Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso tutup usia di rumahnya di Mantrijeron, Jogja, kemarin sore. Wafatnya seniman teater yang naik daun lewat sitkom 'Mbangun Deso' pada era 90'an ini terbilang mengejutkan bagi keluarganya.
"Kemarin sore itu masih ada, masih nemui tamu. Terus tadi malam katanya beli bakmi, sambat sininya sakit, dada kiri," kata kakak ipar Susilo, Hesti, saat ditemui di rumah duka, Senin (21/9/2026) malam.
"Biasanya malam itu siram-siram (menyiram halaman), terus nyapu," sambungnya.
Keponakan Susilo, Uri, mengatakan Susilo ditemukan meninggal sore tadi di tempat tidurnya. Ia mengetahui hal itu saat dipanggil oleh istri Susilo.
"Saya datang Ibu kok nangis, kok cerita, 'Iki Om Sus deloken toh Ri, kok sikile kok anyep banget (Ini Om Sus, kok kakinya dingin sekali)', terus saya (mencoba membangunkan), 'Om Sus', tapi nggak berani mbalikke (membalikkan tubuhnya). Posisinya tidur menyamping, tidur miring gitu," ujar Uri.
Uri kemudian mendatangi mantri untuk memeriksa Susilo. Mantri pun datang dan memeriksa Susilo, kemudian mengonfirmasi bahwa Susilo sudah meninggal.
"Pak Eko ke sini, 'ini sudah nggak ada. Ini sudah kaku, sudah lama ini kemungkinan'," kata Uri menirukan ucapan mantri.
Dimakamkan Sore Ini di TPU Krapyak
Rencananya, jenazah Susilo alias Den Baguse Ngarso akan dimakamkan sore ini. Pemakaman akan digelar di TPU Krapyak, Sewon, Bantul.
"Informasi sementara akan dimakamkan di Makam Krapyak, itu tempat makam keluarga, jamnya jam 4 sore," ujar Kakak Susilo, Sukanti.
Berdasarkan informasi yang diperoleh detikJogja, pada siang harinya atau pukul 12.00 WIB, akan dilangsungkan ibadah penghiburan dan pelepasan jenazah di rumah duka.
Tentang Den Baguse Ngarso
Bagi generasi 90-an, serial sitkom Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Jogja tentu tak asing di telinga. Salah satu tokoh yang paling membekas ialah Den Baguse Ngarso, karakter antagonis yang angkuh, haus jabatan, namun kerap mengundang tawa.
Di balik karakter itu, ada sosok Susilo Nugroho. Peran Den Baguse Ngarso yang dimainkannya selama bertahun-tahun membuat namanya dikenal luas. Meski demikian, Susilo tak pernah bercita-cita menjadi seniman, apalagi artis.
"Kalau dibilang menyeriusi (seni), angel ya. Kalau senang, iya. Saya senang. Tapi kalau menyeriusi, saya orangnya nggak pernah konsisten," ujar Susilo saat ditemui di kediamannya di Mantrijeron, Jumat (24/7/2026).
"Zaman saya itu kegiatan anak-anak menjelang remaja sampai dewasa ya dua, olahraga sama kesenian. Pulang sekolah ya dolan. Dolannya olahraga atau kesenian. Bukan karena mau jadi atlet atau pelaku seni, memang dolannya begitu," imbuhnya.
Dari kebiasaan itulah ia mulai mengenal dunia drama. Ia tampil dari panggung-panggung kampung, bergabung dengan berbagai kelompok teater, hingga akhirnya ikut mendirikan Teater Gandrik pada era 1980-an.
"Saya itu enggak sekolah seni, enggak kuliah seni. Nek ditakoni teori ya ora ngerti. Ya cuma senang saja terus ikut," ucapnya.
Meski namanya kemudian identik dengan dunia seni peran, Susilo mengaku tak pernah merasa harus mengejar popularitas.
"Kalau orang bilang nama saya besar karena seni peran ya monggo. Tapi saya enggak pernah merasa harus mempertahankan nama besar itu. Wong saya cuma senang kok," ungkapnya.
"Dulu kalau dibilang seniman rasanya kok kebesaran. Dibilang artis juga bukan. Saya ya pelaku seni saja, senang kesenian, titik. Saya enggak pernah punya target harus punya banyak penggemar atau karya hebat," lanjutnya.
Awal Bergabung di Mbangun Deso
Perjalanan Susilo menuju Mbangun Deso pun sebenarnya tak direncanakan. Kesempatan itu datang ketika ia masih aktif bermain drama dan ketoprak yang direkam di studio TVRI Yogyakarta.
Di lokasi itulah ia bertemu dengan salah satu pengelola program Mbangun Deso. Menurut Susilo, saat itu acara tersebut mulai ditinggalkan penonton karena terlalu banyak berisi materi penyuluhan dari berbagai dinas.
"Acara Mbangun Desa waktu itu sudah tidak disenangi penonton. Padahal televisi baru satu, cuma TVRI," katanya.
Melihat kondisi itu, Susilo memberanikan diri menyampaikan pendapat kepada pengelola program. Menurutnya, materi penyuluhan sebaiknya dipersingkat, sementara unsur cerita dan humor diperbanyak agar masyarakat lebih tertarik menonton.
"Saya bilang, penyuluhannya dikurangi, disederhanakan saja. Terus ceritanya, guyonannya ditambah. Jadi orang itu nonton pertunjukan, bukan cuma teori," ujarnya.
Alih-alih menolak usul tersebut, pihak TVRI justru menantangnya untuk membuktikan idenya.
"Mereka bilang, 'Ya kamu saja yang buat'," kenangnya.
Tantangan itu diterima. Bersama rekannya, Susilo mulai menyusun naskah baru. Mereka mengubah Mbangun Deso menjadi drama komedi pendek yang tetap memuat pesan penyuluhan, tetapi dikemas lebih ringan dan menghibur.
"Isinya sinetron pendek, ada unsur humornya, tapi tetap disisipi penyuluhan sesuai dinas yang meminta," ujarnya.
Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"
(dil/apu)