Seorang perempuan asal Wonorejo 2, Gadingsari, Sanden, Bantul menceritakan jatuh bangun dalam mempertahankan produksi kuliner jadul sagon gulung. Usaha yang telah mati karena pandemi COVID-19, sedang ia coba bangkitkan lagi.
Adalah Muryati (54), perempuan berhijab ini mengatakan bahwa awalnya ia hanya membantu orang tuanya yang memproduksi sagon gulung pada tahun 1991.
Saat itu, kedua orang tuanya memasarkan sendiri sagon tersebut setelah melakukan produksi. Penjualan hanya dilakukan di pasar dekat tempat tinggalnya.
"Lalu 1997 mulai ada yang menjualkan dan pasar semakin luas, bahkan bisa 50 kilogram (bahan baku) habis sehari," katanya kepada wartawan di kediamannya, Gadingsari, Sanden, Bantul, Jumat (9/10/2026).
Akan tetapi, pandemi COVID-19 membuat produksi sagon gulung mengalami penurunan drastis. Terlebih, kedua orang tuanya sudah menua sehingga akhirnya memutuskan untuk berhenti memproduksi sagon tersebut.
"Terus ada COVID-19 itu bahan-bahan mahal dan tidak produksi. Nah, baru enam bulan ini saya produksi lagi karena ingin melanjutkan usaha turun-temurun orang tua," ujarnya.
Meski telah berhasil melanjutkan usaha turun-temurun itu, Muryati mengaku belum bisa setiap hari memproduksi sagon gulung.
Semua itu karena terbatasnya daya beli masyarakat saat ini. Ia, biasanya baru mulai produksi lagi saat jualan yang dititipkan ke toko-toko sudah habis.
"Kan pemasarannya di titipkan ke warung-warung, toko-toko, jadi harus menunggu habis dulu baru produksi lagi. Jadi saya buatnya kalau tidak ada pesanan dua kali sehari, berarti sepekan tiga kali dan kalau sebulan 12 kali," ucapnya.
Terkait omzet, Muryati enggan mengungkapkannya secara detail. Namun, Muryati mengaku hasil dari produksi dan berjualan sagon gulung belum bisa untuk hidup sehari-hari.
"Setiap produksi itu habis bahan baku 5-6 kilogram, nah sekilo itu jadi 50 biji sagon gulung. Jadi sekali produksi bisa 250-300 biji dan satunya dijual Rp 2 ribu," katanya.
Karena itu ia masih bekerja di sawah untuk mencukupi kehidupannya.
"Kalau omzet alhamdulillah bisa mencukupi, karena selain produksi sagon saya kan juga ke sawah," lanjut Muryati.
Meski begitu, Muryati bertekad tetap menggeluti produksi sagon gulung. Mengingat sagon gulung merupakan usaha turun-temurun dan termasuk jajanan jadul.
"Tantangannya itu belum banyak yang tahu sagon gulung, tapi tidak apa-apa, saya tetap terusan usaha orang tua saya," ucapnya.
Sedangkan untuk proses produksi sagon gulung, Muryati menyebut cukup sederhana. Begitu pula dengan bahan bakunya, yakni parutan kelapa, tepung beras ketan dan gula jawa.
"Proses pembuatannya, tepung beras ketan digiling, hasilnya yang kasar untuk campuran parutan kelapa dan yang lembut buat kulitnya yang putih-putih itu. Lalu tepung beras ketan sama parutan kelapa dicampur dan dikukus, setelah itu digongso sama gula jawa dan adonan itu dibalur kulit tepung yang sudah digoreng," ujarnya.
Simak Video "Video K-Talk: Transformasi Bocah Baby Shark yang Debut Jadi Idol K-Pop"
(afn/alg)