma Ada Tiap 8 Tahun!"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/apl)














































Komentar Terbanyak
Inara Rusli Akhirnya Buka Suara soal Isu Perselingkuhan, Akui Nikah Siri
Momen Inara Rusli Akhirnya Tahu Insanul Fahmi Punya Istri Usai Nikah Siri
KAI Bantah Pecat Pegawai gegara Tumbler Penumpang Hilang di KRL