Para pelaku usaha online yang selama ini berbisnis dari balik layar ponsel kini masuk radar Sensus Ekonomi 2026. Dalam Sensus Ekonomi 2026 di Jogja, petugas akan mendatangi setiap rumah untuk mencari usaha yang tak terlihat dari luar.
Hal itu disampaikan Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi. Strategi sensus door to door atau dari rumah ke rumah dilakukan berdasarkan hasil uji coba sensus ekonomi yang dilakukan sebelumnya.
"Kami sudah, sebelum Sensus Ekonomi ini berjalan, tahun lalu kami melakukan yang namanya gladi bersih, uji coba Sensus Ekonomi. Dan ternyata banyak sekali usaha dilakukan di dalam rumah, usahanya online penjualannya, itu tidak terdeteksi sama sekali. Jadi pas kita tanya secara detail ke rumah-rumah baru tahu," ungkap Sonny saat ditemui di kawasan Malioboro, Kota Jogja, Kamis (18/6/2026).
Sonny mengaku pernah menemukan seorang mahasiswa semester satu yang memperoleh keuntungan jutaan rupiah setiap bulan dari usaha jual beli pakaian bekas secara daring.
"Kita pikir kan rumah, oh ini enggak ada aktivitas usaha, biasa saja. Tapi ternyata begitu kita masuk, saya bahkan pernah ketemu seorang TikToker, dia jualan thrifting baju. Dia masih mahasiswa semester 1, untungnya per bulan Rp 9 juta," tuturnya.
Dalam sensus itu, kata Sonny, petugas akan menempel stiker BPS untuk rumah yang sudah didatangi petugas. Hal tersebut akan memudahkan melacak rumah-rumah yang belum disensus.
"Door to door. Kami akan datangi semua rumah. Makanya kalau pelaku usaha ditempel stiker, kalau rumah ke rumah itu juga nanti ditempel stiker. Jadi kalau teman-teman media ada yang melihat rumah belum ditempel stiker, itu artinya belum didatangi petugas atau masih menolak menerima petugas," tuturnya.
Selain itu, dalam Sensus Ekonomi 2026 petugas juga akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI. AI juga digunakan untuk mendeteksi data yang tidak wajar saat proses pendataan berlangsung.
"Jadi salah satu yang sangat penting di dalam sensus ekonomi adalah klasifikasi, kode klasifikasi. Dia berada di sektor, subsektor apa. Jadi ada namanya KBLI, Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia. Nah, kita enggak boleh salah tuh masukkan itu. Jadi misalkan, pedagang, pedagang mainan, mainan apa, kayak gitu. Jadi detail gitu ya," katanya.
"Nah, makanya ketika dia meng-entry masukkan kode KBLI, itu AI akan ngecek apakah betul atau salah kode yang dia berikan. Nah, kalau salah, diminta untuk diulangi lagi. Jadi, banyak yang kami gunakan untuk mencoba melakukan filter ya, supaya kualitas datanya lebih baik," tutupnya.
Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"
(dil/apl)