Siapa Penyemprot Cairan Merica Sasar Mahasiswa-Polisi Saat Aksi di Jensud Jogja?

Round-Up

Siapa Penyemprot Cairan Merica Sasar Mahasiswa-Polisi Saat Aksi di Jensud Jogja?

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 04 Sep 2026 05:02 WIB
Aksi massa di Jogja
Aksi massa di Jogja. Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja
Jogja -

Kericuhan saat aksi mahasiswa di simpang Jalan Jenderal Sudirman (Jensud) diwarnai penyemprotan cairan merica. Penyemprotan itu diduga dilakukan seorang pria yang mengenakan rompi Jaga Warga.

Akibat aksi pria tersebut, baik mahasiswa maupun dari pihak kepolisian menjadi korban. Belum diketahui secara pasti siapa sosok pria yang membawa semprotan merica tersebut.


Mahasiswa Jadi Korban

Ketua Umum serikat mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa Syafitra, mengaku jadi korban semprotan cairan merica saat aksi di simpang Jendral Sudirman, Gondokusuman, Selasa (1/9) malam berubah menjadi ricuh. Video saat dirinya kena cairan itu viral di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam video yang diunggah akun Instagram @mantapfunny tersebut terlihat seorang massa aksi berpakaian putih berada di tengah kerumunan massa. Tiba-tiba seorang pria berrompi Jaga Warga menghampiri dan langsung menyemprotkan cairan ke wajah massa aksi itu.

Usai menyemprot, pria tersebut langsung menyingkir seketika. Sedangkan massa aksi berpakaian putih langsung memegangi wajahnya seperti kesakitan.

ADVERTISEMENT

Mesa mengaku massa aksi berpakaian putih yang terkena semprotan adalah dirinya. Menurutnya, cairan yang disemprotkan ke wajahnya ada cairan merica.

"Saya menggunakan baju putih itu, berjalan mundur sembari memastikan tidak ada kawan yang tertinggal/tersandra. Namun, seseorang menggunakan vest jaga warga menyemprot merica ke wajah saya," ujar Mesa saat dihubungi, Kamis (3/9/2026).

"Kawan-kawan medis sigap membantu saya. Sayangnya, para penyelamat itu justru di-framing sebagai perusuh oleh Polda DIY," sambungnya.


Pelaku Berompi Jaga Warga

Jaga warga sendiri merupakan lembaga kemasyarakatan berbasis kearifan lokal di DIY yang dibentuk untuk menjaga keamanan, ketenteraman, ketertiban, dan kesejahteraan sosial di tingkat padukuhan, Rukun Warga (RW) atau kampung.

Secara operasional, kelembagaan dan pembinaan Jagawarga difasilitasi secara resmi oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DIY.

Dimintai konfirmasi mengenai video penyemprotan tersebut, Kepala Satpol PP DIY, Bagas Senoadji mengaku belum memastikan apakah pria penyemprot cairan itu benar anggota Jaga Warga.

"Iya, gitu, belum, saya belum bisa memastikan apakah itu anggota Jaga Warga asli atau hanya sekedar memakai rompi. Ya kan ada juga kan masyarakat yang ngaku-ngaku pakai baju Polri, ngaku pakai petugas kepolisian kan banyak," ujarnya saat dihubungi, hari ini.

"Bisa jadi kan ada yang mungkin orang lain pakai (rompi Jaga Warga) ya gitu lo," sambung Bagas.

Meski begitu, Bagas menegaskan pihaknya tetap akan menelusuri pria memakai rompi Jaga Warga dalam video tersebut.

"Kami akan lakukan penelusuran. Ya dicek ya keberadaannya itu. Kalau memang iya dia mohon maaf ya umpamanya itu memang benar anggota Jaga Warga, ya akan kami lakukan pembinaan," papar Bagas.

"Ya jadi jangan sampai nanti ada kejadian ini berulang kembali. Karena kan tugasnya Jaga Warga itu kan untuk menjaga situasi yang kondusif, bukan malah membuat situasi tidak kondusif," pungkasnya.

7 Personel Polda Kena Cairan Merica

Selain dari kalangan mahasiswa, Polda DIY menyebut anggotanya juga terkena cairan merica saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di simpang Jendral Sudirman, Gondokusuman, Selasa (1/9) malam. Tercatat ada tujuh polisi yang terkena cairan merica tersebut.

Hal itu disampaikan Polda DIY melalui akun Instagram resminya @poldajogja lewat tayangan video singkat. Video tersebut diberi keterangan 'Fakta Lapangan: Temuan Cairan Merica dan Penanganan Personil'.

Dalam video tersebut tampak Polda DIY terus menyoroti adanya tabung semprot berwarna jingga yang dibawa salah satu massa aksi. Bahkan, pada benda tersebut diberi lingkaran merah dalam video tersebut.

"Kami juga menyampaikan bahwa terdapat personil kami dari jajaran Polresta Yogyakarta yang terkena semprotan diduga merupakan cairan merica," ujar Kabid Humas Polda Jogja Kombes Ihsan dalam video tersebut, dilihat detikJogja, Kamis (3/9).

Dalam keterangan unggahan tersebut menyebut 7 anggota kepolisian terkena cairan merica yang diduga berasal dari tabung semprot oranye tersebut.

"Berdasarkan rekaman visual dan bukti digital di lokasi, didapati adanya penggunaan tabung berisi cairan diduga merica atau spicy spray dari arah kerumunan massa saat terjadi gesekan akibat kesalahpahaman terkait penutupan jalan dengan warga setempat dalam aksi unjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa UGM, Selasa 1 September 2026," tulis keterangan dalam unggahan itu.

"Akibat insiden tersebut, sebanyak 7 personel Polresta Yogyakarta mengalami gangguan kesehatan berupa sesak napas serta iritasi kemerahan pada kulit wajah akibat terpapar cairan tersebut," sambungnya.

Mahasiswa Bantah Pernyataan Polda

Terkait dengan unggahan dari Polda DIY tersebut banyak komentar yang menyebut pernyataan polisi tidak sesuai fakta di lapangan. Ketua Umum serikat mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa Syafitra, menjelaskan isi dari tabung jingga yang dituding Polda DIY berisi cairan merica. Menurutnya, tabung semprot tersebut milik tim medis yang isinya justru penangkal cairan merica.

"Pertama, saya sangat menyayangkan klaim tersebut. Sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan ketika institusi keamanan negara gagal membedakan antara cairan obat maag pelindung lambung dengan senjata kimia pelumpuh," papar Mesa saat diminta konfirmasi.

"Kedua, secara ilmiah dan pada praktiknya di seluruh dunia, cairan antasida seperti Mylanta yang dilarutkan air adalah protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata," sambungnya.

"Mengingatkan 'bahaya dari manipulasi opini yang dilakukan oleh Polda DIY'. Efek dari video tersebut sangat fatal di media sosial. Ketika klaim keliru bahwa 'Mylanta adalah semprotan merica' disebarkan oleh akun centang biru milik kepolisian," ujarnya.

Ia menilai unggahan itu bersifat framing atau pembingkaian opini.

"Video itu seketika menjadi alat legitimasi bagi netizen untuk membenarkan represifitas aparat dan menstigma tim medis kemanusiaan mahasiswa. Ini adalah bentuk pembingkaian opini (framing) yang berbahaya," tegas Mesa.

Penjelasan Polda DIY

Menanggapi penjelasan dari Sema UGM tersebut, Kabid Humas Polda Jogja Kombes Ihsan justru menyebut pihaknya belum mengamankan tabung semprot jingga yang disebut di unggahan Polda DIY berisi cairan merica.

"Kami sangat menghormati dan menampung klarifikasi informasi dari rekan-rekan mahasiswa," ujar Ihsan saat dimintai konfirmasi melalui pesan singkat, hari ini.

"Perlu kami sampaikan terkait isi tabung, karena pada saat aksi belum sempat diamankan oleh petugas akibat situasi di lapangan yang sangat dinamis, maka sejak awal narasi resmi kami menggunakan diksi 'DIDUGA' demi mengedepankan asas praduga tak bersalah," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads